Mufdil’s Weblog


Menyikapi Fenomena Gempa Bumi Di Indonesia
Oktober 13, 2013, 5:27 am
Filed under: Karya Ilmiah

Menyikapi Fenomena Gempa Bumi Di Indonesia
(Pendekatan Sains dan Alquran)
Oleh: Mufdil Tuhri

 

Pendahuluan

Peristiwa gempa bumi yang menimpa Padang pada 30 September 2009 telah merenggut ribuan korban jiwa. Peristiwa tersebut kembali mengingatkan kita pada fenomena yang sama yang menimpa Aceh dan Sumatera Utara 5 tahun sebelumnya, tepatnya 26 Desember 2004 yaitu gempa bumi dahsyat disertai dengan tsunami yang mengakibatkan ratusan ribu orang tewas dan menimbulkan dampak yang amat besar, bukan saja dari segi fisik dan material, bahkan juga psikis-spiritual. Dua peristiwa tersebut merupakan sedikit contoh dari fenomena gempa bumi yang kerap melanda Indonesia dalam beberapa dekade terakhir.

Berdasarkan ilmu kebumian, seluruh wilayah Indonesia memiliki potensi gempa kecuali Kalimantan, yang merupakan satu-satunya daerah bebas gempa dangkal. Para ahli kebumia telah mengetahui bahwa bumi ini terbagi menjadi lempeng-lempeng (plate) tektonik, yang saling bergerak denga kecepatan 5-10 cm/tahun. Di Indonesia terdapat 3 lempeng besar yang saling berinteraksi, yaitu lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik. Interaksi ini menghasilkan serangkaian gunung api aktif yang dikenal dengan “Ring of Fire” (cincin api). Pergesekan atau tubrukan antar lempeng tersebutlah yang menghasilkan gempa. Jalur gempa bumi di Indonesia pun selaras dengan cincin api ini. Jalur gempa melingkari sebelah selatan Indonesia sejajar dengan Kepulauan Mentawai dan Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, kemudian berbelok di Laut Banda hingga Halmahera.

Berbagai pendekatan dilakukan dalam upaya menemukan pemahaman yang tepat dalam menyikapi fenomena gempa bumi di negeri kita ini. Berbagai macam pendapat yang menjelaskan fenomena gempa bumi ini dapat kita temukan dalam beberapa teori yang dikemukan oleh para pakar khususnya dalam ilmu geografi yang secara khusus membahas tentang ilmu bumi terkait erat dengan gempa bumi ini sebagaimana penulis telah jelaskan sebelumnya. Sementara itu, apabila kita kaitkan dengan pemahaman Islam tentang fenomena gempa bumi ini, maka kita tidak boleh hanya menyikapi fenomena ini pada sisi religius dengan mengatakan bahwa fenomena alam termasuk gempa bumi adalah takdir yang telah ditetapkan oleh Allah swt semata. Namun, apabila kita mengkaji secara mendalam maka, akan ditemukan sekian banyak penjelasan didalam Alquran tentang bumi dan fenomena-fenomena yang terkait dengannya, tidak terkecuali dengan teori tentang gempa bumi ini.

Alquran telah menyebutkan fenomena gempa yang termasuk dalam bencana dalam banyak ayat. Kita harus memadukan pemahaman sains dan Alquran agar menghasilkan pemahaman terbaik tentang fenomena gempa bumi di Indonesia ini. Makalah ini akan menggali perspektif Alquran dalam upaya menangkap pesan Alquran dibalik fenomena gempa bumi. Penelitian ini tidak akan menjelaskan secara detail tentang proses terjadinya gempa bumi berdasarkan tinjauan Alquran karena hal tersebut akan lebih tepat apabila kita merujuk langsung kepada berbagai teori tentang terjadinya gempa bumi dalam disiplin ilmu terkait. Oleh karena itu, makalah ini akan menjelaskan secara sekilas tentang isyarat ilmiah Alquran tentang gempa bumi dan upaya menyikapi fenomena gempa bumi dalam perspektif Alquran.

Gempa Bumi dan Ayat-ayat Alquran

          Pada dasarnya, Didalam Alquran tidak ditemukan secara tepat istilah yang bermakna gempa, karena istilah ini merupakan kosa kata baru yang merujuk pada suatu bentuk kejadian atau fenomena alam. Kata ini juga merupakan istilah yang diambil dari bahasa Indonesia. Ahmad Warson Munawwir, seorang penulis kamus Al-Munawwir sebagaimana penulis rujuk setidaknya menggunakan beberapa istilah yaitu zalzala[1] (goncang), rajafa[2] (goncang), rajja[3] (goyang) dan dakka [4](roboh).

          Beberapa ayat dalam Alquran tentang gempa yang termasuk dalam bencana yang telah dijelaskan oleh Allah SWT dapat ditemukan dalam beberapa tempat di dalam Alquran. Secara tersirat, terdapat suatu ayat dalam surat Al-An’am ayat 65 yang artinya Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kaki kamu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran kami silih berganti agar mereka memahami. Al-Razi ketika menafsirkan ayat 65 dalam surat al-An’am ini,  mengatakan bahwa azab yang dimaksud dengan min tahti arjulikum (dari bawah kaki kamu) adalah rajfah yang artinya gempa, seperti gempa yang menenggelamkan Qarun.[5]

            Selanjutnya, secara tersurat, terdapat ungkapan kata al-rajfah yang berarti goncangan ditemukan didalam Alquran surat al-A’raf ayat 155 yang artinya dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Maka ketika mereka diguncang gempa bumi, Musa berkata: “Ya Tuhanku, kalau Engkau menghendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkau yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya. Di dalam surat al-Ankabut ayat 37 yang artinya Maka, mereka mendustakan Syu’aib, lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat, dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka. Berkaitan dengan dua terakhir ayat yang dikutip diatas yaitu yang terdapat dalam dalam surat al-A’raf ayat 155 disebutkan falamma akazathum al-rajfah (maka ketika mereka diguncang gempa bumi), dan surah al-Ankabut ayat 37 faakhazathum al-rajfah (lalu mereka ditima gempa yang dahsyat), As-Suyuti menegaskan bahwa al-rajfah dalam kedua ayat yang terakhir disebut di atas dipahami sebagai al-zalzalah al-syadidah (bentuk goncangan yang sangat dahsyat).[6]

Apabila dilihat dari ketiga ayat yang penulis kutip diatas yaitu surat al-An’am ayat 65, surat al-A’raf ayat 155 dan surat al-Ankabut ayat 37 di atas, telah jelas bahwa Alquran telah menyinggung adanya gempa bumi sebagai suatu bentuk fenomena alam yang alamiah terjadi sejak berabad-abad yang lalu. Ayat-ayat tersebut di atas secara khusus menjelaskan bentuk bencana yang ditimpakan oleh Allah Swt dalam bentuk gempa bumi yang dahsyat sebagai balasan atas perilaku umat-umat terdahulu. Konteks tiga ayat di atas masing-masing bercerita tentang Qarun si penumpuk harta yang durhaka kepada Allah, kaum nabi Musa yang menyembah sapi dan membangkang perintah menyembah Allah semata, dan terakhir, bercerita tentang  azab bagi kaum Madyan atas keenganannya untuk mengikuti dakwah nabi Syu’aib dalam bentuk gempa bumi yang dahsyat.

Gempa Bumi Dalam Pandangan Islam

Dalam pandangan Islam, gempa bumi kebanyakannya dikaitkan dengan perbuatan serta tingkah laku manusia. Antara perilaku manusia yang dapat mengakibatkan gempa bumi ialah pertama, ingkar kepada Allah. Apabila kita merujuk kepada Alquran dan Hadith Nabi s.a.w terdapat banyak perihal kisah umat yang terdahulu ingkar terhadap seruan dakwah yang disampaikan oleh nabi dan rasul utusan Allah. Lantara itu, Allah telah menurunkan azab siksaan yang berbentuk getaran gempa terhadap sebahagian umat yang telah diutuskan nabi dan rasul tersebut. Firman Allah s.w.t dalam surat al-Ankabut ayat 37 yang artinya Maka mereka mendustakannya, lalu mereka dibinasakan oleh gempa bumi, serta menjadilah mereka mayat-mayat yang tersungkur di tempat tinggal masing-masing. Pada ayat tersebut jelas menunjukkan bahwa Allah menurunkan balasan kepada kaum Nabi Syu’aib yang tidak menghiraukan seruan dakwah yang telah disampaikan kepada mereka sehingga mereka menerima azab dariAllah s.w.t atas perbuatan yang dilakukan oleh mereka.

Kedua, tanda-tanda akan terjadinya kiamat. Kejadian gempa bumi yang berlaku merupakan salah satu isyarat akan terjadinya hari kiamat. Di dalam firman Allah s.w.t pada surat al-Zalzalah ayat 1 yang artinya Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan yang sedahsyat-dahsyatnya dan surat al-Hajj ayat 23 yang artinya sesungguhnya gempa pada hari kiamat itu suatu perkara yang amat besar. Pada dua ayat ini, dapat dipahami bahwa kejadian gempa bumi kerap terjadi menjadi tanda akan terjadinya hari kiamat. Tanda-tanda tersebut sekaligus menjad peringatan kepada seluruh umat manusia supaya mereka segera kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya.

          Ketiga, ujian terhadap keimanan seorang hamba. Seorang hamba kepada Maha penciptanya tidak pernah terlepas dari ujian dan cobaan dari Allah s.w.t., pelbagai bentuk ujian dan cobaan yang datang dari Allah s.wt. kepada hamba-Nya merupakan bentuk ujian keimanan setiap hambanya. Dalam hal ini, Allah s.w.t. berfirman yang artinya patutkah manusia menyangka bahwa mereka akan dibiarkan dan  berkata “Kami beriman”, sementara mereka belum diuji (dengan suatu cobaan). Justru, ujian dan cobaan yang diberikan adakalanya berbentuk kesenangan, dan ada masanya berbentuk kesusahan. Diantara bentuk ujian tersebut adalah bencana gempa bumi. Tujuannya supaya sekiranya bencana tersebut menimpa hamba yang beriman, maka mereka akan menerimanya dengan ikhlas dan ridha serta akan meningkatkan lagi tingkatan keimanan dan ketaqwaanya kepada Allah s.w.t.. Apabila bencana tersebut menimpa hamba yang melakukan perkara yang dilarang serta meninggalkan perintah Allah s.w.t. maka mereka akan segera bertaubat dan kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya.

Menyikapi Fenomena Gempa Bumi dalam Perspektif Alquran

          Gempa bumi dalam Alquran seringkali diidentikkan dengan sebuah bentuk peringatan, cobaan atau ujian bagi manusia atas dosa atau kesalahan yang dilakukan oleh manusia itu sendiri, dengan kata lain tidak akan ada gempa jika manusia tidak melakukan sesuatu yang tidak disenangi oleh Rasul, Nabi dan Tuhan-Nya. Disinilah upaya menyikapi berbagai bentuk peringatan tersebut sebagai suatu musibah.

Musibah pada hakikatnya merupakan takdir Allah yang sesuai dengan sunnah-sunnah yang diletakkan-Nya pada hukum alam. Esensi manusia di alam ini merupakan bagian darinya, sehingga manusia tidak dapat melepaskan dari segala peristiwa yang terjadi di alam. Berbagai peristiwa alam seperti gempa bumi, badai, gunung meletus, banjir dan lainnya, merupakan peristiwa alam yang dapat mendatangkan berbagai problem hidup bagi manusia seperti wabah, penyakit, kelaparan, kematian, dan lain sebagainya. Namun, karena manusia oleh Allah telah diberikan suatu kemampuan untuk berikhtiar menentukan pilihan yang terbaik untuk kemaslahatan diri dan lingkungannya. Dengan kemampuannya itu, manusia bisa memilih apakah ia akan tetap diam membiarkan dirinya hancur oleh peristiwa alam dan dampaknya, atau berusaha mencegah atau menghindari peristiwa alam dan dampaknya, atau berusaha mencegah atau menghindari peristiwa alam dan dampaknya tersebut.

Musibah berarti mengenai atau menimpa.[7] M. Quraish Shihah mengatakan bahwa bisa saja yang mengenai itu adalah sesuatu yang menyenangkan, tetapi bila Alquran menggunakan kata musibah maka itu, berarti sesuatu yang tidak menyenangkan yang menimpa manusia. Al-Kirmani, Ibnu Hajar al-Asqalani menyatakan bahwa, musibah menurut hukum adat berarti suatu yang menimpa manusia yang secara khusus hal tersebut dibencinya.[8] Sementara itu, dalam pandangan Afif Abdullah, musibah tidak selamanya dapat diartikan sebagai alamat murka Allah. Sebagaimana halnya dengan nikmat, tidak selamanya sebagai pertanda mendapat keridhaan Allah. Musibah dan nikmat keduanya merupakan sunnatullah terhadap makhluk-Nya.[9] Dalam hemat penulis, dapat disimpulkan bahwa secara spesifik, musibah merupakan bentuk dari seluruh peristiwa tidak menyenangkan yang menimpa manusia.

Musibah yang menimpa manusia kebanyakan berbentuk peringatan atau perbuatan-perbuatan yang telah dilakukannya, karena bentuk musibah ini sifatnya umum. Bisa menimpa mukmin, orang munafik, maupun orang kafir. untuk menghadapi musibah, yang pertama kali harus dilakukan adalah bertaubat dengan sebenar-benarnya, kamudian berusaha memperbaiki kesalahan yang pernah diperbuat, bila musibah itu merupakan akibat dari pelanggaran atas hukum syara’. Apabila musibah itu merupakan akibat dari kelalaian dan ketidaktahuannya dalam memahami dan memperhitungkan hukum alam seperti sakit, maka ia dianjurkan untuk mengobati sakit itu dengan pergi ke dokter. Semua usaha perbaikan itu harus dilakukan dengan penuh kesabaran dan kesadaran. Musibah yang berbentuk ujian atau cobaan khusus menimpa orang-orang beriman. Kadar cobaan yang diderita sesuai dengan kadar keimannya seseorang. Bila kadarnya tinggi, maka cobaan yang dideritanya pun akan lebih berat, dan sebaliknya.[10]

Islam telah menggariskan panduan yang berhubungan dengan cara menghadapi bencana yang terbaik. Sehubungan dengan itu, setiap umat Islam perlu mengetahui panduan dalam berhadapan dengan pelbagai bencana khususnya bencana alam gempa bumi. Upaya yang paling utama adalah muhasabah diri dan memperbaiki kelemahan serta memohon keampunan kepada Allah s.w.t. atas segala kesalahan yang telah dilakukan. Kesadaran diri ini merupakan hal yang penting, karena Alquran telah menjelaskan bahwa kemungkinan musibah yang menimpa seseorang tertentu merupakan bentuk dari kekhilafan dan kesalahan diri pribadi itu sendiri. Allah secara tegas mengungkapkan hal ini dalam firmannya surat an-Nisa ayat 79 yang artinya apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu manjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan Cukuplah Allah menjadi saksi.

            Disamping itu, hendaklah menerima kejadian bencana ini dengan berlapang dada serta sabar menerima ujian yang diberikan terhadapnya. Tuntunan ini selaras dengan firman Allah s.w.t. dalam surat Luqman ayat 17 yang artinya dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah s.w.t. Dalam hal ini, sifat berputus asa hendaklah dihindarkan. Karena sikap ini justru akan menyebabkan seseorang yang menerima musibah seperti bencana gempa bumi akan patah semangat untuk meneruskan kehidupan mereka. Apabila sikap ini tidak dibendung dengan segera akan membawa seseorang itu kepada kekafiran. Perkara ini juga turut diperingatkan oleh Allah s.w.t. di dalam Alquran. Sebagaimana terdapat dalam Surat Yusuf ayat 87 yang artinya dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah serta pertolongan Allah. Sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.   Seorang hamba yang beriman hendaklah meletakkan harapan hanya kepada Allah s.w.t. serta meletakkan keyakinan hanya kepada-Nya, karena hanya Allah s.w.t. saja tempat untuk memohon bantuan dan pertolongan serta perlindungan.

Seorang yang tertimpa bencana seperti ini juga seharusnya perlu memandang hikmah yang diciptakan Allah di sebalik musibah yang dihadapinya. Hikmah yang dapat diberi perhatian daripada bencana gempa bumi ini ialah dapat memberi kesadaran kepada semua lapisan masyarakat baik yang tertimpa bencana maupun yang tidak tertimpa bencana. Karena, pada lazimnya apabila sseorang ditimpa suatu musibah maka dia akan segera kembali ingat kepada Allah s.w.t. selain itu, kejadian bencana ini juga dapat menyuntik kesadaran kepada manusia supaya tidak melakukan kerusakan di muka bumi Allah ini. Mereka juga perlu menyadari bahwa perbuatan buruk yang dilakukan akan mendatangkan implikasi negatif dan bisa mendatangkan bahaya serta ancaman kepada mereka.

Penutup

Berdasarkan pada penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa fenomena gempa bumi dapat dijelaskan dalam dua perspektif kajian yaitu sains dan Alquran. Upaya untuk memadukan kedua pendekatan tersebut penting, karena pemahaman tentang proses terjadinya gempa bumi sebagaimana dijelaskan di dalam sains penting sebagai landasan dalam upaya menyikapi terjadinya gempa bumi di Indonesia. Sementara itu, dalam Alquran istilah gempa merujuk kepada beberapa kata seperti istilah yaitu zalzala (goncang), rajafa (goncang), rajja (goyang) dan dakka (roboh). Adanya ungkapan dan peristilahan tersebut sebagaimana dijelaskan di dalam Alquran menunjukkan bahwa Alquran telah berbicara tentang gempa bumi.

Islam telah menggariskan panduan yang berhubungan dengan cara menghadapi bencana yang terbaik. Upaya yang paling utama adalah muhasabah diri dan memperbaiki kelemahan serta memohon keampunan kepada Allah s.w.t. atas segala kesalahan yang telah dilakukan, menerima kejadian bencana ini dengan berlapang dada serta sabar menerima ujian yang diberikan terhadapnya, dan seorang yang tertimpa bencana seperti ini juga seharusnya perlu memandang hikmah yang diciptakan Allah di sebalik musibah yang dihadapinya.

 

 

 

 


                [1] Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir; Kamus Arab-Indonesia (Yogyakarta: Pustaka Progresif, 1997), 579

[2] Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir, 477

                [3] Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir, 474

                [4] Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir, 414

                [5] Fakhruddin al-Razi, Mafatih al-Ghaib, (Maktabah Syamilah)

                [6] Jalaluddin as-Suyuti dan Jalaluddin al-Mahalli, Tafsir Jalalain (Maktabah Syamilah)

                [7] Muhammad Quraish Shihab, Membumikan Alquran Jilid 2 (Jakarta: Lentera Hati, 2001), 772

                [8] Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari (ttp: al-Maktabah al-Salafiyah, tt) Juz X, 104-105

                [9] Afif Abdullah Tabarrah, 277-278

                [10] Yusuf Qaradhawi, Iman dan Kehidupan, terj, Fachruddin HS (Bandung: Bulan Bintang, 1993), 104-105.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: