Mufdil’s Weblog


JAMINAN KEKERABATAN DALAM AL-QURAN SEBAGAI SOLUSI MASALAH KEMISKINAN
Desember 19, 2012, 12:50 pm
Filed under: Makalah | Tag: , , ,

Jaminan Kekerabatan Dalam Al-Quran
Sebagai Solusi Masalah Kemiskinan
Oleh: Mufdil Tuhri[1]

A.    Pendahuluan

DSC02322

              Problem Kemiskinan yang mendera umat dewasa ini, dalam kenyataannya lebih banyak dianggap sebagai suatu masalah yang penyebab utamanya selalu dikaitkan dengan lemahnya individu dan sumber daya manusia itu sendiri. karenanya, penangulangan problem kemiskinan semata-mata kepada sumbangan sukarela dan keinsafan pribadi, tidak dapat diandalkan. Teori ini telah dipraktekkan berabad abad lamanya, namun hasilnya tidak pernah memuaskan.[2]

      Sementara itu, masyarakat sering kali tidak merasa bahwa mereka mempunyai tanggung jawab sosial, walaupun ia telah memiliki kelebihan harta kekayaan. Karena itu diperlukan adanya penetapan hak dan kewajiban agar tanggung jawab sosial dapat terlaksana dengan baik. Salah satu prinsip yang telah ditetapkan oleh al-Quran terkait dengan hal ini adalah adanya hubungan kekerabatan dan kekeluargaan yang terbangun dalam sikap tolong menolong dan saling melengkapi.

Kenyataannya, tidak jarang ditemukan masih adanya masyarakat yang tidak menyadari akan prinsip kekerabatan didalam Islam ini. Orang-orang kaya biasa menginfakkan hartanya ke mesjid, lembaga-lembaga sosial, panti asuhan, kegiatan-kegiatan amal dan lain sebagainya. Hal ini tidak dilarang didalam Islam tetapi bahkan dianjurkan akan tetapi sementara mereka menunjukkan kepedulian kepada lingkungan sosialnya kebanyakan lupa akan lingkungan keluarga dan karib kerabat mereka yang masih layak untuk dibantu, bahkan harus segera ditanggulangi. Alangkah lebih adil jika kesulitan kerabat ini diselesaikan oleh keluarga terdekatnya pula.

Al-Quran dalam hal ini, menegaskan tentang prinsip tolong menolong yang tercermin dalam hubungan kekerabatan sebagai tergambar dalam satu keluarga. Islam menjadikan hubungan kekerabatan sebagai hubungan yang saling melengkapi dan mencukupi satu dengan yang lainnya. Keluarga yang kuat membantu keluarga yang lemah, keluarga yang kaya membantu keluarga yang miskin, keluarga yang mampu akan memberdayakan keluarga yang tidak mampu. Ini  semua disebabkan oleh jalinan tali persaudaraan yang kuat dalam satu hubungan kekerabatan atau keluarga tersebut[3]. Kerenanya Allah SWT menegaskan hubungan ini sebagaimana tergambar dalam firman-Nya:

وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ

… Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) menurut Kitab Allah…(QS. Al-Anfal, 8: 75)

Dalam Konteks inilah al-Quran menetapkan kewajiban membantu keluarga oleh rumpun keluarganya. Oleh sebab itu, penulis tertarik untuk mencari perspektif al-Quran tentang konsep kekerabatan ini. Dengan menggunakan pendekatan tematik yaitu menghimpun berbagai ayat  yang berbicara tentang masalah ini sehingga ditemukan suatu konsep kekerabatan didalam al-Quran untuk mencari solusi mengatasi problem kemiskinan.

B.     Wawasan al-Quran tentang Konsep Kekerabatan

1.      Makna Kekerabatan didalam al-Quran

      Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata kerabat  diartikan sebagai yang dekat (pertalian keluarga); sedarah sedaging; keluarga; sanak saudara; keturunan dari induk yang sama yang dihasilkan dari gamet yang berbeda.[4]

      Dari bahasa aslinya (Arab) kata kerabat berasal dari kata qaraba yang berarti dekat sebagai lawan dari kata ba’id yang berarti jauh. Kata ini dipakai dalam berbagai konteks berdasarkan derivasinya masing-masing, dan istilah qarabah sendiri yang menunjuk kepada kepada istilah kerabat dalam bahasa Indonesia menunjukkan kepada makna dekat karena adanya hubungan keturunan.[5] Al-Quran sendiri menyebut kata qaraba dengan segala perubahan bentuk katanya sebanyak 86 kali.[6]

Istilah Kerabat dalam arti hubungan yang didasarkan kepada darah atau keturunan, dalam istilah yang lebih spesifik lagi disebut ulul arham yang berarti  orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat dan al-Arham yang berarti hubungan kekeluargaan.[7]

Sementara itu, menurut al-Maraghi makna zul qurba  ketika menafsirkan QS. An-Nisa ayat 36 adalah golongan terdekat yakni saudara laki-laki, paman dari ayah, paman dari ibu dan anak-anak mereka.[8] Disamping itu, kata al-Arham sebagaimana terdapat dalam QS. Al-Anfal 8, 75 yang dipahami dalam arti hubungan kekeluargaaan, lebih lanjut menurut Quraish Shihab merupakan jamak dari kata rahim, yaitu tempat Janin diperut ibu. Mayoritas ulama memahami kata al-Arham dalam arti kekerabatan yang diikat oleh hubungan peribuan.[9]

Berdasarkan kepada beberapa pendapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Kerabat secara umum menunjuk kepada golongan terdekat dari keluarga yang dibangun karena adanya ikatan peribuan.

2.      Al-Quran berbicara tentang Hak Kaum Kerabat

      Didalam al-Quran banyak terdapat ayat yang berbicara tentang hak kaum kerabat. Al-Quran mendorong manusia untuk berbuat kebajikan kepada kerabatnya, menjalin hubungan silaturahim yang harmonis, dan memperlakukan mereka secara baik.

Allah SWT berfirman:

 إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat”(QS. An-Nahl, 16:90)

Menurut asy-Syaukani, ayat ini mengandung petunjuk tentang wajibnya seseorang untuk memberi bantuan kepada kerabatnya sebagaimana Allah SWT menyuruh untuk menegakkan keadilan dan berbuat kebajikan.[10]

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى

“Dan Sembahlah Allah dan Janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.  Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, ….”(QS. An-Nisa’, 4:36)

Firman Allah SWT:

وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS. An-Nisa’, 4:1)

وَآَتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ

“dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan …”(QS. Al-Isra’, 17:26)

فَآَتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ ذَلِكَ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Maka berikanlah hak-Nya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. Al-Rum, 30:38)

Ayat-ayat diatas secara garis besar menunjukkan bahwa bagi seorang kerabat terhadap kerabat yang lain terdapat suatu hak yang lebih utama untuk dipenuhi melebihi kepada orang lain yang bukan kerabatnya. Karena diantara mereka terdapat suatu ikatan keturunan dan peribuan yang lebih kuat dari sekedar hubungan biasa. Hal ini menindikasikan bahwa terdapat semacam kewajiban untuk mendahulukan bantuan terhadap keluarga atau kerabat terdekat sebelum yang lainnya.

 

C.    Masalah Kemiskinan sebagai Tanggung Jawab Sosial

Sebelum beranjak kepada masalah kemiskinan, terlebih dahulu akan diuraikan secara ringkas tentang istilah kemiskinan dalam berbagai pendekatan. Kata miskin dalam peristilahan bahasa Arab berasal dari akar kata sakana yang berarti tenang yaitu tetapnya sesuatu setelah bergerak.[11] Sementara itu kata miskin didalam al-Quran disebutkan sebanyak 28 kali.[12]

Asep Usman Ismail didalam bukunya al-Quran dan Kesejahteraan Sosial mengemukakan banyak pendapat mengenai istililah kemiskinan. Salah satunya adalah pendapat KH. Ali Yafie yang menjelaskan bahwa orang miskin adalah orang yang memiliki harta atau memiliki pekerjaan atau memiliki keduanya, tetapi harta atau hasil dari pekerjaannya itu hanya mencukupi seperdua atau lebih dari kebutuhan pokoknya. Sementara itu, menurut sosiolog Soerjono Soekanto, merupakan suatu keadaan ketika seseorang tidak sanggup untuk memelihara dirinya sendiri sesuai dengan taraf kehidupan kelompoknya dan tidak mampu memanfaatkan tenaga, mental, maupun fisik dalam kelompoknya tersebut.[13]

Banyak pendapat yang menyebutkan tentang faktor yang menyebabkan timbulnya kemiskinan namun kenyataannya lebih banyak dianggap sebagai suatu masalah yang penyebab utamanya selalu dikaitkan dengan lemahnya individu dan sumber daya manusia itu sendiri. karenanya, penangulangan problem kemiskinan semata-mata kepada sumbangan sukarela dan keinsafan pribadi, tidak dapat diandalkan. Teori ini telah dipraktekkan berabad abad lamanya, namun hasilnya tidak pernah memuaskan

Dalam  hal  ini,  Al-Quran  walaupun  menganjurkan   sumbangan sukarela   dan   menekankan  keinsafan  pribadi,  namun  dalam beberapa hal Kitab Suci ini menekankan hak dan kewajiban salah satu kewajiban tersebut tercermin sebagai suatu tanggung jawab sosial orang lain atau masyarakat.

Apa   yang   berada  dalam  genggaman  tangan  seseorang  atau sekelompok orang, pada hakikatnya adalah milik Allah.  Manusia diwajibkan  menyerahkan  kadar tertentu dari kekayaannya untuk kepentingan  saudara-saudara  mereka.   Bukankah   hasil-hasil produksi,   apa   pun  bentuknya,  pada  hakikatnya  merupakan pemanfaatan materi-materi yang telah diciptakan  dan  dimiliki Tuhan?  Bukankah  manusia  dalam  berproduksi hanya mengadakan perubahan, penyesuaian, atau perakitan satu bahan dengan bahan lain  yang  sebelumnya  telah diciptakan Allah? Seorang petani berhasil dalam pertaniannya karena adanya  irigasi,  alat-alat (walaupun  sederhana),  makanan, pakaian, stabilitas keamanan, yang kesemuanya tidak mungkin dapat  diwujudkan  kecuali  oleh kebersamaan   pribadi-pribadi   tersebut,   dengan  kata  lain “masyarakat”. Pedagang demikian pula halnya.[14]

Jelas   sudah   bahwa  keberhasilan  orang  kaya  adalah  atas keterlibatan banyak pihak, termasuk para fakir miskin:

Didalam al-Quran ditegaskan:

وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

Dan pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta, dan orang miskin yang tidak meminta, (QS. Az-Zariyat, 51:19)

      Ibnu Hazm, seorang ulama kelahiran Spanyol yang sangat tajam pemikirannya, dalam bukunya al-Muhalla sebagaimana dikutip oleh Amien Rais ketika mengomentari ayat ini dengan mengatakan bahwa kalau ditengah masyarakat ada kelompok kaya dan miskin, sudah menjadi kewajiban kelompok kaya tadi untuk melakukan proses pemerataan sosial ekonomi keseluruh masyarakat. Dan menjadi hak kelompok orang-orang dipapan bawah, miskin, untuk mengambil haknya dari kelompok kaya.[15]

Jadi didalam kekayaan orang-orang yang berada dilapisan atas itu ada hak yang mesti dikeluarkan bagi orang yang memerlukan dan bagi orang-orang yang papa, miskin. Hak dan Kewajiban tersebut mempunyai kekuatan tersendiri karena keduanya dapat melahirkan ”paksaan” kepada yang berkewajiban untuk melaksanakannya. Bukan hanya paksaan dari lubuk hatinya, tetapi juga atas dasar bahwa pemerintah dapat tampil memaksakan pelaksanaan kewajiban tersebut untuk diserahkan kepada pemilik haknya.

Disinilah letak tanggung jawab sosial dalam melihat persoalan kemiskinan. Sehingga solusi yang konkrit dapat terwujud dengan membangun pemahaman yang jelas tentang adanya kewajiban orang lain yang tercermin dalam lingkungan sosial.

D.    Solusi Masalah Kemiskinan Melalui Konsep Kekerabatan dalam al-Quran

1.      Kewajiban Kerabat Memberi Nafkah Kepada Keluarga yang Membutuhkan

Boleh jadi karena satu dan lain hal seseorang tidak mampu memperoleh kecukupan untuk kebutuhan pokoknya, maka dalam hal ini al-Quran datang dengan konsep kewajiban memberi nafkah kepada keluarga. Dalam hal ini konsep yang ditawarkan adalah bagaimana al-Quran melalui ayat yang menjelaskan tentang jaminan kekerabatan mampu untuk menjadi bagian dari solusi masalah kemiskinan.

Ayat-ayat yang membicarakan tentang fungsi kekerabatan dalam al-Quran sebagaimana telah dijelaskan diatas mengandung pesan yang spesifik melalui kewajiban untuk memberi nafkah kepada keluarga. Ayat yang berbicara tentang konsep ini dapat dilihat dari Firman Allah SWT:

وَآَتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا

“dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. (QS. Al-Isra’, 17:26)

Dalam ayat lainnya Allah SWT berfirman:

فَآَتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ ذَلِكَ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Maka berikanlah hak-Nya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. Al-Rum, 30:38)

Yang dimaksud dengan haq didalam ayat ini menurut Wahbah Zuhaili meliputi berbuat baik kepada karib kerabat, menjalin tali silaturahim dan mewujudkan kasih sayang, berkunjung ke rumahnya, memperlakukan mereka secara baik, termasuk juga kewajiban memberikan nafkah kepada kaum kerabat yang membutuhkan. Semua itu merupakan suatu kewajiban yang harus dipenuhi sebagaimana wajibnya berbuat baik kepada kedua orang tua dalam ayat sebelumnya.[16]

Demikian juga menurut mazhab Abu Hanifah memberi nafkah kepada anak cucu, atau ayah dan datuk merupakan kewajiban walaupun mereka bukan muslim.[17]

Ayat tersebut diatas menggaris bawahi adanya hak bagi keluarga yang tidak mampu terhadap yang mampu berupa kewajiban memberi nafkah.

Al-Qaradhawi menegaskan bahwa apabila kerabat mewariskan harta kepada kerabatnya setelah meninggalnya maka ia mendapatkan harta tersebut tanpa jerih payah, sementara itu, akan menjadi lebih adil apabila ia memberi nafkah kepadanya ketika masih lemah maka ia akan membayar hutang. Dan hutang dibayar dengan harta warisan.[18]

Kewajiban memberi nafkah kepada keluarga ini sejalan dengan beberapa hadits Rasulullah SAW yang menjelaskan kewajiban menafkahi kerabat.

An-Nasa’iy meriwayatkan hadits dari Jabir bin ‘Abdillah berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Mulailah dari dirimu sendiri, dan bersedekahlah untuk dirimu sendiri, maka jika berlebih maka berikanlah kepada keluargamu, maka jika masih berlebih maka berikanlah kepada karib kerabatmu, maka jika masih berlebih maka berikanlah kepada ini dan ini…”

Berdasarkan kepada dalil diatas maka dapat diketahui bahwa Allah SWT menjadikan kewajiban memberi nafkah kepada kerabat sebagai kelanjutan dari kewajiban menafkahi kedua orang tua. Perintah memberi nafkah kepada karib kerabat berada setelah perintah untuk menafkahi kedua orang tua.

2.      Kebutuhan Yang Harus Dipenuhi Bagi Keluarga Yang Membutuhkan

Prinsip-prinsip tentang kewajiban memberi nafkah kepada kerabat diatas, sekaligus menjelaskan bahwa pada dasarnya Islam tidaklah membatasi ukuran tertentu yang harus diberikan kepada kerabat yang membutuhkan. Karena manusia berbeda kebutuhannya menurut ukuran tempat, waktu, kondisi, dan keadaan masing-masing. Begitu juga, orang-orang yang memberi nafkah sendiri juga masing-masing berbeda kesanggupannya.

Dalam hal ini, Allah SWT berfirman:

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آَتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آَتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

“Hendaklah orang-orang yang mempunyai kelapangan, memberi nafkah sesuai dengan kelapangannya, dan barang siapa sempit rezekinya maka hendaklah ia memberi nafkah sesuai apa yang diberi Allah kepadanya”.(QS. Al-Thalaq, 65:7)

Al-Qaradhawi mengutip pendapat para Fuqaha tentang macam-macam nafkah yang wajib diberikan kepada keluarga yang membutuhkan:[19]

  1. Kebutuhan pangan meliputi: makanan pokok seperti nasi dan air.
  2. Kebutuhan sandang meliputi: pakaian musim dingin dan musim panas dan yang berhubungan dengannya
  3. Kebutuhan Papan meliputi: tempat tinggal, dan hal-hal yang melengkapinya seperti bantal dan tempat tidur
  4. Seorang pembantu khusus jika ia tergolong kepada seorang yang lemah dan tidak mampu mengurusi diri sendiri
  5. Mengawinkan anak apabila telah sampai waktunya
  6. Belanja untuk istri serta siapa saja yang menjadi tanggungannya.

3.      Kewajiban Memberikan Harta Warisan Kepada Karib Kerabat

            Allah SWT berfirman:

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَلِكَ

“Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusi secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya. Janganlaih seorang ibu menderita karena anknya, dan jangan pula seorang ayah (menderita) karena anaknya. Ahli waris pun (berkewajiban) seperti itu pula…”(QS. Al-Baqarah, 2:233)

Dengan demikian, jelaslah bagi kita bahwa Islam telah meletakkan suatu fondasi yang kokoh dalam menciptakan kehidupan yang adil dan merata dalam masyarakat melalui prinsip kekerabatan dalam al-Quran. Islam menetapkan konsep yang tegas tentang kewajiban memberi nafkah oleh keluarga yang kaya kepada kerabatnya yang miskin.

Prinsip ini menjadi dasar tentang kewajiban orang lain yang tercermin pada jaminan kekerabatan dalam bentuk nafkah wajib. Berangkat dari konsep kekerabatan ini maka akan terbangun suatu keutuhan masyarakat yang dilandasi pada sikap saling tolong menolong dan saling melengkapi. Hal ini bukanlah menjadi suatu anjuran dari Allah SWT kepada mereka yang berkecukupan untuk memberi nafkah kerabatnya yang membutuhkan, akan tetapi merupakan suatu bentuk kewajiban dari Allah SWT yang wajib ditunaikan dan ditanamkan dalam setiap keluarga itu sendiri.

Prinsip ini sekaligus juga menjadi solusi dalam mengatasi problem kemiskinan yang dihadapi oleh umat. Karena bagaimanapun juga, didalam problem kemiskinan itu terdapat suatu tanggung jawab sosial yang diemban oleh orang lain disekitarnya. Tidak lain, al-Quran mengajarkan bahwa tanggung jawab sosial itu berada pada keluarga terdekat yang lebih berkewajiban mengatasi masalah kemiskinan kerabatnya. Kerabat yang digambarkan didalam al-Quran adalah siapapun itu yang memiliki hubungan keturunan dengannya dan memiliki hubungan kekeluargaan yang dekat dengannya. Jika hal ini mampu dioptimalkan melalui kesadaran yang tertanam kepada setiap pribadi keluarga yang kaya bahwa merekalah yang lebih bertanggung jawab untuk memberi nafkah kepada kerabatnya yang miskin maka bisa menjadi suatu solusi yang nyata dalam mengatasi masalah kemiskinan ini.

 E.     Kesimpulan

Jalaluddin Rakhmat dalam Islam Alternatif mengungkapkan bahwa diantara misi terpenting Islam, bahkan menurut Fazlur Rahman-diantara major themes of al-Quran- ialah membela, menyelamatkan, melindungi dan memuliakan kelompok miskin, dan dhuafa (yang lemah atau yang dilemahkan;yang menderita atau yang dibuat menderita).[20]  Semakin urgennya persoalan tentang tema kemiskinan didalam al-Quran maka makalah ini mencoba memberikan solusi masalah kemiskinan melalui prinsip kekerabatan dalam al-Quran.

Dengan demikian, berdasarkan paparan diatas dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Kerabat secara umum menunjuk kepada golongan terdekat dari keluarga yang dibangun karena adanya ikatan peribuan
  2. Didalam al-Quran banyak terdapat ayat yang berbicara tentang hak kaum kerabat. Al-Quran mendorong manusia untuk berbuat kebajikan kepada kerabatnya, menjalin hubungan silaturahim yang harmonis, dan memperlakukan mereka secara baik.
  3. Upaya untuk mengatasi masalah kemiskinan sebenarnya bukanlah semata tanggung jawab pribadi saja akan tetapi juga merupakan bagian tanggung jawab sosial,  utamanya keluarga terdekat yang wajib menafkahi kerabatnya yang membutuhkan.
  4. Jaminan kekerabatan dalam al-quran sebagai suatu solusi masalah kemiskinan dapat diwujudkan melalui kewajiban kerabat memberi nafkah kepada keluarga yang membutuhkan dan          adanya beberapa macam nafkah yang wajib diberikan kepada keluarga yang membutuhkan.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

 

 

Al-Ashpahani, Ar-Raghib, Al-Mufradat fi Gharib al-Quran, Juz I, (ttt;Maktabah    Nazar al-Musthafa al-Baz,tt)

Al-Baqiy, Muhammad Fu’ad abd , al-Mu’jam al-Mufahras li al-Fadzh al-Qur’an   al-Karim, al-Qahirah:Dar al Kutub al-Mishriyyah, 1364)

Al-Farmawi, Abdul Hayy , Metode Tafsir Maudhu’i: suatu pengantar, Suryan        A. Jamrah (penerj.), (Jakarta: Raja Grafindo, 1994)

Ismail, Asep Usman,  Al-Quran dan Kesejahteraan Sosial, (Jakarta: Lentera           Hati, 2012)

Al-Maraghi, Ahmad Musthafa, Tafsir al-Maraghi, (Mesir: Musthafa al-Ba’iy al-     Halabiy wa awladihi , 1946)

Al-Qaradhawi, Yusuf , Musykilat al-Faqr wa Kaifa ‘ilajuha fil Islam, (Beirut:         Mu’assasah al-Risalah)

Nata, Abuddin, dkk, Kajian Tematik Al-Quran tentang Konstruksi Sosial,   (Bandung:Angkasa Raya, 2008)

Rais, M. Amien,  Tauhid Sosial; Formula Menggempur Kesenjangan,         (Bandung:Mizan, 1998)

Rakhmat, Jalaluddin , Islam Alternatif:Ceramah-ceramah di Kampus, (Bandung:   Mizan, 1998)

Rosyanti, Imas, Esensi al-Quran, (Bandung: Pustaka Setia, 2002)

Shihab, M. Quraish Wawasan al-Quran,(Bandung:Mizan, 1996)

_________, Membumikan al-Quran Jilid 2, (Jakarta:lentera Hati, 2011)

_________, Tafsir al-Misbah, Juz 5, (Jakarta: Lentera Hati, 2007)

Asy-Syaukani, Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad , Fath al-Qadir, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 2007)

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar             Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, (Jakarta:Balai Pustaka, 1999)

Az-Zuhaili, Wahbah , Tafsir al-Munir fi al-Aqidah, wa al-Syariah, (‘Arid al-           Kutub al-Ikluktruniyyah)


                [1] Disampaikan pada Pelatihan dan Pembekalan Peserta MTQ Nasional Provinsi Sumatera Barat cabang M2IQ pada tanggal 14-17 Desember 2012 di Jakarta

                [2] M. Quraish Shihab, Wawasan al-Quran, hal. 454

                [3] Yusuf al-Qaradhawi, Musykilat al-Faqr wa Kaifa ‘ilajuha fil Islam, (Beirut: Mu’assasah al-Risalah) hal. 55

                [4] Tim Penyusus Kamus pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisikedua, (Jakarta: Balai Pustaka, 1999), hal.

                [5] Ar-Raghib al-Ashfahani, Al-Mufradat fi Gharib al-Quran, Juz 1, (ttp, maktabah Nazar al-Musthafa al-Baz, tth) hal. 400.

                [6] Muhammad Fu’ad abd al-Baqiy, al-Mu’jam al-Mufahras li al-Fadzh al-Qur’an al-Karim, al-Qahirah:Dar al Kutub al-Mishriyyah, 1364) hal. 540-542

                [7]  Lihat masing-masing didalam al-Quran: ulul arham (dalam QS. Al-Anfal ,8: 75)  dan al-arham (dalam QS. An-Nisa, 4:1)

                [8] Muhammad Mustafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, (Mesir: Musthafa al-Ba’iy al-Halabiy wa awladihi , 1946), Juz 5, hal. 33

                [9] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Juz 5, (Jakarta: Lentera Hati, 2007), hal. 516

                [10] Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Asy-Syaukani, Fath al-Qadir, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 2007) hal. 798

                [11] Ar-Raghib al-Ashpahani, Op Cit,  hal.312

                [12] Muhammad Fu’ad abd al-Baqiy, Op Cit hal. 354

                [13] Asep Usman Ismail, Al-Quran dan Kesejahteraan Sosial, (Jakarta: Lentera Hati, 2012) hal. 42

                [14] M. Quraish Shihab, Wawasan al-Quran, Op.Cit., hal. 456

                [15] M. Amien Rais, Tauhid Sosial; Formula Menggempur Kesenjangan, (Bandung: Mizan, 1998), hal. 111

                [16] Wahbah az-Zuhaili, Tafsir al-Munir fi al-Aqidah, wa al-Syariah, (‘Arid al-Kutub al-Ikluktruniyyah)

                [17] M. Quraish Shihab, Wawasan al-Quran, Op cit, hal. 456

                [18]Yusuf al-Qaradhawi, Op Cit, hal. 56

                [19] Ibid., hal. 62

                [20] Jalaluddin Rakhmat, Islam Alternatif:Ceramah-ceramah di Kampus, (Bandung: Mizan, 1998), hal. 85


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: