Mufdil’s Weblog


KESADARAN TENTANG PRINSIP PEMBELANJAAN HARTA DALAM AL-QURAN SEBAGAI TINDAKAN PREVENTIF DALAM UPAYA MEMBERANTAS BUDAYA KORUPSI
Oktober 3, 2013, 5:04 am
Filed under: Karya Ilmiah

 KESADARAN TENTANG PRINSIP PEMBELANJAAN HARTA DALAM AL-QURAN SEBAGAI TINDAKAN PREVENTIF DALAM UPAYA MEMBERANTAS BUDAYA KORUPSI

Oleh: Mufdil Tuhri

A.    Pendahuluan

      Persoalan korupsi beberapa tahun terakhir ini amat santer dan hangat dibicarakan dalam masyarakat, bahkan sangat banyak dimuat dalam berbagai media cetak dan elektronik di tanah air yang tercinta ini. Dalam kasus Indonesia, Korupsi melibatkan tidak lagi hanya elit pemerintahan atau pejabat publik, tetapi juga kalangan partai, pengusaha, tokoh-tokoh kampus, organisasi non pemerintah, bahkan para pemuka agama dan adat. Akibatnya, korupsi telah merusak tatanan dan sistem kerja lembaga pemerintahan, mental masyarakat, hancurnya fondasi perekonomian negara yang berakibat merosotnya daya saing dan semakin terpuruknya masyarakat miskin. Oleh karenanya tepatlah istilah yang diperguankan oleh Bung Hatta puluhan tahun silam, yakni korupsi di Indonesia telah menjadi suatu budaya (budaya korupsi).

Korupsi Sebagai budaya, tidak terlepas dari hakikat manusia sebagai makhluk konsumtif. Konsumsi sendiri diartikan sebagai pemakaian barang untuk mncukupi suatu kebutuhan secara langsung. Manusia yang melakukan korupsi berarti telah melakukan tindakan diluar aturan syara’. Perilaku korupsi telah melanggar aturan tentang pola konsumsi yang dibenarkan didalam Islam. Jika Korupsi digolongkan sebagai perilaku zalim dan melampaui batas,  maka orang yang melakukan korupsi berarti telah menyalahi pola konsumsi yang dibenarkan didalam Islam yaitu pemakaian barang yang tidak terdapat unsur ketidakadilan (perbuatan zalim), tabzir (boros, mubazir), dan israf (berlebih-lebihan dan melampaui batas)[1]. Disinilah letak urgensi tentang kesadaran pola konsumsi menurut al-Quran dalam menekan budaya korupsi yang merebak dalam masyarakat.

Berdasarkan fenomena diatas dan keterkaitan yang kuat antara budaya korupsi dan perilaku konsumtif manusia, maka dalam makalah ini penulis akan menjelaskan tentang bagaimana bentuk perilaku korupsi dalam pandangan al-Quran, apa kaitan antara tindakan korupsi dan perilaku konsumsi yang salah menurut Islam, dan apa saja upaya memberantas budaya korupsi melalui pola konsumsi dalam Islam perspektif al-Quran.

B.      Korupsi Perspektif Al-Quran (Studi Tafsir Surat al-Baqarah ayat 188 dan Surat Ali Imran ayat 161)

Korupsi dapat dilihat secara bahasa (etimologis) dan istilah (terminologis).  Secara etimologis korupsi berasal dari kata korup yang berarti buruk, rusak dan busuk. Korupsi ini berasal dari kata latin corrumpere dan corruptio yang berarti penyuapan dan corruptore yang berarti merusak. Di dalam bahasa Inggris disebut corruption atau corrupt.   Di  dalam bahasa Belanda disebut corruptie atau korruptie.  Di  dalam bahasa Indonesia disebut korupsi.[2]

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan korupsi sebagai penyelewengan atau penggelapan  uang negara atau perusahaan dan sebagainya untuk kepentingan pribadi maupun orang lain.[3] Definisi ini dapat dinterpretasikan bahwa korupsi merupakan perilaku pejabat publik, baik politisi, pengusaha, pegawai negeri, dan swasta maupun wiraswastawan (entrepreneur) yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya orang lain (keroninya atau bukan), dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang secara langsung atau tidak dipercayakan kepada mereka.

Dari sudut pandang hukum, tindak pidana korupsi secara garis besar mencakup unsur-unsur berikut:

  1. Perbuatan melawan hukum
  2. Penyalahgunaan wewenang
  3. Memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi
  4. Merugikan keuangannegara atau perekonomian negara[4]

Dalam perspektif al-Quran, korupsi dapat dikategorikan kedalam dua bentuk tindakan yaitu perilaku batil dan khianat yang dirumuskan dari dua ayat berikut:

Pertama, di dalam Surah al-Baqarah ayat 188:

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan Janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain diantara kamu denan jalan yang batil, (janganlah kamu) membawa urusan harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian pada harta benda orang lain dengan jalan berbuat dosa, padahal kamu mengerti

      Korupsi dilihati dari sudur pandang eksistensi perbuatannya, termasuk ke dalam perbuatan batil (al-batil) mengingat kandungan artinya meliputi segenap perbiatan yang cenderung mengambil atau memakan harta dengan cara yang batal (akl al-mal bi al-batil) yang mencerminkan kepada perilaku dan kepribadian buruk dengan dampak merugikan pihak lain dan meremehkan keberadaannya.

Menurut al-Biqa’iy al-batil berarti segala sesuatu yang dari berbagai seginya tidak diperkenankan Allah, baik aspek esensinya atau sifatnya[5]. Sedangkan al-Razi membaginya ke dalam dua makna, pertama, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak dihalalkan oleh hukum syara’, kedua, mengambil sesuatu milik orang lain tanpa pengganti.[6] Dengan demikian, perilaku yang mengambil milik pihak lain dikategorikan sebagai perilaku korupsi.

Kedua, Di dalam konteks khianat disebut ghulul. Di dalam al-Qur’an surat Ali Imran ayat 161 Allah berfirman:

وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Tidaklah mungkin seorang Nabi melakukan ghulul (berkhianat) dalam urusan harta rampasan perang. Barang siapa yang melakukan ghulul dalam harta rampasan perang, maka pada hari kiamat ia akan datang dengan membawa apa yang telah dikhianatinya itu…

Kata yaglul berasal dari kata al-gall, yang berarti curang, tau mengambil sesuatu dengan cara sembunyi-sembunyi. Dari kata ini muncul ungkapan al-gillu fis-sudur artinya menyembunyikan kebenaran di hati. Pengkhianatan dengan cara mengambil harta rampasan perang disebut al-gulul.[7]

Menurut M. Quraish Shihab: Kata yagulla yang diterjemahkan diatas dengan “berkhianat”, oleh sementara ulama dipahami dalam arti “bergegas mengambil sesuatu yang berharga dari rampasan perang”. Karena itu, mereka memahaminya terbatas pada rampasan perang. Tetapi penggunaannya dalam bahasa, kata tersebut memiliki pengertian khianat secara umum, baik pengkhianatan dalam amanah yang diserahkan masyarakat, maupun pribadi kepada pribadi.[8]

Jadi,  menurut M. Quraish Shihab, makna berkhianat dalam Ali-Imran (3) ayat 161 tersebut bukan hanya berarti khianat pada harta rampasan perang, tetapi pengertiannya adalah khianat secara umum. Orang berkhianat dalam peperangan dengan menyembunyikan harta rampasan perang adalah sebagai koruptor.[9]

Dengan demikian, dalam perspektif al-Quran maka setiap orang yang berkhianat, seperti menyalahgunakan jabatan, menerima suap untuk meluluskan yang batil, atau mengangkat keluarganya untuk suatu jabatan, padahal keluarganya itu tidak memiliki kepabilitas, tidak professional, dan tidak memiliki moral yang baik, semuanya itu tergolong korupsi, yaitu khianat kepada masyarakat dan Negara.

C.    Hubungan Budaya Korupsi dan Pola Konsumsi

      Konsumsi dalam perspektif ekonomi diartikan sebagai pemakaian barang untuk mencukupi suatu kebutuhan secara langsung.[10] Mengonsumsi benda-benda yang tersedia di alam ini, baik yang masih natural maupun olahan melalui sentuhan teknologi produksi, boleh-boleh saja sepanjang tidak terdapat unsur-unsur ketidakadilan (perbuatan zalim), tabzir (boros, mubazir), dan israf (berlebih-lebihan atau melampaui batas).

Berikut ini akan dijelaskan hubungan antara budaya korupsi dan pola konsumsi yang salah dalam pandangan Islam.

1.      Korupsi Sebagai Bentuk Tindakan yang Zhalim (ketidakadilan)

            Islam secara tegas melarang tindakan korupsi karena korupsi merupakan salah satu bentuk perilaku zhalim dan ketidakadilan. Uang negara yang dikonsumsi oleh seorang koruptor pada dasarnya tindakan yang merampas hak-hak kaum yang lemah dan membutuhkan. Karenanya, uang negara hanya beredar dikalangan kelas elit dari para konglomerat, yang berakibat tidak  terdistribusikannya uang secara merata dan berakibat pada  kesenjangan sosial dan ekonomi. Perilaku koruptor yang congkak dan secara kontinu mengonsumsi uang rakyat inilah yang dianggap sebagai bentuk perilaku zhalim dan ketidakadilan.

2.      Korupsi Melambangkan Perilaku Boros dan Melampaui Batas

            Budaya ini sangat kentara dengan perilaku seseorang yang pola hidupnya (life style) konsumtif atau boros dalam memanfaatkan sumberdaya miliknya yang serba terbatas. Oleh karena itu siapapun yang memiliki gaya hidup boros tentu akan berhadapan dengan resiko terkurasnya kekayaan yang menjadi miliknya dan akan berdampak pada kehausan mencari konpensasi sumberdaya dengan cara apapun termasuk menghalalkan segala cara karena kalau tidak tertutupi kebutuhannya dapat menghambat ‘rizkinya’ hidupnya. Jadi jalan keluar bagi dirinya yang tercepat adalah melakukan perbuatan korupsi.

      D.    Solusi al-Quran tentang Pola Konsumsi Sebagai Upaya Memberantas Budaya Korupsi dalam Masyarakat.

1.      Kesadaran tentang Prinsip Harta dalam Islam dan Pembelanjaannya Kepada Yang Baik

            Dalam diri manusia terdapat prediposisi atau kecenderungan menyenangi harta benda dan menjadikannya sebagai kebanggaan maupun alat untuk memuaskan semua kebutuhan dan keinginannya. Hal ini ditegaskan dalam al-Quran surat Ali Imran (3) ayat 14

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآَبِ

Dijadikannya terasa indah dalam pandangan manusia terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang, Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.

Korupsi merupakan salah satu bentuk ketidaksadaran seorang individu tentang hakikat harta benda yang dimilikinya. Seorang koruptor cenderung tidak mampu mengendalikan diri dalam memenuhi semua kebutuhannya. Pada dasarnya, harta benda atau apa saja yang diinginkan sebagai perwujudan dari sikap konsumerisme dan kesenangan hidup (mata’ul hayati ad-dunya) itu menjadi bahan ujian bagi manusia. Mereka tidak menyadari bahwa ada akhirat sebagai tempat kembali yang kekal.

Al-Quran surat al-Qashash (28) ayat 60:

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Dan Apa saja (kekayaan, jabatan, keturunan) yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kesenangan hidup duniawi dan perhiasannya, sedang apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Tidakkan kamu mengerti?

Ayat ini lebih tegas lagi menjelaskan tentang betapa tidak sebandingnya antara kenikmatan duniawi dengan ukhrawi, ibarat setetes air bila dibandingkan dengan samudera. Kehidupan dan kemewahan duniawi akan terputus dengan sendirinya begitu ajal menjemput, sementara kehidupan akhirat bersifat eternal (abadi). Menurut al-Razi, suatu kebodohan terbesar yang dilakukan manusia apabila meninggalkan apa yang bermanfaat untuk kehidupan akhirat dan melanggengkan hal-hal yang hanya terkait dengan kehidupannya di dunia yang singkat.[11]

Dengan demikian, kesadaran tentang prinsip harta dalam Islam dan pembelanjaannya kepada hal-hal yang baik perlu ditumbuhkan dalam pribadi setiap muslim agar terhindar dari dorongan-dorongan melakukan penyelewengan dalam mencari harta benda.

2.      Kesadaran bahwa Keberkahan Harta Terletak Pada Penyelarasan Antara Pendapatan dengan Pengeluaran 

Allah SWT berfirman dalam al-Quran surat al-Jumu’ah (62) ayat 10:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.

Allah SWT melalui ayat diatas menggandengkan penyebutan antara peribadatan dengan mencari nafkah agar manusia senantiasa menyadari bahwa ia harus mereguk kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Namun, pada umumnya orang yang tidak peduli pada kehidupan akhirat sangat rentan terhadap perilaku mencurangi dan menzalimi orang lain dalam setiap usaha yang dilakukannya. Ia akan berupaya menempuh segala cara demi memenuhi kebutuhan dan ambisi dalam kehidupan duniawi. Tanpa mengindahkan hak-hak orang lain, ia terus mengeruk berbagai keuntungan, apa pun caranya.

Membatasi kebutuhan pada hal-hal yang sangat mendesak, wajar, tidak berlebihan (sesuai dengan nilai-nilai Islam) akan berimplikasi pada cara seseorang dalam bekerja dan berbelanja. Ukuran bukan pada seberapa jumlah perolehan, tetapi pada nilai keberkahan yang terkandung di dalamnya.

Penyelewengan terjadi justru disebabkan oleh ketidakmampuan seseorang dalam menyelaraskan antara pendapatan dan pengeluarannya. Sebagai contoh, seorang pejabat yang berpenghasilan rendah yang tidak mampu mengontrol dirinya untuk memenuhi kebutuhan di luar batas pendapatannya akan cenderung melakukan korupsi. Karena itu, kesadaran akan pentingnya keberkahan dalam harta inilah yang harus ditanamkan dalam jiwa setiap diri manusia sehingga ia tidak selalu merasa kekurangan yang mendorong perilaku menyeleweng seperti korupsi.

3.      Menghindari Kemewahan dan Kemegahan

Allah SWT berfirman dalam al-Quran surat at-Takasur (102) ayat 1-2

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1) حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (2)

Bermegah-megah telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur

Mengonsumsi karunia dari Allah SWT baik dalam bentuk makanan, pakaian, maupun lainnya, tanpa ada unsur bermewah-mewah atau bermegah-megah merupakan suatu hal yang wajar. Hanya saja kadang kala faktor sosial ekonomi dalam masyarakat menggiring manusia berperilaku bermewah-mewah dan bermegah-megah. Inilah yang menjadi faktor penting terjadinya perilaku korupsi. Keinginan untuk membanggakan diri dengan harta, jabatan, popularitas menjadi penyumbang besar dalam kehidupan glamour. Inilah yang kemudian dikritik dalam ayat ini.

Pola hidup bermewah-mewahan dan bermegah-megahan dapat menimbulkan malapetaka, bukan hanya pada kehidupan sosial masyarakat kelak, tetapi juga dalam kehidupan sosial masyarakat, dapat memunculkan persoalan serius, terutama dalam masyarakat yang mengalami kesenjangan social kronis. Oleh karena itu, setiap individu yang hidup ditengah-tengah komunitas sosial dituntut untuk saling menghormati, saling menghargai, saling bertenggang rasa, saling menolong dalam kebijakan dan ketakwaan, agar terbangun kesadaran bersama untuk mewujudkan kehidupan yang berkeadilan, terhindar dari kesenjangan sosial yang dapat menimbulkan kecemburuan sosial dan mengancam eksistensi komunitas masyarakat.

Boleh jadi, perilaku ini juga akan mendorong tindakan korupsi karena tuntutan gaya hidup. Maka, sikap hidup bermewah-mewahan dan bermegah-megahan  harus dihindarkan sedini mungkin agar kelak tidak menjadikannya sebagai budaya yang berakibat pada perilaku korupsi.

 4.      Menghindari Sikap Mubazir dan Melampaui Batas

Ayat yang menjelaskan tentang larangan tabzir (mubazir) terdapat didalam  al-Quran Surat al-Isra (17) ayat 26-27

وَآَتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (26) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا (27)

Dan berikanlah hak-nya kepada kaum kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.

Sementara itu, ayat yang menjelaskan tentang israf (melampaui batas) dapat dijumpai dalam al-Quran Surat al-A’raf (7) ayat 31

يَا بَنِي آَدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan munimlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan

            At-Tabari didalam Tafsirnya menjelaskan bahwa israf (berlebih-lebihan) adalah infak dalam perbuatan maksiat meskipun dalam jumlah relatif kecil.[12] Israf termasuk perilaku berlebih-lebihan yang tidak pada tempatnya dan melampaui batasan wajar. Tabzir (mubazir) juga sering dimasukkan ke dalam kategori berlebih-lebihan ini. Penggunaan kata israf  dalam al-Quran tidak hanya terkait dengan harta (konsumsi), tetapi segala sesuatu yang ditempatkan tidak pada sewajarnya.

Gaya hidup boros tentu akan berhadapan dengan resiko terkurasnya kekayaan yang menjadi miliknya dan akan berdampak pada kehausan mencari konpensasi sumberdaya dengan cara apapun termasuk menghalalkan segala cara karena kalau tidak tertutupi kebutuhannya dapat menghambat ‘rizkinya’ hidupnya. Jadi jalan keluar bagi dirinya yang tercepat adalah melakukan perbuatan korupsi.

Karena itu, dalam kedua ayat diatas terdapat prinsip membelanjakan harta yaitu larangan berperilaku berlebihan dalam arti tabzir  (boros) sebagaimana dalam surah al-Isra’ ayat 26-27 maupun israf (melampaui batas) sebagaimana dalam surah al-A’raf ayat 31. Secara spesifik, ayat terakhir menegaskan bahwa terdapat rangkaian perintah makan dan minum sebagai bentuk konsumsi paling umum dilakukan manusia sepanjang tidak israf (berlebih-lebihan). Berpakaian, makan, dan minum harus senantiasa dijaga agar tidak masuk dalam klasifikasi berlebih-lebihan. Dengan demikian, perilaku korupsi yaitu mencari harta secara tidak wajar dan melampaui batas dapat terhindarkan.

E.     Kesimpulan

Berdasarkan kepada penjelasan diatas maka, dapat disimpulkan bahwa upaya untuk memberantas korupsi melalui usaha membangun kesadaran tentang prinsip pembelanjaan harta (Pola konsumsi) dalam al-Quran adalah pertama,  kesadaran tentang prinsip harta dalam Islam dan pembelanjaannya kepada yang baik,  kedua, kesadaran bahwa keberkahan harta terletak pada penyelarasan antara pendapatan dengan pengeluaran, ketiga, menghindari kemewahan dan kemegahan, keempat, menghindari sikap mubazir dan melampaui batas.

 


 

Daftar Pustaka

Hanafi, Muchlis M. dkk, Pembangunan Ekonomi Umat (Tafsir Al-Quran Tematik),           (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran)

 

Poerwadarmita, W.J.S. Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta:Balai Pustaka, 1976)

 

al-Biqa’iy, Burhan al-Din Abi al-Hasan Ibrahim ibn Umar Nazhm al-Durar fi          Tanasub al-Ayat wa al-Suwar, (Beirut: Dar al-Kutb al-Ilmiyyah) Jilid I

 

al-Razi,Fakhr al-Din Muhammad ibn Umar ibn al-Husayn al-Tamimiy, Mafatih al-  Gaib, (Beirut: Dar al-Kutb al-‘Ilmiyyah , 1990) , Jilid 5 Juz 10

 

Majma’ al-Lughah al-‘Arabiyyah, al-Majma’ al-Wasit, ( Mesir: Darul Ma’arif, 1392            H/1972 M), Cet II, Jilid II

 

Shihab, M. Quraish,  Tafsir al-Misbah, (Jakarta:Lentera Hati, 2000), cet I, Jilid II

 

Ensiklopedi Indonesia, (Jakarta: Ichtiar Baru-Van Hoeve, 1983), jilid 4

 

al-Tabari, Muhammad ibn Jarir, Jami’ul Bayan fi Ta’wil al-Quran, Juz 19

 

http://www.pendidikan.net/tentangkurikulumantikorupsi/ZainalAbidin. diakses 25             Mei 2013.

 

Nur Syam, Agama Pasti Anti Korupsi, http://nursyam.sunan-ampel.ac.id/?p=401    diakses tanggal 25 Mei 2013

 

 

 

 

 


                [1]Muchlis Hanafi, dkk, Pembangunan Ekonomi Umat (Tafsir Al-Quran Tematik), (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran), h. 206

                [2] Nur Syam, Agama Pasti Anti Korupsi, http://nursyam.sunan-ampel.ac.id/?p=401, diakses tanggal 25 Mei 2013

                [3] W.J.S. Poerwadarmita, Kams Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta:Balai Pustaka, 1976), h. 524.

                [4] http://www.pendidikan.net/tentangkurikulumantikorupsi/ZainalAbidin. diakses 25 Mei 2013.

                [5] Burhan al-Din Abi al-Hasan Ibrahim ibn Umar al-Biqa’iy, Nazhm al-Durar fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar, (Beirut: Dar al-Kutb al-Ilmiyyah) Jilid I, h. 368

                [6]Fakhr al-Din Muhammad ibn Umar ibn al-Husayn al-Tamimiy al-Razi, Mafatih al-Gaib, (Beirut: Dar al-Kutb al-‘Ilmiyyah , 1990) , Jilid 5 Juz 10, h. 57

                [7] Majma’ al-Lughah al-‘Arabiyyah, al-Majma’ al-Wasit, ( Mesir: Darul Ma’arif, 1392 H/1972 M), Cet II, Jilid II, h. 659.

                [8] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, (Jakarta:Lentera Hati, 2000), cet I, Jilid II, h. 250-251

                [9] Ibid

                [10] Ensiklopedi Indonesia, (Jakarta: Ichtiar Baru-Van Hoeve, 1983), jilid 4, h. 1859

                [11] Al-Razi, Op.Cit, Juz 12, h. 101

                [12] Muhammad ibn Jarir al-Tabari, Jami’ul Bayan fi Ta’wil al-Quran, Juz 19, h. 298


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: