Mufdil’s Weblog


QIYAS
Agustus 6, 2009, 3:54 am
Filed under: Makalah

QIYAS

Oleh : MUFDIL TUHRI

I. Pendahuluan

Sebagai salah satu cara untuk menemukan hukum, Qiyas, dalam

penggaliannya tidak terlepas dari peran ra’yu untuk menetapkan hukum secara jelas.yaitu : penggunaan ra’yu yang masih merujuk pada nash yaitu Al-Qur’an dan As sunnah.

Dasar pemikiran qiyas ini adalah karena adanya kaitan yang erat antara hukum dengan sebab.secara rasional dapat di ilustrasikan bahwa adanya penetapan tentang hukum Allah pada satu atau dua hal yang sama dalam sifatnya tentu sama pula dalam hukum yang di tetapkan pada hal lain yang sama sifatnya dengan hal tersebut, Yang dikenal dengan konsep mumatsalah. Maka dari itu adanya kesamaan sifat atau Illat terhadap suatu ketetapan yang telah di tetapkan Allah SWT hukumnya dapat pula di berlakukan pada hal yang lainnya yang memiliki kesamaan sifat ataupun Illat dengan yang telah di tetapkan hukum atasnya oleh Allah walaupun dalam kasus ini tidak di jelaskan hukumnya oleh Allah SWT.

II. Arti Qiyas

Secara etimologi, kata Qiyas berasal dari kata             , artinya mengukur, membandingkan sesuatu dengan yang semisalnya. Tentang arti qiyas menurut  terminologi, terdapat definisi yang berbeda menurut sebagaian ulama diantaranya:

Menurut Abu Hasan Al Bashri yang memberikan definisi qiyas “sebagai usaha dalam menghasilkan (memenetapkan)  hukum ashal pada “furu’” karena keduanya sama dalam Illat hukum menurut ijtihad”.

Dalam buku ushul Fiqh 1 karangan Prof. Dr. H. Amir Syarifuddin, menjelaskan tentang hakikat Qiyas yaitu :

  1. Ada dua kasus yang mempunyai Illat yang sama;
  2. satu diantara dua kasus yang bersamaan Illatnya itu sudah ada hukumnya yang di tetapkan berdasarkan nash, sedangkan kasusu satu lagi belum di ketahui hukumnya;
  3. berdasarkan illat yang sama seorang mujtahid menetapkan hukum pada kasus yang tidak ada nashnya seperti hukum yang berlaku pada kasus pada hukum yang telah di tetapkan berdasarkan nash.

Dalam bukunya yang sama Prof. Dr. H. Amir Syarifuduin, memberikan empat unsur (rukun) pada setiap qiyas, yaitu :

  1. Suatu wadah atau hal yang telah di tetapkan sendiri hukumnya oleh pembuat hukum.
  2. Suatu wadah atau hal yang belum di temukan hukumnya secara jelas dalam nash Syara’.
  3. Hukum yang di sebutkan sendiri oleh pembuat hukum (syari’) pada ashal.
  4. Illat hukum yang terdapat pada ashal dapat terlihat pula oleh mujtahid padfa furu’.

III.  Qiyas sebagai dalil hukum Syara’

Memang, tidak ada nash yang menjelaskan tentang Qiyas sebagai Dalil Syara’ untuk menetapkan hukum, juga tidak ada petunjuk yang membolehkan  mujtahid menetapkan hukum syara’ di luar yang di tetapkan oleh nash. Tetapi jumhur ulama telah menjadikan Qiyas sebagai dalil syara’, mereka menggunakan Qiyas dalam hal yang tidak terdapat dalam nash dan dalam ijma’ ulama. Mereka menggunakan Qiyas secara tidak berelbihan  dan ti dak melampui bats kewajaran.

Para jumhur ulama ini mengemukakan dalil-dalil sebagai dasar dalm menerima kehujjahan qiyas yakni diantaranya:

Di dalam Q.S al Hasyr (59) ayat 2 :

maka ambillah (Kejadian itu) untuk menjadi Ibarat (pelajaran), hai orang-orang yang mempunyai pandangan.

Penjelasan itu diantaranya dapat dilihat dari keterangan yang di riwayatkan dari tsalab. Ia berkata bahwa al-itibar dalam bahas arab berarti mengembalikan hukum sesuatu kepada yang sebanding  dengannya. Ia dinamai “ashal” yang kepadanya di kembalikan bandingannya secara ibarat.dan inilah yang disebut dengan Qiyas.

Berdasarkan sabda rasulullah SAW. Dalam membaiat Mua’adz bin jabal sebagai wali kota yaman, dalam penjelasannya Rasulullah telah menerangkan bahwa  telah di bolehkannya berijtihad, bila tidak terdapat  dalam nash dari Al-Qur’an dan As sunnah. Ijtihad ini tidak lain adalah usaha yang  sungguh-sungguh untuk mencapai suatu ketetapan hukum.sedang usaha itu dapat di juga di jalankan dengan  menganalogikan peristiwa yang tidak ada nashnya kepada peristiwa yang ada nashnya dengan memperhatikan persamaan illatnya (ini di sebut dengan Qiyas).

Bila di pahami dengan logika, penetapan Qiyas sebagai salah satu dalil syara’ dapat dilihat dari analisa-analisa logis diantaranya ialah keterbatasan pada nash-nash al qur’an dan As Sunnah, sedang kejadian-kejadian pada manusia itu tidak terbatas dan tidak berakhir. Oleh karena itu  tidak mungkin nash-nash yang terbatas itu di jadikan  sebagai sumber  terhadap kejadian-kejadian yang tidak terbatas. Dengan demikian Qiyas merupakan sumber perundang-undangan yang dapat mengikuti kejadian-kejadian baru da dapat enyesuaikan dengan kemaslahatannya.

IV. Penutup

Berdasarkan pada penjalan diatas maka dapat di pahami dan ditetapkan bahwa Qiyas ini merupakan salah satu usaha dari upaya untuk menetapkan suatu hukum atau dengan kata lain Qiyas merupakan salah satu dari dalil-dalil syara’ yang menuntuk kehujjahan atasnya. Dan penetapan itu telah didasarkan pada penjelasan Al-Qur’an, As Sunnah, dan upaya logika dalam menjelaskan hal tersebut.

Daftar Pustaka

Syarifuddin, Amir, Ushul Fiqh  Jilid 1. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997

Yahya, Mukhtar.,dan Fatchurrahman. Dasar-dasar pembinaan hukum islami. Bandung :           Al-Ma’rif,1993.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: