Mufdil’s Weblog


Religiusitas dan Remaja
Agustus 3, 2009, 4:10 am
Filed under: Karya Ilmiah

URGENSI RELIGIUSITAS PENDIDIKAN NASIONAL

UNTUK GENERASI MASA DEPAN

A. Pendahuluan

Pesan intregrasi ilmu agama dan umum memang telah mencuat di permukaan. Ini didasari dengan pemahaman bahwa agama Islam tidak hanya agama yang mengacu kepada ilmu-ilmu syari’ semata namun juga mengkaji tentang ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini terlihat pada pemahaman Islam bahwa yang menjadi topik persoalan pada masalah pendidikan ini juga terkait dengan ayat-ayat Allah Swt. yang digali dari alam semesta dan sosial kemasyarakatan. Paradigma pendidikan islam seperti ini telah di implementasikan oleh para ilmuwan-ilmuwan Islam pada masa klasik islam yang ensiklopedik dan integrated. mereka di samping sebagai ulama yang ahli ilmu agama juga ahli bidang filsafat, sains, dan teknologi. Itulah yang diperlihatkan  ilmuan-ilmuan Islam yang telah mencapai puncak kegemilangannya.

Namun, di tengah era globalisasi saat ini, pendidikan nasional di Indonesia seakan-akan telah menghadapi tantangan pada krisis religiusitas. Urgensi[1] nilai-nilai agama dalam menfondasikan pendidikan nasional tidak sepenuhnya berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Sehingga pada prakteknya memberi implikasi negatif pada struktur budaya, ekonomi, moralitas dan akhlak.

Urgensi nilai-nilai agama dalam pendidikan yang hadir ditengah-tengah arus globalisasi saat ini muncul sebagai suatu respon yang terlahir dari hidup dan kehidupan manusia. Paling tidak terdapat tiga alasan yang melandasi perlunya cerminan nilai-nilai agama dalam ilmu pengetahuan saat ini. Pertama, kehidupan modern manusia saat ini dihadapkan pada segala bentuk kemudahan yang terlahir dari segala macam bentuk teknologi yang berakar kesegala bidang seperti transportasi, komunikasi, pendidikan, dan sebagainya. Namun kemajuan ilmu dan tekonologi juga berimplikasi negatif dengan timbulnya persaingan dan gaya hidup yang menghalalkan segala cara. Masyarakat hanya menyelesaikan segala masalah dengan materi, sehingga materi menjadi raja. Ketika dihadapkan kepada suatu masalah mereka sakan-akan kehilangan pegangan hidup. Mereka melupakan kesadaran beragama dan berpegang pada pegangan hidup yang rapuh seperti hiburan, minuman keras, obat-obatan terlarang dan sebagainya. Dengan demikian fitrah manusia yang seyogyanya menghadapkan persoalan hidupnya kepada agama yang terlahir sebagai fitrah dalam hidup manusia menjadi terlupakan. Maka dari itu, fenomena ini melatarbelakangi perlunya manusia kembali kepada agama.

Kedua, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah masuk keseluruh sistem kehidupan dengan berbagai varisasi. Watak manusia yang menghendaki kemudahan telah membawanya menuju peradaban manusia yang serba mudah, cepat dan simpel yang pada akhirnya akan membawa kehampaan hidup bila Iptek tidak dilandasi dengan imtaq. Akan tetapi agamalah yang memberi tahu tujuan  dan arahan yang jelas dalam menapak masa depan yang cerah. Realita inilah kiranya yang mengingatkan kita kepada pendapat einstein bahwa ”ilmu tanpa agama adalah buta”. Pernyataan tersebut telah menunjukkan buktinya saat ini. Iptek telah dibawah kekuasaan orang-orang yang tidak beragama mereka telah menggunakan teknologi untuk tujuan apa saja, termasuk penjajahan, pencurian, pelanggaran hak-hak azasi manusia dan bahkan korupsi. Dan implikasinya akan berbuah pada bencana dan malapetaka yang terlahir dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Fenomena ini pada tataran selanjutnya mengembalikan manusia pada sesuatu yang alami dan bebas dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Fakta logisnya ialah ilmu pengetahuan harus kembali kepada nilai-nilai agama yang telah  dimuat dalam wahyun-Nya sebagai rujukan dalam menemukan sebuah teori.

Ketiga, dewasa ini, fakta membuktikan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi berada pada hegemoni Barat dengan sifat dan karekteristiknya yang sekuler, materialistis, dan ateis. Belum bisa diadopsi secara netral oleh umat Islam. Namun perlu untuk diarahkan oleh nilai-nilai Islam yang akan membawa kehidupan yang sejahtera lahir dan batin. Nilai-nilai Islam yang dimaksudkan ini ialah nilai yang membawa kepatuhan kepada Tuhan, menghormati dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, tolong- menolong, dan sebagainya[2].

Maka dari itu, urgensi religiusitas pendidikan nasional merupakan suatu hal yang harus benar-benar diperhatikan dalam upaya mempersiapkan generasi masa depan yang mensinergikan nilai-nilai agama Islam dalam tatanan sosial untuk menghadapi  era globalisasi  sains dan teknologi yang berkembang saat ini.

Melatarbelakangi pembahasan tersebut maka perlu kiranya untuk merenungkan firman Allah dalam Al-Qur’an berikut ini :

$pkš‰r’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qà)®?$# ©!$# öÝàZtFø9ur Ó§øÿtR $¨B ôMtB£‰s% 7‰tóÏ9 ( (#qà)¨?$#ur ©!$# 4 ¨bÎ) ©!$# 7ŽÎ7yz $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ÇÊÑÈ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr (58):18)[3]

B. Religiusitas dalam Pendidikan Nasional untuk Menghadapi Tantangan di Era Globalisasi.

Berbicara tentang religiusitas merupakan bagian dari penciptaan suasana religi dari kehidupan. Dalam kamus Ilmiah bahwa religiusitas diartikan sebagai  “Ketaatan kepada agama”[4]. Konsep religiusitas dapat diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupan manusia. Jadi dalam pengertian ini, religiusitas adalah aktivitas keberagamaan ditinjau dari sudut nilai-nilai agama Islam yang harus diterapkan dalam kehidupan.

Sebelum berbicara masalah nilai-nilai agama yang terkandung dalam pendidikan nasional. Terlebih dahulu harus dilihat bagaimana realita pendidikan nasional sekarang ini. Prof DR.Muhaimin dalam bukunya “nuansa baru pendidikan Islam” melihat pendidikan nasional saat ini sedang menghadapi dua  tantangan besar, yaitu tantangan internal dan eksternal. Secara internal bangsa Indonesia telah dihadapkan pada hasil-hasil studi internasional yang menempatkan Indonesia pada posisi juru kunci untuk pendidikan dan rangking atas pada masalah korupsi[5]. Kondisi ini rupanya selalu diucapkan dan diwiridkan dimana-mana secara berulang, sehingga membentuk konsep diri bahwa pendidikan kita jelek tidak bermutu dan terbelakang.

Disisi lain kita juga sedang menghadapi tantangan eksternal, yaitu perubahan yang cepat dari lingkungan strategis diluar kita; era pasar bebas dan sekaligus persaingan bebas dalam bentuk material dan jasa.  Salah satu bentuk jasa yang ditawarkan adalah pendidikan yang berkualitas yang lengkap dengan sarana dan prasarananya. Akan tetapi, Pendidikan yang ditawarkan tersebut adalah bebas nilai akan tetapi masyarakat akan cendrung untuk mengadopsinya apabila hal ini dibiarkan begitu saja tidak mustahil  pendidikan yang ditawarkan oleh pihak luar akan diterima secara penuh karena kecendrungan masyarakat sekarang lebih melihat segi kualitasnya saja yang  pada gilirannya pendidikan nasional akan ditinggalkan oleh masyarakat. Di samping itu tantangan yang mencuat adalah upaya untuk membangun basis ekonomi. Namun pada prakteknya muncul pula problematika dalam upaya merealisasikannya yaitu krisis social capital yang dikenal krisis kepercayaan (trust). Betapa tidak pengamatan para ahli membuktikan bahwa dalam bidang social capital bangsa Indonesia tergolong kepada masyarakat yang sulit dipercaya[6]. Setelah diteliti ternyata telah terjadi tindak korupsi  bermiliar-miliar atau bahkan triliyunan rupiah diberbagai instansi dan institusi. Sebagai akibatnya kita kalah bersaing dengan orang-orang luar, basis ekonomi justru di kuasai oleh orang-orang asing, karena mereka lebih dapat dipercaya dari pada masyarakat kita sendiri. Dalam konteks pendidikan munculnya pemalsuan ijazah, tradisi menyontek dikalangan siswa, plagiasi skripsi, juga menjadi indikator lain dari rendahnya sikap amanah.

Fenomena ini merupakan sebagian kecil dari kemerosatan bangsa Indonesia yang multidimensional. Tantangan ini pada tatanan selanjutnya menjadi topik pembahasan yang perlu dijawab oleh pendidikan nasional,  sebagai bentuk kontribusinya dalam membangun generasi masa depan yang berperadaban, amanah; generasi yang memiliki kepribadian bersih,  otak yang cerdas,  mandiri, dan mampu membangun kerja sama dengan orang lain untuk menciptakan masyarakat yang sejahtera dan amanah.

Disamping itu, kita juga sedang menghadapi globalisasi di bidang budaya, etika dan moral, sebagai akibat dari kemajuan teknologi terutama dibidang informasi. Melalui media massa yang canggih menyebabkan peran dari seorang pendidik dalam suatu lemmbaga pendidikan baik formal maupun non formal  sudah mulai bergeser, terutama dalam pendidikan moralitas peserta didik. Sumber-sumber pesan pembelajaran yang bersifat pedagogis dan mudah dikontrol adalah pendidik  itu sendiri, buku-buku pelajaran, buku bacaan umum.  Ini adalah yang terkontrol oleh guru. Namun ada yang sulit dikontrol seperti surat kabar, majalah, radio, film, CD film porno, televisi dengan antena parabola, wisatawan asing, komputer dengan internetnya, dan handphone dengan berbagai kecanggihannya.

Sumber-sumber pesan pembelajaran yang sulit dikontrol oleh pendidik tersebut dapat mempengaruhi perubahan budaya, etika, dan moral siswa atau masyarakat. Masyarakat yang semula merasa asing dan bahkan tabu terhadap model-model pakaian (fashion) porno dan hiburan-hiburan (fun) atau film-film porno dan sadisme yang ditayangkan di media elektronik seperti televisi dan sebagainya, atau tabu dengan bacaan dan gambar porno yang dimuat di surat kabar dan majalah, kemudian secara perlahan menjadi terbiasa (permissive), bahkan ikut menjadi bagian dari itu. Berbagai kebudayaan dan tradisi yang selama ini berbasis ada agama, telah berganti dengan kebudayaan dan tradisi yang berbasis pada paham individualistis, hedonistik, meterialistik, bahkan sekularistik dan ateistik[7]

Sebagai ekses dari pesan-pesan pembelajaran yang sulit terkontrol tersebut adalah munculnya sikap sadisme, kekerasan, pemerkosaan, bunuh membunuh dan sebagainya dikalangan masyarakat kita. Karena itu, tidak heran jika pada saat ini kita sering menemukan model kehidupan yang paling kontroversial dan kontradiktif dalam satu pribadi, yaitu antara kesalehan dan kejahilan,  kelembutan dan kekerasan, koruptor dan dermawan, sebagai penghuni masjid dan mall, yang kedua-duanya terus menerus berdampingan satu sama lain.

Ketika segala macam bentuk implikasi negatif yang dihasilkan oleh era globalisasi terhadap pendidikan di Indonesia menjadi fenomena umum di kalangan generasi muda, maka diperlukan kehadiran sistem pendidikan nasional yang diformat sedemikian rupa dalam upaya menekan kemerosatan nilai-nilai agama dan moral dalam pendidikan nasional. Diperlukan pemahaman yang mendalam terhadap model generasi masa depan yang diinginkan.

Sistem pendidikan nasional sebagai mana termaktub dalam Undang-Undang RI   Nomor. 20 tahun 2003, memuat keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Tujuan Pendidikan nasional yang dimaksudkan adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,  berilmu, cakap kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[8]

Secara sederhana dapat dirinci poin-poin yang terdapat dalam tujuan pendidikan  nasional tersebut :

  1. berkembangnya potensi peserta didik
  2. beriman dan bertaqwa kepada tuhan Yang Maha Esa
  3. berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif , mandiri.
  4. menjadi warga negara yang demokratis, serta
  5. bertanggung jawab.

Didalam rumusan tersebut terdapat istilah  iman dan taqwa, kedua istilah tersebut mempunyai kaitan yang erat dengan ajaran Islam. Sebelum beranjak kepada tataran selanjutnya, terlebih dahulu dikaitkan dengan Pancasila sebagai falsafah bangsa Indonesia. Bila dianalisis dengan menggunakan pendekatan filsafat, pancasila bukan mengandung lima ide dasar, melaikan empat yaitu, pertama, kemanusiaan yang berdasarkan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa; kedua, persatuan yang berdasarkan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa; ketiga, kerakyatan berdasarkan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa; dan keempat, keadilan berdasarkan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pengertian ini tersurat dengan simbol gambar yang dijadikan lambang pancasila. Disitu bintang atau simbol keimanan kepda Tuhan Yang Maha Esa, atau dalam bahasa agama Islam adalah keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt. Hal ini mengandung makna bahwa arti pancasila adalah keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt.[9]

Kembali kepada konteks tujuan pendidikan nasional, konsep iman dan taqwa dalam pengertian ini sangatlah bijaksana kalau kita interpretasikan dengan pendekatan Islami, karena memang istilah tersebut berasal dari ajaran Islam.

Dalam Islam, Iman dan taqwa sebagai penyangga utama dalam bangunan keagamaan dan kehidupan. Iman sebagai landasan dalam kehidupan dan taqwa sebagai tujuannya. Kedua hal dimaksud mewarnai aktivitas manusia dalam kehidupannya baik dalam aspek agama maupun aspek lainnya. Oleh karena itu, iman dan taqwa bukan merupakan urusan kepercayaan dan ibadah batin semata-mata yang bersifat pribadi melainkan mempunyai eksistensi terhadap aspek kehidupan lainnya, baik secara individu maupun secara kolektif.[10]

Kalau penafsiran ini diterapkan kepada iman dan taqwa dalam rumusan tujuan nasional (akhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, demokratis bertanggung jawab) harus berlandasakan dan dijiwai dengan roh iman dan taqwa dan apapun rincian dari tujuan umum yang kita buat, ataupun tujuan yang lebih rendah dari itu seperti tinjauan institusional, tujuan kurikuler haruslah dijiwai oleh iman dan taqwa.

Uraian tersebut menggaris bawahi bahwa secara konseptual teoritik masalah keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt. Dalam hal ini pendidikan agama, seharusnya dijadikan sebagai core (inti) atau sebagai sumber nilai dan pedoman bagi peserta didik untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan diakhirat, dan membantu peserta didik agar mampu mewujudkan nilai dasar agama Islam dalam menerapkan ilmu pengetahuan, tekonologi dan seni (Ipteks).

C. Implementasi Religiusitas dalam  Pendidikan untuk Generasi Masa Depan (telaah krisis akhlak yang dimiliki oleh remaja)

Setelah berbicara tentang nilai-nilai agama dalam pendidikan nasional. Maka pada tataran selanjutnya adalah upaya untuk mengimplementasikannya sebagai budaya dalam dunia pendidikan.

Sebagaimana dipahami tujuan utama Pendidikan Agama Islam ialah  keberagamaan peserta didik itu sendiri, terutama pada pemahaman tentang agama. Dengan kata lain, yang diutamakan oleh pendidikan agama Islam bukan hanya knowing (mengetahui tentang ajaran dan nilai-nilai agama) ataupun doing (bisa mempraktikkan apa yang diketahui), setelah diajarkan disekolah; tetapi justru lebih mengutamaan being-nya (beragama untuk menjalani hidup atas dasar ajaran dan nilai-nilai agama). Karena itu, pendidikan agama Islam harus lebih diorientasikan pada tataran moral action, yakni agar peserta didik tidak hanya berhenti pada tataran kompeten (competence), tetapi sampai memiliki kemauan (will), dan kebiasaan (habit). Dalam mewujudkan ajaran dan nilai-nilai agama tersebut dalam kehidupan sehari-hari.[11]

Jika hanya berhenti pada tingkatan competence disekolah, maka belum tentu tingkat kompetensinya itu akan tetap bertahan di luar sekolah (didalam keluarga dan masyarakat). Hal ini disebabkan karena ajaran dan nilai-nilai agama yang telah dipraktekkan oleh peserta didik kadang-kadang bisa pudar karena terkalahkan oleh hawa nafsunya atau godaan-godaaan setan, baik yang berupa jin, manusia maupun yang telah mengglobal dan berkembang di sekitarnya. Karena itu, bisa jadi peserta didk pada suatu hari sudah kompeten dalam menjalani hidup sesuai dengan ajaran dan nilai-nilai agama, tetapi pada saat yang lain menjadi tidak kompeten lagi.

Tujuan pendidikan tidak lagi bertumpu kepada pemberian pengetahuan yang bersifat kognitif( to know), melainkan harus disertai dengan mengamalknannya (to do),menginternaliasikannya dalam diri (to be),  dan menggunakannya untuk kepentingan masyarakat (to life together). Hal ini sejalan dengan sifat sebuah ilmu yang di samping memiliki dimensi  akademik berupa teori dan konsep-konsep, juga memiliki dimensi pragmatis berupa ketrampilan menerapkan teori dan konsep terebut. Dengan cara demikian setiap ilmu yang dipelajari tidak hanya untuk ilmu, melainkan untuk kehidupan yang lebih bermanfaat bagi orang banyak. Hal ini  sejalan dengan pendapat  Ibnu Ruslan[12] Sehubungan dengan ini Pendidikan Islam di masa sekarang tidak hanya mencukupkan belajar di dalam kelas dengan modal bangku dan papan tulis melainkan harus dilengkapi dengan  peralatan praktikum, magang, kerja sosial dalan sebagainya. Selain itu lembaga pendidikan Islam juga harus diarahkan pada upaya membentuk manusia yang utuh kepribadiannya, yaitu manusia yang terbina dimensi fisik, akal, iman, akhlak kejiwaan keindahan sosial kemasyarakatan[13]

Lebih lanjut, religiusitas atau keberagamaan yag dimanifestasikan dalam budaya sekolah, tidak hanya dipandang dari satu sisi dimensi saja, namun meliputi berbagai macam sisi atau dimensi. Glock dan Stark dalam Restorn menjelaskan ada lima macam dimensi keberagamaan, yaitu :

  1. dimensi keyakinan;
  2. dimensi praktik agama;
  3. dimensi pengalaman;
  4. dimensi pengetahuan agama;
  5. dimensi pengamalan.[14]

Pertama, dimensi keyakinan yang berisi pengharapan-pengharapan dimana orang relegius berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu dan mengekui kebenaran doktrin tersebut. Kedua, dimensi praktik agama yang mencakup perilaku pemujaan, ketaatan dan hal-hal yang dilakukan oarang untuk menunjukkan komitmen terhadap agama yang dianutnya. Ketiga, dimensi pengalaman. Dimensi ini berisikan dan memperhatikan fakta bahwa semua agama mengandung pengharapan-pengaharapan tertentu. Keempat. Dimensi pengetahuan agama yang mengacu kepada harapan bahwa  orang-orang yang beragama paling tidak memiliki sejumlah minimal pengetahuan mengenai dasar-dasar keyakinan, ritus-ritus, kitab suci dan tradisi-tradisi. Kelima, dimensi pengamalan atau konsekuensi. Dimensi ini mengacu pada identifikasi akibat-akibat keyakinan keagamaan, praktik, pengalaman, dan pengetahuan seseorang dari hari kehari.

Pada pembahasan selanjutnya, setelah melihat kemerosatan-kemerosatan berbagai dimensi, maka semuanya itu dapat disimpulkan sebagai krisis lemahnya akhlak. Sejalan dengan sebab-sebab timbulnya krisis akhlak tersebut, maka urgensi religiusitas dapat diwujudkan dalam hal-hal berikut. Sebagaimana dikutip dari pendapat Abuddin Nata dalam bukunya ”Manajemen Pendidikan”[15]

  1. pendidikan akhlak dapat dilakukan dengan menetapkan pelaksanaan pendidikan agama baik dirumah, disekolah, mapun masyarakat. Hal ini diyakini, kerena inti ajaran agama adalah akhlak mulia yang tertumpu pada keimanan dan ketaqwaan kepada Allah dan keadilan sosial. Hal ini telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya.
  2. dengan mengintegrasikan antara pendidikan dan pengajaran. Pengajaran merupakan proses transfer of knowladge, keterampilan dan pengalama yang ditujukan untuk mencerdaskan akal dan memberikan keterampilan. Sedangkan pendidikan tertuju pada upaya membantu kepribadian, sikap dan pola hidup yang berdasarkan pada nilai-nilai yang luhur. Maka sudah seyogyanya pengajaran diintegrasikan dengan pendidikan dan tentunya pendidikan yang diambil dari konsep religiusitas.
  3. pemahaman tentang pendidikan akhlak yang harus dipahami oleh masing-masing guru bidang studi tidak hanya pada guru agama saja. Namun dalam setiap pengejaran harus diikut sertakan pada pembinaan akhlak para siswa melalui nilai-nilai  pendidikan yang terdapat pada seluruh bidang studi yang diajarkan.
  4. pendidikan akhlak harus didukung oleh kerja sama yang kompak dan usaha yang sungguh-sungguh dari orang tua (keluarga), sekolah dan masyarakat. Semua hal tersebut harus senantiasa menjadi upaya menciptakan suasana yang relegius, dan lingkungan yang kondusif untuk menciptakan implikasi yang positif dalam perilaku dan norma-norma akhlak.
  5. pendidikan akhlak harus menggunakan seluruh kesempatan, berbagai sarana termasuk teknologi modern, yang kesemuanya tersebut harus berperan dan menjadi peluang pembinaan akhlak.

D. Penutup.

Berdasarkan uraian tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa ditengah era globalisasi saat ini, dunia pendidikan di Indonesia sedang menghadapi tantangan yang besar baik dibidang kapital, budaya, etika dan moral. terutama yang tidak kalah pentingnya ialah pengaruh ilmu pengetahuan dan teknologi yang berdampak pada pendidikan nasional di Indonesia. Implikasi-implikasi negatifpun menghadapkan bangsa Indonesia pada tantangan-tantangan didunia pendidikan nasional. Yakni kemerosatan multi dimensional yang kini merambat pada bangsa Indonesia. Yang intinya terletak pada krisis moral dan akhlak.

Untuk menjawab problematika tersebut, solusinya tidak lain adalah harus benar-benar ditanamkan dalam pendidikan nasional tatanan nilai-nilaireligiusitas.  Pada prakteknya, urgensi religiusitas ini akan menfondasikan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan iman dan taqwa sebagai mana dipahami dalam undang-undang sistem pendidikan nasional.

Untuk mengimplementasikan hal tersebut perlu adanya pendekatan terpadu yang didahului oleh perencanaan, untuk kemudian diimplementasikan dan dievaluasi proses dan hasilnya. Sehingga pada akhirnya nanti, apabila religiusitas ini telah benar-benar dimanifestasikan kepada generasi penerus bangsa,  maka implikasinya adalah jaminan terhadap meningkatnya kualitas pendidikan di Indonesia di masa depan dan krisis multidimensional sebagaimana keadaan bangsa saat ini, yang intinya terletak pada krisis moral dan akhlak akan teratasi.

DAFTAR PUSTAKA

Amir,  Yusuf Faisal,  (1995) Reorientsi Pensisikan Islam. Jakarta; Gema insani

Departemen Agama RI, 2006. Undang-Undang Dan Peraturan Pemerintah RI        tentang Pendidikan. Jakarta:Dirjen Pendidikan Islam Depag RI

________, 2007. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta: CV Nala      Dana

________,( 2003), Memahami Paradigma Baru Pendidikan Nasional Dalam UU  Sisdiknas, Jakarta : Dirjen kelembagaan,

Dahlan (2008), Penyelenggaraan Proses Pembelajaran dan Motif yang melatar belakanginya, Disertasi (Padang : UNP, 2008

Dawam , M. Rahardjo, (1993), Intelektual  Intelegensia  dan Perilaku Politik Bangsa, Bandung, Mizan

Hamid,  Abdul Mursid, ( 1985) Asy-Syakhshiyatul Muntajah, Pentj ;Mohd ur hakim, SDM yang produktif. Gemam Insani Perss

Jamaah, Badaruddin bin  al-Kan’ani, (tt), Tadzikrah al-sami’ wa al-Mutakallim fi Adab al-Alim wa Muta’allim,  Baerut: Dra al-Kutubal-Ilmiyyah

Muhammad Tholhah Hasan, (1986), Prosfek Islam dalam menghadapi Tantangan Zaman. Jakarta; Bangun Prakarya

Muhaimin dkk. 2004. Paradigma Pendidikan Islam (upaya mengefektifkan             Pendidikan Agama Islam di sekolah). Bandung:PT Remaja Rosdakarya

________. 2006. Nuansa Baru Pendidikan Islam. Jakarta:PT RajaGrafindo

Nata, Abuddin. 2003. Manajemen Pendidikan (mengetasi kelemahan Pendidikan   Islam di Indonesia). Jakarta: Kencana.

________,2004. Metodologi Studi Islam. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada

Partanto,A. Pius dan M. Dahlan Al-Barry. 1994. Kamus Ilmiah Populer. Surabaya:Arkola.

Ramayulis. 2008. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta:Kalam Mulia


[1] Urgensi berarti keperluan yang amat mendesak (penting) Lihat Pius A. Partanto, dan M. Dhlan Al-Barry. Kamus Ilmiah Populer. (Surabaya:Arkola, 1994). Hal. 770

[2] Prof. DR. H. Abuddin Nata, MA. Metodologi Studi Islam. (Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2004) hal. 413-416.

[3] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya. (Jakarta:CV Nala Dana, 2007)

[4] Pius A. Partanto, dan M. Dhlan Al-Barry. Op cit. hal. 667

[5] Sebagai contoh, misalnya ialah pada studi PERC (the political and Economic Risk Consultancy) tahun 2004 tentang corruption country, menempatkan indonesia pada rangking pertama se-Asia, dengan indeks 9,25. sedangkan dalam hal pembangunan manusia yang indikatornya meliputi pendidikan, kependudukan, dan kesehatan, UNDP dalam laporannya, human Development Reprt 2004, hanya menempatkan Indonesia di peringkat 111 dari 177 negara. Ia tertinggal dari tetangga-tetangganya seperti Australia, Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand dan Filiphina yang masing-masingsudah berada diurutan 3, 25, 33, 58, 76 dan 83. Lihat Prof. DR. Muhaimin, MA. Nuansa Baru Pendidikan Islam. (Jakarta:PT RajaGrafindo,2006) hal.71

[6] Ibid, hal. 84

[7] Lihat Muchtar Bukhari, Pendidikan Antisipatoris. (Yogyakarta:Kanisius,2001), cet V. Hal 27-33

[8] Departemen Agama RI, Undang-Undang Dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan. (Jakarta:Dirjen Pendidikan Islam Depag RI, 2006). Hal. 8

[9]  Prof. DR. Muhaimin, MA. Op cit. hal. 87-88

[10] Prof. DR. Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta:Kalam Mulia, 2008). Hal. 44

[11] Prof. DR. Muhaimi, MA, op cit. Hal. 147

[12] “al-Ilmu bila amal ka al-syajar bila tsamar”. Artinya  bahwa ilmu yang tidak memeiliki dimensi amal praktis bagaikan pohon yang tidak berbuah. Lihat. Ibnu Ruslan, Matan al-Zubad, (Mesir: Al-maarif, 1968), cet, I, h. 15

[13] Lihat Zakiyah DaradjatPendidikan Dalam Keluarga  dan Sekolah, (Jakarta: Ruhama, 1999), cet.1. h. 1-18

[14] Drs. Muhaimin, MA. Et. Al. Paradigma Pendidikan Islam (upaya mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di sekolah). (Bandung:PT Remaja Rosdakarya, 2004) hal. 293.

[15] Prof. DR. H. Abuddin Nata, MA. Manajemen Pendidikan (mengetasi kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia). (Jakarta:kencana, 2003) hal. 223 et. al.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: