Mufdil’s Weblog


Studi Islam Liberal
Agustus 6, 2009, 3:42 am
Filed under: Karya Ilmiah

STUDI ISLAM LIBERAL SEBAGAI ALIRAN BERCORAK RASIONAL

Oleh : Mufdil Tuhri

A. Pendahuluan

Pada tahun 100H/718M telah muncul aliran baru dalam teologi islam yang disebut aliran Mu’tazilah yang dibidani oleh Washil bin Atho’ murid Hasan al-Bashri. Ciri utama yang membedakan aliran ini dari aliran teologi Islam lainnya adalah pandangan-pandangan teologisnya lebih banyak ditunjang oleh dalil-dalil aqliyah dan lebih bersifat filosofis, sehingga sering disebut aliran rasionalis Islam. Selain nama Mu’tazilah, pengikut aliran ini juga sering disebut kelompok Ahlut-Tauhid, kelompok Ahlul ‘adil, dan lain-lain[1].

Pada awal perkembangannya, Kelompok ini baru memperoleh dukungan yang luas, terutama dikalangan intelektual, pada masa pemerintahan khlalifah al-Ma’mun, penguasa Abbasiah periode 198-218 H./813-833 M. kedudukan Mu’tazilah menjadi semakin kokoh setelah al-Ma’mun menyatakannya sebagai madzhab resmi negara. Pada Perkembangan selanjutnya Aliran Mu’tazilah ini hanya mendapat tempat pada masa Kekhalifahan Al Makmum, Mu’tashim dan Al-Wasiq (813M-847M)[2]. Dimasa al-Mutawakkil, dominasi aliran Mu’tazilah menurun dan menjadi semakin tidak simpatik dimata masyarakat. Keadaan ini semakin buruk setelah al-Mutawakil membatalkan mazhab Mu’tazilah sebagi mazhab resmi negara dan menggantinya dengan aliran Asy’ariyah. Selama berabad-abad kemudian Mu’tazilah tersisih dari panggung sejarah, tergeser oleh aliran Ahlussunnah wal Jama’ah

Dewasa ini, Seiring dengan semakin gencarnya para pemikir Barat (orientalisme) mempelajari Islam dan kemudian menyuguhkannya pada para pemikir-pemikir Islam modern seperti Hasan Hanafi, Nasr Hamid Abu Zayd, Mohammad Arkoun, faham Mu’tazilah kini muncul dengan wajah barunya, bahkan kini sudah merambah ke tokoh-tokoh Muslim Indonesia kemudian melempar isu-isu yang nakal yang dapat merusak keimanan setiap muslim, betapa tidak, beberapa dari mereka bahkan secara terang-terangan sudah mempertanyakan ke-otentikan al-Qur’an dan menganggap semua agama benar (pluralisme agama). Masih segar dalam ingatan kita beberapa waktu yang lalu salah satu tokoh Islam Liberal Ulil Abshar secara tegas menyatakan bahwa kaum liberalis adalah penerus aliran Mu’tazilah, bahkan kalau melihat pemikiran-pemikirannya mereka justru melebihi aliran Mu’tazilah, banyak pemikir liberal mencoba merelatifkan nilai-nilai ajaran Islam dengan menyamakannya seperti budaya lain.Hal ini dilakukan dangan merelatifkan nilai kenabian Muhammad SAW., dengan memandang beliau sama saja dengan reformis-reformis lainnya, Muhammad SAW itu adalah manusia biasa tak lebih dan tak kurang, kata Hamid Basya’ib, aktifis Islam Liberal. Demikian juga dengan al-Qur’an, mereka mengatakan al-Qur’an adalah produk budaya, karena ia terbentuk dalam sebuah realitas budaya dan mnggunakan bahasa budaya ketika itu . Al-Qur’an itu, kata Arkoun, persis seperti Bible, ia merupakan kumpulan kata-kata Tuhan yang diberikan kepada Nabi Muhammad dalam bahasa manusia (bandingkan dengan ide al-Qur’an adalah makhluq yang diusung oleh Mu’tazilah).[3]

Dilatarbelakangi oleh hal tersebut diatas,  Maka Perkembangan Islam Liberal sebagai sebuah Gerakan Islam yang bercorak Rasional menjadi pembahasan makalah ini sehingga akan disajikan siapa sebenarnya Islam Liberal, Tokoh-tokoh Islam liberal, Doktrin-doktrin islam liberal dan berbagai peristilahan yang dikaitkan dengan Islam liberal.

B. Sebuah Pengantar tentang Istilah Islam Liberal.

Istilah Islam Liberal istilah  Charles Khurzman dalam bukunya yang terkenal yaitu A Source Book (edisi Indonesia : Wacana Islam Liberal). Penggunaan istilah itu menurut Khurzman pernah dipopulerkan oleh Asaf Ali Asghar Fyzee (1899-1981), intelektual muslim india, sejak tahun 1950-an. Mungkin Fyzee orang pertama yang menggunakan istilah Islam Liberal.[4] Lebih lanjut Khurzman menyebut enam gagasan yang dapat dipakai sebagai tolok ukur sebuah pemikiran Islam dapat disebut “Liberal” yaitu: (1). melawan teokrasi, yaitu ide-ide yang hendak mendirikan negara Islam; (2). mendukung gagasan demokrasi; (3). membela hak-hak perempuan; (4) membela hak-hak non-Muslim; (5) membela kebebasan berpikir; (6) membela gagasan kemajuan. Siapapun saja, menurut Kurzman, yang membela salah satu dari enam gagasan di atas, maka ia adalah seorang Islam Liberal.[5]

latar belakang pemikiran liberal Islam mempunyai akar yang jauh sampai di masa keemasan Islam (the golden age of Islam). Teologi rasional Islam yang dikembangkan oleh Mu’tazilah dan para filsuf, seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Rusyd dan sebagainya, selalu dianggap telah mampu menjadi perintis perkembangan kebudayaan modern dewasa ini. Pemikiran liberal Islam yang memberi bobot besar terhadap penafsiran baru ajaran Islam[6]

Menurut Liutfhi Asy-Syaukanie, istilah Islam liberal mulai dipopulerkan sejak tahun  1950-an. Ditimur tengah, akar-akar gerakan Liberalisme bisa ditelusuri hingga awal abad ke-19, ketika apa yang disebut “gerakan kebangkitan” (Harakah al-Nahdhah) di kawasan itu secara hampir serentak dimulai. Di Indonesia sendiri mulai timbul sekitar tahun 1980-an yang dibawa olah tokoh utama dan sumber rujukan utama kamunitas Islam Liberal Indonesia. Nurcholis Madjid, Meski Cak Nur tidak pernah menggunakan istilah tersebut dalam gagasan-gagasan pemikiran islamnya, tetapi ia tidak menentang ide-ide Islam Liberal.[7]

Di Indonesia Islam Liberal erat kaitannya dengan suatu gerakan yang disebut dengan Jaringan Islam Liberal. Jaringan Islam Liberal atau yang biasa disingkat dengan JIL ini sendiri adalah forum intelektual terbuka yang mendiskusikan dan menyebarkan liberalisme Islam di Indonesia. Forum ini bersekretariat di Teater Utan Kayu, Jalan Utan Kayu no. 68 H, Jakarta, sebidang tanah milik jurnalis dan intelektual senior Goenawan Mohammad. Sejak Februari 2001 pula forum ini mulai aktif sebagai Jaringan Islam Liberal, terutama dalam menyelenggarakan diskusi-diskusi. Pada usia awalnya, perkembangan forum ini juga tak lepas dari dukungan dan kontribusi beberapa intelektual lainnya, baik di luar maupun intra JIL, seperti Nurcholish Madjid, Azyumardi Azra, Komaruddin Hidayat, Ahmad Sahal, Budhy Munawar-Rachman, Hamid Basyaib, Luthfi Assyaukanie, Rizal Mallarangeng, Denny J. A., Ihsan Ali-Fauzi, A.E. Priyono, Samsurizal Panggabean, Ulil Abshar Abdalla, Saiful Mujani and Hadimulyo. JIL tidak punya sistem keanggotaan untuk menjaga kelonggaran dan inklusivisme. Saat ini koordinator JIL adalah Ulil Abshar Abdalla, seorang tokoh Islam liberal muda. Pendanaan JIL juga datang dari The Asia Foundation sebuah yayasan yang peduli terhadap sekulerisme, pluralisme, liberalisme, hingga kesetaraan gender. Dari yayasan inilah Ulil juga pernah mendapat penghargaan.[8]

  1. C. Paham Islam Liberal sebagai Wajah Baru Mu’tazilah

Sebagaimana yang telah dijelaskan pada bab Pendahuluan, Paham Mu’tazilah yang bercorak Rasional pada hakikatnya sudah muncul dengan wajah barunya. Ialah Islam Liberal yang mengangkat sisi lain dari pemahamannya tentang Ajaran Islam. azas kebebasan berfiikir, berkeyakinan dan beragama yang dianut oleh aliran Islam Liberal. Pada Intinya, Islam Liberal melalui corak pemikirannya ingin mengubah ajaran Islam agar sesuai dengan zaman, aqidahnya diubah, syariatnya diubah dan sebagainya. Ide-ide Pokok yang dikembangkan itu pada dasarnya adalah ideologi kaum rasionalis mereka telah menyebarkan paham-paham liberalismenya sebagai paham yang diusung oleh Jaringan Islam Liberal ini.[9]

Soal Pluralisme Agama, Dekonstruksi Syari’at, Penggunaan Hermeneutika untuk menafsirkan kitab sucinya, dan sekularisme menjadi soal-soal yang dibahas oleh kelompok ini. Sementara para pakar menganalisis pemahaman ini sebagai gerakan Wsternisasi Barat. Alasannya, Liberalisasi agama merupakan respon terhadap tantangan hegemoni peradaban barat dalam bebagai bidang, agar agama itu biasa diterima dan sesuai dengan nilai-nilai barat. Yahudi Liberal itu adalah upaya untuk menjadikan agama yahudi bisa kompetibel dengan peradaban barat, begitu juga kristen Liberal, juga Islam Liberal.

Secara Garis besar Paham yang diusung oleh Islam Liberal Meliputi dua hal yaitu :

1. Pluralisme

Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup dan berdampingan di surga.

Gagasan Pluraslisme Agama yang diusung oleh Islam Liberal ini telah mendapat tanggapan dari MUI. Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor : 7/MUNAS VII/MUI/II/2005 Tentang PLURALISME, LIBERALISME DAN SEKULARISME AGAMA menyatakan bahwa paham Pluralisme, Islam Liberal, dan Sekularisasi bertentangan dengan ajaran agama Islam (sesat).

Pluralisme Agama yng diusung oleh Islam Liberal ini dibantah oleh MUI[10] melalui beberapa dalil yang menjadi bantahan adanya Pluralisme Agama yakni :

Firman Allah : Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima agama itu, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi… (QS. Ali Imaran [3]: 85) Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam… (QS. Ali Imran [3]: 19) Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku. (QS. al-Kafirun [109] : 6).

Imam Muslim (w. 262 H) dalam Kitabnya Shahih Muslim, meriwayatkan sabda Rasulullah saw : “Demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad, tidak ada seorangpun baik Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentang diriku dari Umat Islam ini, kemudian ia mati dan tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa, kecuali ia akan menjadi penghuni Neraka.” (HR Muslim).

Paham lain yang depersoalkan Islam Liberal ini seputar Liberalisasi agama adalah Sekulerisme, yaitu faham yang menganggap bahwa agama itu tidak ada urusan dengan dunia, negara dan sebagainya. Inklusifisme adalah faham yang menganggap agama kita dan agama orang lain itu posisinya sama, saling mengisi, mungkin agama kita salah, agama lain benar, jadi saling mengisi. Tidak boleh mengakui bahwa agama kita saja yang benar. (Ini saja sudah merupakan faham pemurtadan).

2. Liberalisme

Liberalisme adalah memahami nash-nash agama (Al-Qur’an & Sunnaah) dengan menggunakan akal pikiran yang bebas; dan hanya menerima doktrin-doktrin agama yang sesuai dengan akal pikiran semata.

Dalam Perspektif Islam Liberal, Liberalisme adalah sebuah pandangan yang membebaskan diri dari otoritarianisme agama, meminjam istilah Khaled Abu Fadhl, yaitu yang berbentuk ortodoksi sebagai hasil dari himpunan konsensus-konsesus besar dalam pemikiran Islam di bidang fiqih, kalam, filsafat dan tasauf yang menghegemoni dan mendominasi keberagamaan umat Islam.[11]

mengenai Liberalisme, sebenarnya lebih tepat disebut sebagai rasionalisme atau pendekatan filsafati, yaitu pemikiran yang sepenuhnya didasarkan pada akal manusia dan dalam kaitannya dengan Islam, bebas dari ikatan teks atau wahyu atau pendekatan trekstual (tetapi masih berorientasai kepada teks hanya dengan pendekatan lain misalnya tafsire kontekstual dan hermeunetika modern). Dalam sejarah pemikiran Islam sendiri memang dikenal paham rasionalisme itu, misalnya tercermin pada paham Mu’tazilah atau pemikiran Ibn Rush, Ibn Thufail dan al Razi. Namun betapapun rasionalnya paham aliran kalam dan filsuf-filsuf Muslim itu, mereka tidak sampai begitu jauh sehingga sama sekali meninggalkan teks (al Qur’an dan Sunnah).

Pembebasan atau liberasi dalam Liberalisme ini terjadi di dua wilayah. Pertama adalah wilayah iman dan kedua wilaqyah aqidah. Menurut paham Liberalisme, iman dan aqidah adalah masalah individu yang memiliki otonomi. Pengembalian iman dan aqidah kepada individu menciptakan kebebasan beragama. Kedua, adalah wilayah pemikiran. Liberalisasi pemikiran Islam menghadapi isu-isu kontemporer, misalnya demokrasi, hak-hak asasi manusia, kesetaraan jender, kesetaraan agama-agama dan hubungan antar agama, tidak lagi terikat pada paradigma lama dan tidak terikat pula pada teks yang tidak berubah dan tidak bisa diubah itu, melainkan percaya pada kemampuan akal budi manusia anugerah Tuhan dalam merumuskan solusi terhadap masalah masalah kontemporer itu. Penggunaan akal pikiran itupun adalah perintah Allah dan Rasulnya.[12]

Jika terpaku kepada Hadist yang menyatakan bahwa perempuan tidak bisa dijadikan pemimpin atau hakim, maka Islam akan menjadi penghalang dalam proses demokratisasi dan kesetaraan jender. Demikian pula jika otoritas keagamaan masih berpegang kepada fiqih waris, bahwa pemempuan hanya berhak memperoleh separo dari yang diterima laki-laki, maka hal ini akan melanggar hak-hak asasi manusia maupun prinsip kesetaraan jender. Karena itu para pemikir liberal di bidang hukum seperti Qasim Amin atau atau Mohammad Said el Ashmawi dari Mesir mencoba melakukan dekonstruksi pemikiran lama dan menjawab persoalan jender secara liberal, dengan memakai pendeklatan-pendekatan ilmu pengetahuan modern.

D. Fiqih Lintas Agama sebagai sebuah Produk JIL.[13]

Buku “Fikih Lintas Agama” yang ditulis oleh tim sembilan penulis Paramadina di Jakarta bekerjasama dengan yayasan The Asia Foundation yang berpusat di Amerika.

Tim penulis paramadina sembilan orang itu adalah; Nurcholish Madjid, Kautsar Azhari Noer, Komarudin Hidayat, Masdar F. Mas’udi, Zainun Kamal, Zuhairi Misrawi, Budhy Munawar-Rahman, Ahmad Gaus AF dan Mun’im A. Sirry. Mereka menulis buku yang judul lengkapnya; “Fikih Lintas Agama Membangun Masyarakat Inklusif-Pluralis”. Cetakan: I, September 2003.

“Aqidah yang berbeda” itu memerlukan “Fikih yang berbeda” pula. Mereka sendiri yang menyatakan itu, bahwa yang aqidahnya eksklusif maka Fikihnya eksklusif pula, sedang mereka (kaum liberal) yang aqidahnya inklusif pluralis alias menyamakan semua agama, maka memerlukan Fikih pluraris pula. Mereka buatlah ramai-ramai (9 orang) sebuah buku setebal 274 halaman dengan judul “Fikih Lintas Agama”.

Sesuai dengan sifatnya ‘yang berbeda’, maka Fikih Lintas Agama itu pun berbeda dengan fikih hasil ijtihad para ulama. Di antara perbedaannya bisa disimplifikasikan/ disederhanakan sebagai berikut:

  1. 1. Orang kafir naik kedudukannya hingga suaranya bisa dijadikan hujjah untuk membantah ulama, bahkan bisa-bisa untuk membantah hadits bahkan naik lagi bisa untuk membantah ayat Al-Qur’an.
  2. 2. Orang kafir berhak nikah dengan Muslim dan Muslimat.
  3. 3. Orang kafir berhak mendapatkan waris dari orang Muslim.
  4. 4. Orang Muslim tidak boleh menegakkan syari’at Islam dalam kehidupan siyasah.
  5. 5. Orang Muslim dalam kehidupannya hanya boleh diatur pakai selain syari’at Islam.
  6. 6. Muslim dan kafir sama, namun jangan bawa-bawa agama untuk mengatur hidup ini. Ini artinya, aturan dari orang kafir harus dipakai, sedang aturan dari Allah tak boleh dipakai.

Untuk lebih jelasnya tentang Fiqh Lintas Agama ini, Telah lahir sebuah buku yang berisi bantahan tentang lontaran-lontaran Islam Liberal ini. Yakni Buku “Menangkal Bahaya JIL dan FLA” karya Hartono Ahmad Jaiz dan Agus Hasan Bashori.

E. Penutup dan Kesimpulan

Berdasarkan Uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa Aliran Neo Mu’tazilah sebagai sebuah aliran dengan corak rasional mu’tazilah dengan wajah baru lebih tepat di sandang oleh Islam Liberal. Aneka macam definisi tentang Islam Liberal ini tidak akan menghilangkan corak Rasional yang mendasari pemikirannya.

Sehingga paham yang dikembangkannya tidak terlepas dari pemahaman yang didasarkan pada azas kebebasan berfiikir, berkeyakinan dan beragama yaitu yang dikenal dengan istilah Liberalisme dan Pluralisme.


DAFTAR PUSTAKA

Harun Nasution, Teologi Islam ; Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, (Jakarta:UIP            Press, 1978) h. 61

Muchib Aman Aly, Muktazilah dan Akidah Kaum Sophist, 2007, Http//:            www.hidayatullah.com.

Muhammad Zaki Husein, Islam Liberal Prospek dan tantangannya, dari Brosur Agama            Paramadina, tth,tp.th

M. Dawan Rahardjo, Pluralisme, Sekularisme, dan Liberalisme, bag. 1, 2009, http//:            www. icrp- online. org

Melawan Fitnah Jaringan Islam Liberal, 2009, http//:www,pakdenono.com.

http//: roele.wordpress.com/2008/02/28/IslamLiberal.

http//: www.wikipedia.org/2009/JaringanIslamLiberal.

http//: persis.or.id/qs/?p=44/LiberalPenyimpangan


[1] Kemunculan Mu’tazilah berawal dari reaksi munculnya dua aliran yang mendahuluinya yaitu Khawarij dan Murjiah. Doktrin Khawarij yang mengatakan Orang Mukmin yang melakukan dosa besar disebut Kafir sedangkan Doktrin Murji’ah berseberangan dengan pendapat Khawarij tersebut dan mengatakan bahwa Orang Mukmin yang melakukan Dosa besar tetaplah Mukmin . Washil bin Atho’ yang ketika itu menjadi murid Hasan al Basri, seorang ulama terkenal di Basra, mendahului gurunya mengeluarkan pendapat bahwa orang mukmin yang berdosa besar menempati posisi antara mukmin dan kafir. Tegasnya orang itu bukan mukmin dan bukan pula kafir, tetapi diantara keduanya. Oleh karena diakhirat nanti tidak ada tempat diantara surga dan neraka, maka orang itu dimasukkan kedalam neraka, tetapi siksaan yang diperolehnya lebih ringan daripada siksaan orang kafir. Demikianlah pendapat Washil bin Atho’, yang kemudian menjadi salah satu doktrin Mu’tazilah, yakni Al-manzilah baina al-manzilataini (posisi diatara dua posisi).

[2] Harun Nasution, Teologi Islam ; Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, (Jakarta:UIP Press, 1978) h. 61

[3] Muchib Aman Aly, Muktazilah dan Akidah Kaum Sophist, 2007, Http//: www.hidayatullah.com.

[4]http//: roele.wordpress.com/2008/02/28/IslamLiberal.

[5] Muhammad Zaki Husein, Islam Liberal Prospek dan tantangannya, dari Brosur Agama Paramadina, tth,tp.th

[6] Ibid. th

[7] http//: roele.wordpress.com/2008/02/28/IslamLiberal

[8] http//: http://www.wikipedia.org/2009/JaringanIslamLiberal.

[9] http//: persis.or.id/qs/?p=44/Liberal, Penyimpangan

[10] http//: http://www.wikipedia.org/2009/JaringanIslamLiberal.

[11] M. Dawan Rahardjo, Pluralisme, Sekularisme, dan Liberalisme, bag. 1, 2009, http//: http://www.icrp-online.org

[12] Ibid,. th

[13] Melawan Fitnah Jaringan Islam Liberal, 2009, http//:www,pakdenono.com.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: