Mufdil’s Weblog


SOLUSI AL-QURAN DALAM UPAYA PENGENTASAN KEMISKINAN
Oktober 22, 2012, 12:49 pm
Filed under: Makalah | Tag: ,

Oleh: Mufdil Tuhri[1]

A.    Pendahuluan

Sebuah hasil survey yang dipublikasikan oleh Sam Mountford (Direktur Riset GlobeScan) melalui BBC pada 17 Januari 2012 menempatkan kemiskinan sebagai masalah paling serius yang dihadapi masyarakat dunia disbanding masalah perubahan iklim, terorisme, dan perang. Prosentasi survey adalah sebagai berikut; kemiskinan ekstrim 71%, lingkungan 64%, meningkatnya harga pangan dan energy 63%, terorisme dan HAM serta penyebaran penyakit 59%, malah ekonomi dunia 58%, perang 57%. Penelitian ini dilakukan terhadap 25 ribu orang lebih dari 23 negara.[2]

Dalam Konteks Indonesia, Salah satu problematika mendasar yang saat ini tengah dihadapi problematika kemiskinan. Menurut data Bank Dunia 1978, dari seluruh penduduk Indonesia yang waktu itu berjumlah 132 juta, 72 juta jiwa dalam keadaan miskin dan 55% dibawah garis kemiskinan. Menurut data statistika dari tahun 1976 hingga 2000, angka kemiskinan di Indonesia berubah-ubah, namun masih tetap tergolong besar. Jumlah penduduk miskin pada tahun 1998 adalah 49,5 juta orang atau 24,2 % dari total penduduk Indonesia yang dirinci dengan 31,9 juta orang berada di pedesaan atau 25,7% dan 17,6 juta orang diperkotaan atau 21,9%. Data yang dibuat terakhir oleh BPS menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin mendekati 50 juta jiwa. Dari jumlah tersebut 32,7 juta jiwa atau 64,4 tinggal dipedesaan[3]. Kenyataan ini turut berimbas pada angka pengangguran yang juga sangat tinggi, yaitu sekitar 28 juta jiwa, atau 12,7 persen dari total penduduk.[4]

Fakta tentang hasil survei diatas menunjukkan kenyataan sosial masyarakat bahwa kemiskinan merupakan masalah sosial yang patut menjadi fokus perhatian banyak kalangan mulai dari ekonom, sosiolog, dan budayawan, tidak terkecuali pendekataan al-Quran yang berupaya untuk memberikan solusi terhadap problem sosial ini. Pembicaraan tentang masalah ini banyak diangkat dalam berbagai kesempatan seminar, diskusi, media masa dan lain sebagainya dengan berupaya mengetengahkan tolak ukur atau indicator kemiskinan, sebab-sebab terjadinya kemiskinan serta cara-cara mengatasinya.

Bagi Umat Islam yang meyakini al-Quran sebagai pedoman hidupnya, dalam sebuah pretensi mengungkapkan salah satu ayatnya:”Sesungguhnya al-Quran ini menunjukkan kepada system yang paling lurus”[5]. Tentu untuk membuktikan klaim ayat ini perlu dilakukan kajian komprehensip mengenai topik kemiskinan dalam al-Quran.  Berdasarkan dengan itu, tulisan ini akan mencoba menjelaskan tentang wawasan al-Quran tentang kemiskinan melalui pendekatan tematik[6] hingga diharapkan akan dapat diperoleh suatu gambaran yang utuh dan objektif mengenai kemiskinan dari sudut pandang al-Quran. Pembicaraan ini akan berangkat dari perspektif al-Quran tentang miskin, sebab-sebab terjadinya kemiskinan hingga solusi yang ditawarkan al-Quran dalam upaya pengentasan kemiskinan tersebut.

B.     Miskin Perspektif al-Quran

      Kata miskin didalam al-Quran biasa digandengkan dengan kata faqir. Karenanya, dua istilah ini menjadi kajian khusus dalam melihat tolak ukur miskin didalam al-Quran.

Didalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,  Miskin diartikan tidak berharta benda; serba kekurangan (berpenghasilan rendah)[7], semantara Fakir mempunyai arti: Orang yang sangat berkekurangan; orang yang sangat miskin; orang yang dengan sengaja membuat dirinya menderita kekurangan untuk mencapai kesempurnaan batin.[8]

Ar-Raghib al-Asfahani didalam bukunya Al-Mufradat, mengungkapkan kata miskin dalam peristilahan bahasa Arab berasal dari akar kata sakana yang berarti tenang yaitu tetapnya sesuatu setelah bergerak.[9] Sementara itu kata miskin didalam al-Quran disebutkan sebanyak 25 kali.[10] Masih didalam kitab al-Mufradat, Ar-Raghib al-Asfahani mengungkapkan kata faqir yang pada asalnya berarti sendi tulang atau badan yang patah. Dikatakan juga berasal dari kata al-Fuqrah yang berarti lubang.[11] Sementara itu kata faqir didalam al-Quran disebutkan sebanyak 13 kali[12]

Ulama berbeda pendapat dalam mengungkapkan definisi miskin dan faqir ini, Wahbah az-Zuhaili ketika menafsirkan QS. At-Taubah (9) ayat 60[13] membedakan antara makna miskin dan faqir ini. Menurutnya al-fuqara’ (mufrad: faqir) menunjukkan kepada seseorang yang tidak memiliki harta dan tidak mempunyai usaha tetap untuk mencukupi kebutuhannya, seolah-olah ia adalah orang yang sangat menderita karena kefaqirannya hidupnya. Sementara al-Masakin (mufrad: miskin) menunjukkan kepada seseorang yang memiliki harta dan usaha tetapi tidak dapat mencukupi keperluan hidupnya, seolah-olah ialah adalah orang yang lemah hidupnya.[14]

Perbedaan pendapat tentang yang manakah diantara dua kondisi ini yang lebih baik atau lebih buruk dari yang lainnya diwakili oleh Kalangan Syafei dan Kalangan Hanafiyah. Menurut Kalangan Syafei yang juga diikuti oleh Kalangan Hanabilah menyebutkan bahwa faqir lebih buruk kondisinya dari miskin. Sementara kalangan Hanafiyah yang juga diikuti oleh kalangan Malikiyah mengatakan sebaliknya.[15]

Al-Quran  dan hadis tidak menetapkan angka tertentu lagi pasti sebagai ukuran kemiskinan, termasuk dimanakah diantara keduanya- baik itu faqir atau miskin- yang lebih layak dibantu. Akan tetapi Quraish Shihab menggolongkan kedua golongan ini sebagai orang yang memerlukan bantuan untuk mencukupi kebutuhannya dan layak untuk dibantu.[16]

Kesimpulan ini dipertegas lagi dengan adanya pendapat bahwa pada prinsipnya orang miskin dan orang faqir adalah mereka yang tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai kebalikan dari orang kaya yaitu orang yang memiliki kelebihan harta seukuran satu nisab dari kebutuhan pokoknya dan anak-anaknya yang meliputi kebutuhan bidang sandang, pangan, papan, minuman, kendaraan, sarana untuk bekerja dan lain sebagainya. Sehingga orang-orang yang tidak memiliki semua itu dapat dikategorikan sebagai orang fakir yang berhak memperoleh zakat.[17]

C.    Sebab-Sebab Terjadinya Kemiskinan

      Dalam upaya mengidentifikasi upaya-upaya pengentasan kemiskinan didalam al-Quran, terlebih dahulu disini akan dikemukakan 3 penggolongan kemiskinan, sehingga akan diperolleh upaya pengentasan kemiskinan yang berangkat dari pembagian kemiskinan ini. Penggolongan kemiskinan yang dimaksudkan disini adalah kemiskinan kultural, kemiskinan struktural, dan kemiskinan natural.

Kemiskinan Kultural

            Kemiskinan kultural adalah keadaan miskin yang disebabkan oleh faktor-faktor yang tertentu yang melekat dalam kebudayaan masyarakat. Terutama yang menyebabkan terjadinya proses pelestarian kemiskinan dalam masyarakat itu sendiri, misalnya kecenderungan untuk hidup boros, kurang menghargai waktu, dan kurang minat untuk berprestasi.[18]

Kemiskinan Natural

Keadaan miskin yang disebabkan oleh faktor-faktor alamiah, baik yang berkaitan dengan sumber daya manusia maupun sumber daya alam yang mengitarinya, misalnya faktor iklim, kesuburan tanah, dan bencana alam.[19]

Kemiskinan Struktural

Keadaan miskin yang disebabkan oleh faktor-faktor yang berkaitan dengan perbuatan manusia, misalnya penjajahan, pemerintahan yang otoriter dan militeristik, pengelolaan keuangan public yang sentralistik, merajalelanya praktek korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), kebijakan ekonomi yang tidak adil, serta perekonomian dunia yang lebih menguntungkan kelompok Negara tertentu.[20]

 

D.    Solusi al-Quran dalam Upaya Pengentasan Kemiskinan

Dari sudut pandang tiga ragam kemiskinan yang meletarbelakangi tumbuhnya kemiskinan dimasyarakat diatas maka dapat diidentifikasi faktor-faktor yang melatarbelakangi timbulnya kemiskinan disebabkan oleh berbagai alasan yang berbeda-beda, dan juga tidak semata-mata disebabkan oleh kaum miskin saja. Sehingga upaya yang ditempuh untuk menjawab solusi al-Quran dalam mengatasi kemiskinan berangkat dari 3 aspek tadi.

Faktor-faktor penting dalam melihat solusi al-Quran dalam upaya mengentaskan kemiskinan menurut hemat penulis berdasarkan tiga sebab diatas dapat dirumuskan sebagai berikut:

1.      Faktor Individu

Disini Penulis mengidentifikasi upaya pengentasan kemiskinan dilihat dari faktor individu ini kepada beberapa hal sebagaimana dibawah ini:

a.      Perintah untuk bekerja Keras

      Memperhatikan akar kata miskin yang disebut di atas  sebagai berarti  diam atau tidak bergerak diperoleh kesan bahwa faktor utama penyebab kemiskinan adalah sikap berdiam  diri,  enggan, atau  tidak  dapat  bergerak dan berusaha. Keengganan berusaha adalah   penganiayaan   terhadap    diri    sendiri.

Allah SWT melalui Firman-Nya menegaskan kepada umat manusia untuk tidak bersikap malas, sebaliknya Allah SWT senantiasa memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa bekerja dan berusaha untuk memperoleh rezeki dan anugerah dari-Nya.

Didalam al-Quran ditegaskan:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung. (QS. Al-Jumuah (62):10)

Bahkan Al-Quran  tidak memberi peluang bagi seseorang  untuk  menganggur sepanjang saat yang dialami dalam kehidupan dunia ini.  Firman Allah SWT:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan) tetaplah bekerja keras untuk (urusan yang lain) (QS. Al-Insyirah; 94: 7).

     Menurut Quraish Shihab Kata  faraghta  terambil dari  kata  faragha, yang berarti  “kosong setelah sebelumnya penuh”. Kata ini tidak digunakan kecuali untuk menggambarkan kekosongan yang didahului oleh kepenuhan, termasuk keluangan yang didahului oleh  kesibukan. Seseorang  yang telah memenuhi waktunya dengan  pekerjaan, kemudian ia menyelesaikan  pekerjaan  tersebut, maka waktu antara selesainya pekerjaan pertama dan dimulainya pekerjaan  selanjutnya dinamai   faragha.  Ayat di atas berpesan, “Kalau engkau dalam keluangan  sedang sebelumnya engkau telah memenuhi waktumu dengan kerja, maka fanshab.  Kata fanshab antara lain berarti  berat, letih. Pada mulanya ia berarti “menegakkan  sesuatu sampai nyata dan  mantap”.[21]

Anjuran bekerja keras sebagaimana diuraikan diatas merupakan salah satu cara mengatasi kemiskinan yang disebabkan oleh karena malas dan lemah kemauan serta sikap mental yang negatif lainnya. Sikap mental kerja keras ini perlu disuntikkan kepada mereka yang lemah kemauannya agar timbul semangat untuk bekerja mengubah nasibnya. Sebagaimana firman Allah SWT

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

… Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..(QS. Al-Ra’d,13:11)

b.      Peningkatan Kesadaran Beragama melalui reward dan punishment

      Terdapat Informasi mengenai orang yang diberikan catatan amalnya diakhirat nanti dari sebelah kiri, kemudian ia dimasukkan kedalam api neraka yang bernyala-nyala. Setelah itu ia dililit rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta yang menjadi penyebabnya demikian adalah karena ia tidak beriman kepada Allah dan tidak mau mendorong orang lain untuk memberi makan orang miskin[22].

Salah satu ayat didalam al-Quran mengancam orang yang tidak memberi makan orang yang miskin yang dikategorikan sebagai orang yang mendustakan agama. Allah SWT berfirman:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (1) فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ (2) وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (3)

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? (1) itulah orang yang menghardik anak yatim, (2) dan tidak menganjurkan memberi  makan orang miskin,(3). (QS. al-Maun, 107:1-3)

Al-Maraghi ketika menafsirkan ayat wa la yahuddu ‘ala tha’am al-miskin yang dikategorikan sebagai orang yang mendustakan agama dalam hal ini digolongkan kepada dua tipe manusia yaitu orang yang menghina kaum lemah dan bersikap sombong terhadap mereka, dan orang yang bakhil karena kekayaannya enggan memberikan sebagian hartanya kepada orang miskin dan membutuhkan.[23] Secara nyata, ancaman Allah dalam ayat ini bagi mereka tersebut adalah digolongkan kepada orang-orang yang mendustakan agama.

Semestinyalah kesadaran akan adanya ancaman Allah bagi orang-orang yang enggan menunaikan kewajibannya untuk memenuhi kebutuhan orang yang tidak mampu bagi orang-orang yang berkecukupan menjadi motivasi individual dalam merealisasikan hak-hak kaum miskin.

Berkaitan dengan konteks imbalan, al-Quran menerangkan bahwa orang yang peduli terhadap problem kemiskinan akan memperoleh lompatan kualitas iman yang tinggi, sehingga ia berhak mendapat prediket sebagai orang yang sukses (al-muflihun). Berkenaan dengan dengan janji Allah ini. Al-Quran menegaskan didalam Surat ar-Rum ayat 38.

فَآَتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ ذَلِكَ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Maka berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Ar-Rum, 30:38)

Menurut Jalaluddin as-Suyuti, orang-orang yang digolongkan sebagai muflihun  ini adalah mereka yang memperoleh surga dan terbebas dari api neraka.[24] Inilah salah satu janji Allah bagi orang yang peduli terhadap problem kemiskinan. Semestinya juga, motivasi akan adanya reward ini akan menumbuhkan kesadaran rohani bagi orang-orang yang berkecukupan untuk menunaikan kewajibannya memberikan hak-hak orang-orang yang membutuhkan.

2.      Faktor Lingkungan  Sosial Kemasyarakatan

Disini Penulis mengidentifikasi upaya pengentasan kemiskinan dilihat dari faktor lingkungan sosial kemasyarakatan kepada beberapa hal sebagaimana dibawah ini:

a.      Urgensi Zakat Produktif

Dalam  hal  ini,  Al-Quran  walaupun  menganjurkan   sumbangan sukarela   dan   menekankan  keinsafan  pribadi,  namun  dalam beberapa hal Kitab Suci ini menekankan hak dan kewajiban salah satu kewajiban tersebut adalah melalui zakat.

Informasi yang diberikan oleh Muhammad Fu’ad Abd al-Baqi bahwa didalam al-Quran kata zakat diulang sebanyak 32 kali[25] yang hampir seluruhnya disebut setelah perintah mengerjakan sholat. Hal ini menunjukkan bahwa kedudukan perintah zakat sejajar dengan perintah shalat dan keduanya saling melengkapi. Shalat lebih menunjukkan pada hubungan vertikal dengan Tuhan, sedangkan zakat merupakan ibadah yang memuat hubungan horizontal dengan manusia secara lebih menonjol. Dengan demikian terwujudlah hubungan yang seimbang antara berhubungan dengan Allah dan berhubungan dengan sesama manusia.

Apa   yang   berada  dalam  genggaman  tangan  seseorang  atau sekelompok orang, pada hakikatnya adalah milik Allah.  Manusia diwajibkan  menyerahkan  kadar tertentu dari kekayaannya untuk kepentingan  saudara-saudara  mereka.   Bukankah   hasil-hasil produksi,   apa   pun  bentuknya,  pada  hakikatnya  merupakan pemanfaatan materi-materi yang telah diciptakan  dan  dimiliki Tuhan?  Bukankah  manusia  dalam  berproduksi hanya mengadakan perubahan, penyesuaian, atau perakitan satu bahan dengan bahan lain  yang  sebelumnya  telah diciptakan Allah? Seorang petani berhasil dalam pertaniannya karena adanya  irigasi,  alat-alat (walaupun  sederhana),  makanan, pakaian, stabilitas keamanan, yang kesemuanya tidak mungkin dapat  diwujudkan  kecuali  oleh kebersamaan   pribadi-pribadi   tersebut,   dengan  kata  lain “masyarakat”. Pedagang demikian pula halnya.[26]

Jelas   sudah   bahwa  keberhasilan  orang  kaya  adalah  atas keterlibatan banyak pihak, termasuk para fakir miskin:

“Kalian mendapat kemenangan dan kecukupan berkat orang-orang lemah di antara kalian.” Demikian Nabi Saw. bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Daud melalui Abu Ad-Darda’.

Didalam al-Quran ditegaskan:

وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

Dan pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta, dan orang miskin yang tidak meminta, (QS. Az-Zariyat, 51:19)

Jadi, didalam kekayaan orang-orang yang ada dilapisan atas itu ada hak yang mesti dikeluarkan bagi orang yang memerlukan dan bagi orang miskin.

Kewajiban menunaikan zakat yang demikian tegas dan mutlak itu oleh karena di dalam ajaran Islam ini terkandung hikmah dan manfaat yang demikian besar dan mulia, baik yang berkaitan dengan muzakki, mustahik, harta benda yang dikeluarkan zakatnya, maupun bagi masyarakat secara keseluruhan.

Setidaknya terdapat dua hikmah zakat dalam kaitannya dengan solusi zakat dalam upaya pengentasan kemiskinan , antara lain:

Pertama, prinsip pokok zakat pada dasarnya adalah perwujudan iman kepada Allah SWT, mensyukuri nikmat-Nya, menumbuhkan akhlak mulia dengan memiliki rasa kepedulian yang tinggi, menghilangkan sifat kikir dan rakus, menumbuhkan ketenangan hidup, sekaligus mengembangkan dan mensucikan harta yang dimiliki (QS. At-Taubah, 9: 103, QS. Ar-Rum, 30:39, QS. Ibrahim, 14: 7).

Kedua, karena zakat merupakan hak bagi mustahik, maka berfungsi untuk menolong, membantu dan membina mereka, terutama golongan fakir miskin, ke arah kehidupan yang lebih baik dan lebih sejahtera, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan layak, dapat beribadah kepada Allah SWT, terhindar dari bahaya kekufuran, sekaligus menghilangkan sifat iri, dengki dan hasad yang mungkin timbul dari kalangan mereka ketika melihat golongan kaya yang berkecukupan hidupnya. Zakat, sesungguhnya bukan sekedar memenuhi kebutuhan yang bersifat konsumtif yang sifatnya sesaat, akan tetapi memberikan kecukupan dan kesejahteraan pada mereka, dengan cara menghilangkan atau memperkecil penyebab kehidupan mereka menjadi miskin dan menderita.[27]

     Solusi efektif pendayagunaan zakat dalam mengatasi kemiskinan ini sebagaimana direkomendasikan oleh Tim penelitian dan Seminar Zakat DKI Jakarta antara lain memutuskan bahwa pembagian zakat harus bersifat produktif, edukatif, dan ekonomis, sehingga pada akhirnya penerima zakat menjadi pemberi zakat.

Pendayagunaan zakat secara produktif ini nampak lebih merupakan langkah mengatasi kemiskinan yang amat strategis. An-Nawawi dalam al-Majmu’ sebagaimana dikutip Sofiah didalam Kajian Tematik al-Quran[28] mengemukakan bahwa prinsip zakat produktif dapat digambarkan ketika seorang fakir miskin yang tenaganya mampu untuk bekerja, hendaknya diberi alat-alat untuk bekerja sesuai dengan keahliannya atau diberi modal untuk berdagang agar mereka dapat melakukan perbaikan tarah hidupnya. Ditambahkan oleh Ibrahim al-Bajuri, menurutnya bahwa fakir agar diberi zakat yang dapat mencukupi biaya hidupnya sepanjang hayt menurut ukuran yang wajar. Dengan zakat tersebut fakir miskin dapat membuka lahan untuk bertani.[29]

Dengan demikian jelaslah, efektifitas zakat produktif ini  akan lebih diberdayakan dengan solusi pemberian modal,  dengan istilah lain ialah memberikan pancing untuk mengail bukan hanya memberikan ikannya saja.

b.      Prinsip Kerjasama dalam Lingkungan Keluarga dan Masyarakat

      Al-Quran menegaskan hubungan kekerabatan dalam lingkungan keluarga sebagai pondasi membangun keutuhan masyarakat secara umum. Al-Quran menegaskan bahwa pada prinsipnya tanggung jawab sosial pribadi dalam masyarakat lebih diutamakan untuk dibebankan kepada kerabat dan keluarga. Karena, boleh jadi disebabkan oleh suatu hal, seseorang yang tidak memperoleh kecukupan untuk memenuhi kebutuhan keluarga atau kerabat terdekatnyalah yang lebih bertanggung jawab dan lebih berhak terhadapnya.

Hal ini sebagaimana ditegaskan didalam surat al-Anfal, 8:75 berikut ini:

وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ

Orang-orang yang berhubungan kerabat itu sebagian lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) (QS Al-Anfal [8]: 75).

وَآَتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا

Dan berikanlah kepada keluarga dekat haknya, juga kepada orang miskin, dan orang yang berada dalam perjalanan…(QS Al-Isra’ [17]: 26).

Ayat ini menggarisbawahi adanya hak bagi keluarga  yang  tidak mampu  terhadap  yang  mampu. Dalam mazhab Abu Hanifah memberi nafkah kepada anak dan cucu, atau ayah  dan  datuk  merupakan. Kewajiban walaupun mereka bukan muslim.

      Disamping itu, prinsip kerjamasama didalam al-Quran tidak hanya karena faktor kekerabatan dan kekeluargaan semata akan tetapi lebih luas lagi, prinsip kerja sama mutlak diwujudkan didalam lingkungan sosial masyarakat secara keseluruhan.

Prinsip pokok yang ditegaskan oleh al-Quran dalam hal ini didasarkan kepada Firman Allah SWT berikut ini:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

… Dan Tolong meneolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…(QS. Al-Maidah,5:2)

Dengan Prinsip ini maka timbullah suasana kerjasama yang saling menguntungkan dan didasarkan atas musyawarah, kemitraan, serta keadilan sosial.

Al-Quran memaparkan ajarannya secara komprehensif dengan memperhatikan kepentingan individu dan masyarakat. Individu dilihatnya secara utuh, fisik, akal dan kalbu, dan masyarakat dihadapinya dengan menekankan adanya kelompok lemah dan kuat, tetapi tidak menjadikannya sebagai kelas-kelas yang saling bertentangan sebagaimana halnya komunisme, namun mendorong mereka semua untuk bekerjasama guna meraih kemaslahatan individu tanpa mengorbankan masyarakat atau sebaliknya[30]. Sebagaimana firman Allah SWT.

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَةَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَةُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Apakah mereka yang membagi-bagikan rahmat Tuhamu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagaian mereka memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (QS. Az-Zukhruf, 43:32)

Kerjasama ini dalam ekonomi amat penting, yaitu antara pedagang yang kuat dengan pedagang yang lemah, antara pedagang dan pembeli, produsen dan konsumen, pemilik barang dengan pemilik modal, buruh dan majikannya, dan seterusnya.

3.      Faktor Pemerintah

Membangun Sistem Ekonomi yang Adil

Salah satu sebab terjadinya kemiskinan sebagaimana disebutkan diatas, adalah karena system perekonomian yang berlaku dimasyarakat adalah system ekonomi yang saling mematikan, menghalalkan segala cara dan penuh persaingan. Dalam keadaan ekonomi yang demikian itu, maka pihak yang memiliki modal yang besar, memiliki sarana, ilmu dan teknologi lebih dapat bersaing dibanding golongan pedagang kecil yang tidak memiliki modal yang besar dan lainnya itu. Untuk itu akibatnya pedagang kecil dari golongan miskin dengan mudah dapat dimatikan oleh golongan ekonomi yang kuat.[31]

            Adanya prinsip keadilan yang diwujudkan dengan prinsip pemerataan ekonomi yang adil ini ditegaskan oleh Ibn Hazm sebagaimana dikutip oleh Amien Rais didalam bukunya Tauhid Sosial mengatakan bahwa kalauditengah masyarakat ada kelompok kaya dan miskin, sudah jadi kewajiban kelompok kaya tadi untuk melakukan proses pemerataan sosial ekonomi ke seluruh masyarakat. Dan menjadi hak kelompok orang-orang dibawah, miskin untuk mengambil haknya dari kelompok kaya.[32]

Didalam al-Quran prinsip tentang keadilan disini ditegaskan didalam surat al-Hadid (57) ayat 25:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ

Sungguh, kami telah mengutus rasul-rasul kami, dengan bukti-bukti yang nyata dan kami turunkan bersama mereka Kitab dan neraca (keadilan)agar manusia dapat berlaku adil… (QS. Al-Hadid, 57:25).

            Sebagai misi utama para Nabi yang diutus Allah, termasuk penegakan keadilan ekonomi dan penghapusan kesenjangan pendapatan. Keadilan  sosial ekonomi dalam Islam, selain didasarkan pada komitmen spiritual, juga didasarkan atas konsep persaudaraan universal sesama manusia. Komitmen Islam yang besar pada persaudaraan dan keadilan, menuntut agar semua sumber daya yang menjadi amanat suci Allah, digunakan untuk mewujudkan maqasidh syariah yakni pemenuhan kebutuhan hidup manusia, terutama dasar (primer), seperti sandang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan. Persaudaraan dan keadilan juga menuntut agar sumber daya didistribusikan secara adil kepada seluruh rakyat melalui kebijakan yang adil dan instrument zakat, infaq, sedaqah, pajak, kharaj, jizyah, cukai ekspor-impor dan sebagainya.

Disinilah peran serta pemerintah, guna untuk membangun sistem ekonomi yang adil menurut prinsip-prinsip dasar keadilan dan pemerataan didalam al-Quran. Sehingga solusi pengentasan kemiskinan struktural dapat terwujud sebagaimana yang diharapkan.

E.     Kesimpulan

      Jalaluddin Rakhmat dalam Islam Alternatif mengungkapkan bahwa diantara misi terpenting Islam, bahkan menurut Fazlur Rahman-diantara major themes of al-Quran- ialah membela, menyelamatkan, melindungi dan memuliakan kelompok miskin, dan dhuafa (yang lemah atau yang dilemahkan;yang menderita atau yang dibuat menderita).[33]  Semakin urgennya persoalan tentang tema kemiskinan didalam al-Quran menjadi menarik jika diupayakan juga untuk mencari solusi al-Quran dalam upaya pengentasannya.

Dengan demikian, berdasarkan paparan diatas dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Pada prinsipnya orang miskin dan orang faqir adalah mereka yang tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai kebalikan dari orang kaya yaitu orang yang memiliki kelebihan harta seukuran satu nisab dari kebutuhan pokoknya dan anak-anaknya yang meliputi kebutuhan bidang sandang, pangan, papan, minuman, kendaraan, sarana untuk bekerja dan lain sebagainya.
  2. Faktor-faktor penyebab timbulnya kemiskinan dapat diidentifikasi dari 3 penggolongan kemiskinan yaitu kemiskinan kultural, kemiskinan struktural, dan kemiskinan natural.
  3. Solusi al-Quran dalam upaya untuk pengentasan kemiskinan dapat dilihat dari tiga faktor yaitu faktor individu meliputi perintah untuk bekerja keras dan peningkatan kesadaran beragama melalui reward dan punishment, faktor lingkungan sosial kemasyarakatan meliputi urgensi zakat produktif, prinsip membangun kerjasama dalam lingkungan kerabat dan masyarakat, dan faktor pemerintah melalui upaya membangun system ekonomi yang adil dalam masyarakat.
  4. Solusi al-Quran ini diharapkan dapat menjadi solusi konkrit dalam upaya pengentasan kemiskinan global khususnya di Indonesia.

Daftar Pustaka

 

Buku  

 

Al-Ashpahani, Ar-Raghib, Al-Mufradat fi Gharib al-Quran, Juz I, (ttt;Maktabah    Nazar al-Musthafa al-Baz,tt)

Al-Baqiy, Muhammad Fu’ad abd , al-Mu’jam al-Mufahras li al-Fadzh al-Qur’an   al-Karim, al-Qahirah:Dar al Kutub al-Mishriyyah, 1364)

Al-Farmawi, Abdul Hayy , Metode Tafsir Maudhu’i: suatu pengantar, Suryan        A. Jamrah (penerj.), (Jakarta: Raja Grafindo, 1994)

Al-Maraghi, Ahmad Musthafa, Tafsir al-Maraghi, (Mesir: Musthafa al-Ba’iy al-     Halabiy wa awladihi , 1946)

Nata, Abuddin, dkk, Kajian Tematik Al-Quran tentang Konstruksi Sosial,   (Bandung:Angkasa Raya, 2008)

Siahaan, N.H.T., Hukum Lingkungan dan Ekologi Pembangunan,   (Jakarta:           Erlangga, 2004)

Shihab, M. Quraish Wawasan al-Quran,(Bandung:Mizan, 1996)

_________, Membumikan al-Quran Jilid 2, (Jakarta:lentera Hati, 2011)

Suroyo, Al, dkk, Agama dan Kepercayaan membawa Pembaruan.             (Jogjakarta:      Kanisius, 2006)

As-Suyuthi, Jalaluddin dan Jalaluddin al-Mahalli, Tafsir Jalalain, al-Maktabah al-  Syamilah

Rais, M. Amien,  Tauhid Sosial; Formula Menggempur Kesenjangan,         (Bandung:Mizan, 1998)

Rakhmat, Jalaluddin , Islam Alternatif:Ceramah-ceramah di Kampus, (Bandung:   Mizan, 1998)

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar             Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, (Jakarta:Balai Pustaka, 1999)

Wahbah az-Zuhaili, Tafsir al-Munir fi al-Aqidah, wa al-Syariah, (‘Arid al-Kutub    al-Ikluktruniyyah)

Jurnal

Hafidhuddin, Didin,  Zakat Sebagai Tiang Utama ekonomi Syariah, Makalah        disampaikan pada acara Seminar Bulanan Masyarakat ekonomi Syariah,           (Jakarta, Aula bank Mandiri Tower, 2006)

 

Website

http://www.waspada.co.id/kemiskinan-jadi-masalah-terbesar-dunia. diakses pada   hari minggu 21 Oktober 2012

http://psq.or.id/artikel/ibadah-dan-kerja. pada tanggal 21 Oktober 2012

 


                [1] Disampaikan pada Pelatihan dan Pembekalan Peserta MTQ Nasional Provinsi Sumatera Barat  cabang M2IQ pada tanggal 20-22 Oktober 2012 di The Aliga Hotel Padang.

                [2] http://www.waspada.co.id/kemiskinan-jadi-masalah-terbesar-dunia. diakses pada hari minggu 21 Oktober 2012

                [3] Siahaan, N.H.T., Hukum Lingkungan dan Ekologi Pembangunan, (Jakarta:Erlangga, 2004), hal. 83-84

                [4] Didin Hafidhuddin, Zakat Sebagai Tiang Utama ekonomi Syariah, Makalah disampaikan pada acara Seminar Bulanan Masyarakat ekonomi Syariah, (Jakarta, Aula bank Mandiri Tower, 2006)

                [5] Ayat terdapat dalam al-Quran surat al-Isra’ (17) ayat 9,  secara utuh berbunyi:

إِنَّ هَذَا الْقُرْآَنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرً

Sungguh, al-Quran ini member petunjuk kejalan yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar.

                [6]Tafsir Tematik (Tafsir maudhu’i) maksudnya adalah membahas ayat-ayat al-Quran sesuai dengan tema dan judul yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, penafsir yang memakai metode ini akan meneliti ayat-ayat al-Quran dan melakukan analisis berdasar ilmu yang benar, yang digunakan oleh pembahas untuk menjelaskan pokok permasalahan tersebut dengan mudah dan betul-betul menguasainya, sehingga kemungkinan baginya untuk memahami maksud yang terdalam dan dapat menolak segala kritik. Lihat Abdul Hayy al-Farmawi, Metode Tafsir Maudhu’i: suatu pengantar, Suryan A. Jamrah (penerj.), (Jakarta: Raja Grafindo, 1994), hal. 36-37

                [7] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, (Jakarta:Balai Pustaka, 1999), hal. 660

                [8] Ibid, hal. 273

                [9] Ar-Raghib al-Ashpahani, Al-Mufradat fi Gharib al-Quran, Juz I, (ttt;Maktabah Nazar al-Musthafa al-Baz,tt) hal.312

                [10] Muhammad Fu’ad abd al-Baqiy, al-Mu’jam al-Mufahras li al-Fadzh al-Qur’an al-Karim, al-Qahirah:Dar al Kutub al-Mishriyyah, 1364) hal. 354

                [11] Ar-Raghib al-Ashpahani, Op.Cit., Juz II hal. 492

                [12] Muhammad Fu’ad abd al-Baqiy, Op.Cit. hal. 524-525

                [13] Ayat yang biasa dijadikan rujukan ketika berbicara tentang mustahiq (penerima zakat) disinggung dalam QS. Al-Taubah (9):60 berikut ini:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang faqir, orang-orang miskin, amil zakat, para muallaf yang dubujuk hatinya, untuk memerdekakan budak, orang-orang yang terlilit hutang, untuk dijalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan.

                [14] Wahbah az-Zuhaili, Tafsir al-Munir fi al-Aqidah, wa al-Syariah, (‘Arid al-Kutub al-Ikluktruniyyah)

                [15] Ibid.

                [16] M. Quraish Shihab, Wawasan al-Quran ,(Bandung:Mizan, 1996) hal. 449

                [17] Abuddin Nata, dkk, Kajian Tematik Al-Quran tentang Konstruksi Sosial, (Bandung:Angkasa Raya, 2008) hal. 154-155

                [18] Al. Suroyo, dkk, Agama dan Kepercayaan membawa Pembaruan. (Jogjakarta: Kanisius, 2006), hal.97

                [19] Ibid.

                [20] Ibid.

                [21] M. Quraish Shihab, Ibadah dan Kerja, diambil dari artikel dalam website Pusat Studi al-Quran (PSQ), http://psq.or.id/artikel/ibadah-dan-kerja. pada tanggal 21 Oktober 2012.

                [22] Abuddin Nata, Op.Cit. hal. 178

                [23] Ahmad Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, (Mesir: Musthafa al-Ba’iy al-Halabiy wa awladihi , 1946) Juz 30, hal. 249

                [24] Jalaluddin as-Suyuthi dan Jalaluddin al-Mahalli, Tafsir Jalalain, al-Maktabah al-Syamilah

                [25] Muhammad Fu’ad abd al-Baqiy, Op.Cit. hal. 376

                [26] M. Quraish Shihab, Op.Cit., hal. 456

                [27] Didin Hafidhuddin, Op.Cit.

                [28] Abuddin Nata, dkk, Op.Cit,. hal. 175

                [29] Ibid. hal. 176

                [30] M. Quraish Shihab, Membumikan al-Quran Jilid 2, (Jakarta:lentera Hati, 2011), hal. 386.

                [31] Abuddin Nata, dkk, Op.Cit,. hal. 170

                [32] M. Amien Rais, Tauhid Sosial; Formula Menggempur Kesenjangan, (Bandung:Mizan, 1998), hal. 111

                [33] Jalaluddin Rakhmat, Islam Alternatif:Ceramah-ceramah di Kampus, (Bandung: Mizan, 1998), hal. 85


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: