Mufdil’s Weblog


Konsepsi Pendidikan Karakter dalam Membentuk Insan Muslim yang berkualitas (Tinjauan Surah al-Isra’ ayat 23)
Oktober 3, 2013, 5:00 am
Filed under: Karya Ilmiah

Konsepsi Pendidikan Karakter dalam Membentuk Insan Muslim yang berkualitas (Tinjauan Surah al-Isra’ ayat 23)
Oleh: Mufdil Tuhri

  • Pendahuluan

Dewasa ini, Pembicaraan tentang aspek moralitas menjadi hangat dibicarakan khususnya dalam dunia pendidikan. Banyak yang mengatakan bahwa masalah terbesar yang dihadapi bangsa Indonesia terletak pada aspek moral. Terbukti dengan banyaknya berita tentang tawuran pelajar, kasus-kasus narkoba, pembunuhan, pemerkosaan,  hingga kasus korupsi yang merajalela dari tingkat elite hingga level yang paling bawah sekalipun.

Kenyataan yang demikian menunjukkan bahwa dunia pendidikan harus memberi peran penting dalam menangkal dekadensi moral bangsa dalam upaya menyiapkan generasi muda masa depan yang lebih baik. Terkait hal ini, disadari bahwa tujuan pendidikan pada dasarnya adalah memperbaiki moral dalam istilah lain dikenal dengan memanusiakan manusia.

Belakangan, muncul gagasan akan pentingnya pendidikan karakter sebagai solusi menjawab permasalahan moral dalam dunia pendidikan di Indonesia. Pendidikan karakter merupakan bagian dari pendidikan nilai (values education) melalui sekolah. Kedepan, sekolah tidak hanya bertanggung jawab dalam mencetak peserta didik yang unggul dalam ilmu penggetahuan dan teknologi tetapi juga dalam diri, karakter dan kepribadian. Kerenanya, mencari konsep pendidikan karakter menjadi sangat urgen dalam upaya menyiapkan anak didik yang unggul, beriman, profesional dan berkepribadian sebagaimana dituntut dalam tujuan pendidikan.

Seorang anak dalam mencari nilai-nilai hidup, harus mendapat bimbingan sepenuhnya dari pendidik, karena menurut ajaran Islam, saat anak dilahirkan dalam keadaan lemah dan suci/fitrah, dan alam disekitarnyalah yang akan memberi corak warna terhadap nilai hidup atas pendidikan seorang anak, khususnya pendidikan karakter.Karena itu Islam sangat memperhatikan masalah pendidikan terhadap anak dan memberikan konsep secara kongkrit yang terdapat dalam al-Quran dan penjelasan Rasulullah SAW yang ada dalam hadits.

Didalam al-Quran terdapat ayat didalam Surah al-Isra ayat 23 yang spesifik menjelaskan tentang pendidikan karakter bagi anak. Dari sini penulis akan mencoba menguraikan perspektif al-Quran tentang pendidikan karakter dalam upaya membentuk insan muslim yang berkualitas.

  • Memahami Pendidikan Anak dan Pendidikan Karakter Perspektif al-Quran
    • Pendidikan Anak Perspektif al-Quran

Untuk memahami sub judul di atas, perlu dijelaskan secara singkat mengenai anak dan pendidikan. Dalam Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, pada Bab 1 pasal 1 ayat 1 dinyatakan bahwa anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang dalam kandungan.

Istilah pendidikan yang umum digunakan dalam bahasa arab berkisar pada tiga kata, yaitu: al-Tarbiyah, al-Ta’lim, dan al-Ta’dib. Baik al-Tarbiyah, al-Ta’lim maupun al-Ta’dib merujuk kepada Allah. Tarbiyah dipahami sebagai kata bentukan dari kata rabb atau rabba yang mangacu kepada Allah sebagai Rabb al-Alamin yang mengandung makna memelihara, membesarkan, dan mendidik yang didalamnya sudah termasuk al-Ta’lim. Sedangkan ta’lim sendiri berasa dari kata ‘allama yang menunjuk kepada Allah sebagai Zat Yang Maha Alim. Selanjutnya al-Ta’dib seperti termuat dalam pernyataan Rasulullah SAW addabani Rabby Faahsana Ta’diby, yang memperjelas bahwa sumber utama pendidikan adalah Allah SWT. (H. Jalaluddin, 2003:73)

Dalam al-Quran, ada sekitar 972 kata rabb dalam berbagai bentuknya, yang tersebar dihampir semua surah dalam al-Quran yang pada umumnya hubungan dengan kata benda (isim), yang dapat diartikan sebagai pemelihara,  pendidik, dan membesarkan. (Muhammad Fu’ad Abd al-Baqy, 1991:362-379) Berangkat dari pengertian ini, maka tarbiyah dapat didefinisikan sebagai proses bimbingan terhadap potensi manusia (jasmani, ruh dan akal) secara maksimal agar dapat menjadi bekal dalam menghadapi kehidupan dan masa depan (H. Jalaluddin, 2003:72).

M. Quraish Shihab menggambarkan bahwa kata rabb menggambarkan Tuhan dengan sifat-sifat-Nya (sifat-sifat fi’il-Nya). Dia Allah Rabbun dalam arti dia mendidik, dia memelihara, pendidikan dan pemeliharaannya itu antara lain dengan menganugerahkan rezeki, mencurahkan rahmat, mengampuni dosa, namun sekaligus menyiksa dalam rangka pemeliharaan dan pendidikan-Nya. Dalam bentuk kata benda, kata rabba  ini digunakan juga untuk Tuhan”, mungkin karena Tuhan Juga bersifat mendidik, mengasuh, memelihara, malah mencipta. (Zakiyah Daradjat, 2006: 26)

Dengan demikian, maka kata rabb  bisa mengandung dua pengertian, bisa berarti Tuhan dan juga bisa diartikan sebagai pendidik, pemelihara, pengasuh. Namun kedua pengertian tersebut bisa dipadukan dengan menempatkan kata mendidik, mengasuh, memelihara sebagai sifat Tuhan.

Selain kata rabb, kata yang sinonim dengan kata itu adalah kata ta’lim. Zakiyah Daradjat mengatakan bahwa kata ta’lim, berarti pengajaran. Kata ta’lim dengan kata kerjanya allama, juga sudah digunakan pada zaman Nabi baik dalam al-Quran, hadits atau pemakaian sehari-hari. Dalam al-Quran, kata alllama diulangi sebanyak 4 kali, yakni pada surah al-Baqarah ayat 31, al-Rahman ayat 2, dan al-Alaq ayat 4 dan 5. (Muhammad Fuad Abd al-Baqy,1991:603) Kata ini lebih banyak digunakan daripada kata tarbiyah tadi. Dari segi bahasa, perbedaan arti kedua kata itu cukup jelas.

Kata allama dalam al-Quran terdapat dalam surah al-Baqarah: 31 وَعَلَّمَ آَدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا (Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama (benda-benda) seluruhnya), menurut Quraish Shihab, ayat ini menginformasikan bahwa manusia dianugerahi Allah SWT potensi untuk mengetahui. Dia juga dianugerahi potensi untuk berbahasa. Pada kedua ayat tersebut, kata allama mengandung pengertian sekedar memberitahu atau memberi pengetahuan, tidak berarti pembinaan kepribadian.  (M. Quraish Shihab, 2009:176-177) ungkapan yang sama ditemukan dalam ayat 16 surah An-Naml:

وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُودَ وَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ وَأُوتِينَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِينُ

Artinya: Dan Sulaiman telah mewarisi daud dan dia berkata: “Hai manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu karunia yang nyata”.

Oleh karena itu, kata tarbiyah lebih luas, karena di samping memberi pengajaran dan pengetahuan, juga membina kepribadian seseorang.

Selain kedua kata tersebut, yang memiliki persamaan pengertian adalah kata addaba yang berarti memberi adam, mendidik.(Mahmud Yunus, 1973:37) kata ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW, yang artinya: Tuhanku telah mendidikku, maka ia sempurnakan pendidikanku

Dengan demikian, maka baik al-Tarbiyah, al-Ta’lim mampun al-Ta’dib, merujuk kepada Allah. Tarbiyah yang merupakan bentukan dari kata rabbun atau rabba, mengacu kepada Allah sebagai Rabbul ‘Alamin, sedangkan kata ta’lim  yang berasal dari kata ta’lim yang berasal dari kata allama juga merujuk kepada Allah sebagai Dzat yang Maha Alim. Selanjutnya ta’dib  seperti termuat dalam hadits Rasulullah SAW, Addabany Rabby faahsana ta’diby memperjelas bahwa sumber utama pendidikan adalah Allah SWT. (H. Jalaluddin, 2003:28)

Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut diatas, maka pendidikan anak menurut al-Quran adalah bimbingan, pemeliharaan, pembinaan, pengasuhan terhadap potensi yang dimiliki oleh anak, agar ia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal untuk mencapai tujuan pendidikan yang sesuai dengan ajaran (konsep) Al-Quran.

 

  • Al-Quran sebagai Sumber Utama Pendidikan Karakter dalam Islam

Istilah karakter secara harfiah berasal dari bahasa Latin “Charakter”, yang antara lain berarti: watak, tabiat, sifat-sifat kejiwaan, budi pekerti, kepribadian atau akhlak. Sedangkan secara istilah, karakter diartikan sebagai sifat manusia pada umumnya di mana manusia mempunyai banyak sifat yang tergantung dari faktor kehidupannya sendiri.(Zubaedi, 2011:19)

Karakter dapat juga diartikan sama dengan akhlak dan budi pekerti, sehingga karakter bangsa identik dengan akhlak bangsa atau budi pekerti bangsa. Bangsa yang berkarakter adalah bangsa yang berakhlak dan berbudi pekerti, sebaliknya bangsa yang tidak berkarakter adalah bangsa yang tidak atau kurang berakhlak atau tidak memiliki standar norma dan perilaku yang baik. Dengan demikian, pendidikan karakter adalah usaha yang sungguh-sungguh untuk memahami, membentuk, memupuk nilai-nilai etika, baik untuk diri sendiri maupun untuk semua warga masyarakat atau warga negara secara keseluruhan. (Zubaedi, 2011:19)

Sebagai agama yang lengkap, Islam seudah memiliki aturan yang jelas tentang pendidikan akhlak ini. Didalam al-Quran akan ditemukan banyak sekali pokok-pokok pembicaraan tentang akhlak atau karakter ini. Seperti perintah untuk berbuat baik (ihsan), dan kebajikan (al-birr), menepati janji (al-wafa), sabar, jujur, takut kepada Allah SWT, bersedekah di jalan Allah, berbuat adil, pemaaf dalam banyak ayat didalam al-Quran. Kesemuanya itu merupakan prinsip-prinsip dan nilai karakter mulia yang harus dimiliki oleh setiap pribadi muslim.

Implementasi pendidikan karakter dalam Islam, tersimpul dalam karakter pribadi Rasulullah SAW. Dalam pribadi Rasul, tersemai nilai-nilai akhlak yang mulia dan agung.

Dalam surah al-Qalam ayat 4 dijelaskan:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Artinya: Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

Sementara itu, dalam surat al-Ahzab ayat 21 dijelaskan:

 لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Artinya: “Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.

Sesungguhnya Rasulullah adalah contoh serta teladan bagi umat manusia yang mengajarkan serta menanamkan nilai-nilai karakter yang mulia kepada umatnya. Sebaik-baik manusia adalah yang baik karakter atau akhlaknya dan manusia yang sempurna adalah yang memiliki akhlak al-karimah, karena ia merupakan cerminan iman yang sempurna.

Dalam Islam, karakter atau akhlak mempunyai kedudukan penting dan dianggap mempunyai fungsi yang vital dalam memandu kehidupan masyarakat. Sebagaimana firman Allah SWT di dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 90 sebagai berikut:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ  وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”.

Ayat diatas menjelaskan tentang perintah Allah yang menyuruh manusia agar berbuat adil, yaitu menunaikan kadar kewajiban berbuat baik dan terbaik, berbuat kasih sayang pada ciptaan-Nya dengan bersilaturrahmi pada mereka serta menjauhkan diri dari berbagai bentuk perbuatan buruk yang menyakiti sesama dan merugikan orang lain.

Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa ajaran Islam serta pendidikan karakter mulia yang harus diteladani agar manusia yang hidup sesuai denga tuntunan syari’at, yang bertujuan untuk kemaslahatan serta kebahagiaan umat manusiaIslam merupakan agama yang sempurna, sehingga tiap ajaran yang ada dalam Islam memiliki dasar pemikiran, begitu pula dengan pendidikan karakter. Adapun yang menjadi dasar pendidikan karakter atau akhlak adalah al-Qur’an dan al-Hadits, dengan kata lain dasar-dasar yang lain senantiasa di kembalikan kepada al-Qur’an dan al-Hadits. Di antara ayat Al-qur’an yang menjadi dasar pendidikan karakter adalah berfirman didalam al-Quran surah al-Isra’ ayat 23-24 yang berbunyi:

 وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

      Ayat ini merupakan salah satu ayat yang memuat materi pendidikan yang harus ditanamkan dalam lingkungan keluarga. Perintah Allah yang termaktub didalam ayat ini mencakup bidang pendidikan karakter (akhlak) berupa Aqidah, ibadah dan akhlak yang harus terbina bagi seorang anak. Demikian juga peran serta orang tua dalam memberikan bimbingan moral dan keluhuran dalam upaya membentuk insan muslim yang berkualitas.

  • Upaya membentuk Insan Muslim berkualitas melalui pendidikan karakter (TinjauanTafsir surah al-Isra’ ayat 23)
    • Menjadikan Identitas Keimanan Sebagai Fundamen Utama dalam Keluarga.

Pesan pertama yang terambil dari surat al-Isra ayat 23 adalah perintah untuk menyembah Allah SWT. Sebagaimana dalam firman-Nya وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ (Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia), Asy-Sya’rawi, ketika menafsirkan ayat ini mengatakan bahwa makna qadha yakni hakama (menghukum) karena seorang Qadhi (hakim) ialah orang yang menghukum. Disamping itu, ia juga diartikan amara yakni memerintah. (Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi, tp.th: 8449)

      Dalam penggalan ayat ini, Allah menegaskan tentang hakikat iman yaitu tauhid dan menafikan serikat bagi-Nya. Tidak ada Tuhan selain Dia yang berhak disembah dan bagi siapa menyekutukan Allah maka, ia telah tergolong ke dalam syirik kepada-Nya.

Allah SWT berfirman dalam surah al-‘Araf ayat 172 sebagai berikut:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آَدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ (172)

Artinya:  Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): bukankah Aku ini Tuhanmu/ mereka menjawab: Betul (Engkau tuhan KAmi), kami menjadi saksi, (Kami lakukan demikian itu) agar dihari kiamat kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya kami bani Adam telah lalai terhadap hal yang demikian ini.

Al-Maraghi dalam Tafsirnya menegaskan bahwa Allah SWT telah menjadikan dalam tiap diri pribadi umat manusia berupa fitrah keislaman yang disebut gharizah imaniy (naluri keimanan) dan melekat didalam hati senubari mereka. Sehingga, potensi beriman kepada Allah telah terlebih dahulu tertanam dalam diri manusia dan baik buruknya pribadi manusia tersebut tergantung upaya untuk mengembangkan potensi ketuhanan itu. (Muhammad Mustafa al-Maraghi, tth:103)

Jika pendidikan anak jauh dari akidah Islam, lepas dari ajaran religius dan tidak berhubungan dengan Allah, maka tidak diragukan lagi bahwa anak akan tumbuh dewasa diatas kefasikan, penyimpangan, kesesatan, dan kekafiran. Bahkan ia akan mengikuti nafsu dan bisikan-bisikan setan, sesuai dengan tabiat, fisik, keinginan dan tuntutannya yang rendah.

Dari sini, jelaslah bahwa yang menjadi fundamen utama yang harus terbina dalam lingkungan keluarga adalah prinsip tauhid. Hal ini dianggap sebagai prasyarat utama dalam pendidikan karakter bagi anak oleh orang tuanya asebagai identitas keimanan yang harus ditanamkan sejak dini.

  • Memberikan Keteladanan

Allah SWT dalam ayat ini menjadikan Rasullullah SAW sebagai lawan bicara-Nya sebagaimana firman Allah وَقَضَى رَبُّكَ  (dan Tuhanmu telah memerintahkan…). Hal tersebut mengindikasikan bahwa dialah (Rasulullah SAW) yang telah mencapai level tertinggi sebagai teladan utama dalam pendidikan dan etika. Karena sesungguhnya Allah SWT sendiri yang secara langsung mendidiknya sebagaimana dalam sebuah ungkapan:

وأدبه أحسن تأديبا

Artinya; Dialah (Allah) yang telah mendidiknya (Rasulullah) dengan sebaik-baiknya

            Lebih lanjut, Firman Allah dalam surah al-Ahzab ayat 21:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Artinya: sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik.

Dalam menafsirkan ayat ini, al-Zamakhsyari dalam Quraish Shihab mengemukakan maksud keteladanan pada diri Rasulullah. Pertama dalam arti kepribadian beliau secara totalitas adalah keteladanan. kedua dalam arti terdapat dalam kepribadian beliau hal-hal yang patut dilteladani. (Muhammad Qurasih Shihab, 2009:439).

Dalam proses perkembangan anak, terdapat suatu fase yang dikenal dengan fase imitasi. pada fase ini, seorang anak selalu meniru dan mencontoh orang-orang dewasa di sekitarnya, terutama orang tuanya atau gurunya. Metode Keteladanan ini sangat cocok diterapkan pada fase ini. Dalam pendidikan, pendidik (orang tua dan guru) tidak cukup hanya dengan memberi nasehat dalam arti menyeluruh, tetapi seharusnya memberikan keteladanan, misalnya menyuruh anak ke mesjid, sementara ia tidak pernah ke mesjid. tidak satunya kata dan perbuatan, menjadikan orang tua/guru tidak memiliki wibawaa sebagai pendidik, dan menjadikan anak bingung, karena apa yang dilihatnya tidak sesuai dengan apa yang didengarnya.

  • Membiasakan anak untuk Konsisten dalam beribadah dan beramal sholeh sedini mungkin

Konsekwensi dari perintah Allah untuk menyembah semata-mata hanya kepada-Nya adalah konsistensi seseorang untuk menunaikan ibadah dan beramal sholeh.

Salah satu bentuk pendidikan ibadah yang harus ditanamkan kepada seorang anak sejak dini adalah perintah shalat serta amal-amal kebajikan yang tercemin dalam amar ma’ruf dan nahi mungkar juga nasihat berupa perisai yang membantengi seseorang dari kegagalan yakni sabar dan tabah.

Dalam Surah Lukman ayat 17 Allah SWT berfirman:

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ (17)

Artinya: Hai Anakku, dirikanlah shalat dan serulah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Ayat ini tidak hanya menggarisbawahi pentingnya materi ibadah sebagai suatu hal pokok yang harus ditanamkan sejak dini kepada anak, akan tetapi seorang anak harus juga diberi arahan sejak awal tentang urgensi mengerjakan kebaikan dan memerangi kejahatan. Hal ini diisyaratkan dari perintah untuk amar ma’ruf  nahi munkar. Menurut al-Maraghi yang dimaksud dengan al-Ma’ruf adalah ma istahsanahu al-Syar’ wa al-Aql (sesuatu yang dipandang baik menurut agama dan akal). Sedangkan al-Munkar  adalah dhidduhu (Lawan atau kebalikan dari yang ma’ruf). (Muhammad Mustafa al-Maraghi, 21) . Dalam pada itu, Muhammad Abduh mengatakan fa al-amr bil ma’ruf wa al-nahy ‘an al-munkar huffadz al-jama’ah wa siyaj al-wahdah (amar ma’ruf nahi munkar adalah benteng pemelihara umat dan pangkal timbulnya persatuan). (Muhammad Abduh, tth:26)

Dua hal tersebut yakni, upaya untuk membiasakan anak dengan ibadah dan menjaga dirinya dengan mengedepankan prinsip amar ma’ruf nahi munkar dapat dikatakan sebagai fundamen dalam rangka membentuk kepribadian anak yang berkarakter sejak dini.

  • Menumbuhkembangkan Kesadaran tentang Prinsip-Prinsip dan Dasar-Dasar Akhlak.

Allah SWT berfirman dalam ayat ke 23 surat al-Isra’, وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا  (…dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya…) Perintah untuk menyembah Allah SWT dalam banyak ayat didalam al-Quran senantiasa diringi dengan perintah untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Hal ini dikarenakan bahwa kedua orang tua adalah sebab hakiki lahirnya seorang pribadi manusia ke dunia ini setelah terlebih dahulu Allah SWT menciptakannya. (Wahbah Zuhailiy, tth:th)

Dalam surat Lukman ayat 14 Allah berfirman:

 أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Artinya: …Bersyukurlah kepadaku dan kepada kedua orangtuamu, dan kepadakulah tempat kembali

Wahbah Zuhailiy ketika memaknai maksud dari ungkapan syukur kepada kedua orang tua sebagaimana ayat ini adalah anak dituntut berbuat baik kepada kedua orang tua disebabkan orang tua telah berbuat ihsan kepada anak; mengandung selama sembilan bulan, memberikan kasih sayang dan perhatian sejak dari proses kelahiran hingga dewasa. (Wahbah Zuhaily, tth:th)

  • Menanamkan Sikap, Perilaku, dan Tutur Kata yang Mulia Kepada Anak.

Dalam hal ini, Allah SWT berfirman:

إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Artinya: Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

      Kondisi lemah anak yang masih kecil dalam asuhan orang tua sama halnya dengan kondisi orang tua yang telah tua renta dalam asuhan anak. Ketika Allah mewajibkan anak untuk berbuat baik kepada orang tua sebagai balasan orang tua yang telah memperlakukan anak dengan baik dan susah payah ketika anak kecil, maka secara otomatis orang tua juga dituntut hal yang sama yakni memperlakukan anak dengan baik; tidak bersikap yang menunjukkan kebosanan dan kejemuan secara lisan maupun bahasa tubuh.

Memperhatikan aspek psikologis anak dapat diwujudkan dengan sikap dan perkataan. Allah mewajibkan anak untuk berkata lemah lembut dan tidak menghardik orang tua ketika mereka telah pikun karena orang tua telah berlaku sabar, bersikap lembut dan tidak menghardik anak. Dengan demikian orang tua juga dituntut untuk lemah lembut dalam perkataan dan tidak menghardik anak. Anak kecil yang belum bisa berpikir rasional dan logis sama halnya seperti orang tua yang telah pikun. Anak kecil tentunya akan merasa senang dengan dunianya. Misalnya anak kecil mempermainkan kotorannya sendiri yang menurut daya nalar anak apa yang dilakukannya tersebut baik dan menyenangkan. Meskipun hal demikian belum tentu logis dan baik menurut pemikiran orang dewasa. Dalam hal ini orang tua perlu bersikap sabar.

Qaulan karima merupakan perkataan yang baik, lembut dan memiliki unsur menghargai bukan menghakimi. Dengan demikian anak akan bisa menilai kadar keperdulian orang tua terhadap dirinya melalui perkataan yang didengarnya. Di samping memberikan dampak secara psikologis, qaul karim juga menjadi acuan bagi anak untuk mengikuti pola yang serupa. Sebagai konsekuensinya anak berbicara dengan perkataan yang baik kepada orang tua sehingga akan terjalin ikatan emosional antara anak dan orang tua.

Perkataan kasar dan caci maki, sebagai kebalikan dari pendapat di atas, akan membuat anak terbiasa dengan kata-kata tersebut. Terbiasa di sini dimaksudkan bahwa ketika orang tua melontarkan cacian kepada anak sebagai tanda marah, anak tidak akan menghiraukan lagi. (Imam Ghazali, 1992: 178). Dan membentak anak sekalipun ia masih sangat kecil, berarti penghinaan dan celaan terhadap kepribadiannya sesuai kepekaan jiwanya. Dampak negatif ini tumbuh dan berkembang hingga menghancurkan kepribadian dan mengubah manusia menjadi ahli maksiat dan penjahat yang tidak lagi peduli dengan perbuatan dosa dan haram.

Dengan demikian orang tua dalam usaha mendidik dan mengarahkan anak berusaha untuk memposisikan diri pada sudut pandang anak yang masih kecil tersebut kalau tidak akan selalu terjadi ketegangan. Dan sebagai konsekuensinya perkataan tidak baik akan ditangkap oleh anak.

  • Penutup

      Berdasarkan kepada penjelasan diatas maka, dapat disimpulkan hal-hal berikut ini:

  • Terdapat tiga kata dalam bahasa arab yang merujuk kepada istilah pendidikan , yaitu: al-Tarbiyah, al-Ta’lim, dan al-Ta’dib. baik al-Tarbiyah, al-Ta’lim maupun al-Ta’dib merujuk kepada Allah
  • Pendidikan anak menurut al-Quran adalah bimbingan, pemeliharaan, pembinaan, pengasuhan terhadap potensi yang dimiliki oleh anak, agar ia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal untuk mencapai tujuan pendidikan yang sesuai dengan ajaran (konsep) Al-Quran.
  • Dasar pendidikan karakter atau akhlak adalah al-Qur’an dan al-Hadits, dengan kata lain dasar-dasar yang lain senantiasa di kembalikan kepada al-Qur’an dan al-Hadits.
  • Upaya membentuk Insan Muslim berkualitas melalui pendidikan karakter meliputi: Menjadikan Identitas keimanan sebagai fundamen utama dalam keluarga, memberikan keteladanan, membiasakan anak untuk Konsisten dalam beribadah dan beramal sholeh sedini mungkin, memberikan pelajaran akan pentingnya pendidikan akhlak bagi anak, dan membangun hubungan emosional orang tua  dengan anak secara baik.


Daftar Pustaka

Abduh, Muhammad, Tafsir al-Manar, Juz IV, (Mesir: tp, th)

Al-Baqy, Muhammad Fuad Abd,   al-Mu’jamu al-Mufahras li alfadz al-Quran        al-Karim, (Beirut: Dar al-Ma’arif, 1991)

Daradjat, Zakiyah, Ilmu Pendidikan Islam, Cet. VI, (Jakarta: Bumi Aksara,            2006)

Istadi, Irawati,  Mendidik Dengan Cinta, (Jakarta: Pustaka Inti, 2003)

Jalaluddin, Teologi Pendidikan, Cet. III,  (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,       2003)

Mazhahiri, Pintar Mendidik Anak, (Jakarta, Lentera Basritama, tth)

Al-Maraghi, Muhammad Mustafa Tafsir al-Maraghi, Vol. 9, (Mesir; Mustafa al-    Baqiy   al-Halaby wa awladuhu)

Shihab, M. Quraish, Mahkota Tuntunan Ilahi, Jakarta: Untagama, t.th)

__________Tafsir al-Misbah, Vol. I, Cet. II, (Jakarta: Lentera Hati, 2009)

__________Tafsir al-Misbah, Vol. 10 (Jakarta: Lentera Hati, 2009)

Asy-Sya’rawi, Muhammad Mutawalli,  Tafsir asy-Sya’rawi, Vol. 14, (Mesir:           Akhbar al-Yawm, tth)

Yunus, Muhammad, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: yayasan        Penterjemah/Penafsir al-Quran, 1973)

Zubaedi. Design pendidikan karakter. (Jakarta: Prenada Media Group, 2011),

Az-Zuhaily, Wahbah,  Tafsir al-Munir, (Arid al-Tafsir Iliktruniyyah)

Imam Ghazali, Ihya Ulumuddin, Jilid. 5, (Semarang: Asy-Syifa’, 1992)

 


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: