Mufdil’s Weblog


Alqur’an dan Integrasinya dengan IPTEK modern
Agustus 3, 2009, 5:28 am
Filed under: Karya Ilmiah

ISYARAT-ISYARAT ILMIAH AL-QUR’AN DAN INTEGRASINYA TERHADAP ILMU PENGETAHUAN MODERN

A. AL-QUR’AN DAN ILMU PENGETAHUAN MODERN

Pemikiran Barat sekarang ini berada di tengah-tengah peperangan antara agama dan ilmu pengetahuan. Hampir tidak mungkin pemikir Barat sekarang ini menerima kenyataan bahwa kemungkinan ada pertemuan secara mendasar antara agama dan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, jika seseorang membicarakan Islam dan ilmu pengetahuan dengan para pemikir Barat, mereka cenderung mengharapkan argumen yang sama dengan apa yang ada dalam budaya dan agama mereka. Itulah mengapa mereka memberi reaksi dengan keterkejutan ketika mereka ditunjukkan dengan fakta yang jelas sekali dari al-Quran.[1]

Peradaban Islam, yang kini menjangkau sebagian besar wilayah dunia sesudah wafat Rasulullah, mempunyai pengaruh yang besar dan terus berkembang sampai dewasa ini di kalangan lebih dari enam ratus juta orang Islam. Peradaban ini merupakan salah satu produk Al-Quran.

Kenyataan ini di buktikan oleh fakta yang diungkap sendiri di dalam al-Qur’an terutama tentang pebicaraannya tentang pengetahuan modern. Al-Qur’an merupakan kitab yang diturunkan oleh Allah swt., kandungan al-Qur’an mengisyaratkan kepada manusia untuk memikirkan tanda­-tanda kekuasaan Allah di langit, bintang-bintang yang bercahaya, susunannya yang menakjubkan dan peredarannya yang mapan. Ia juga mengajak untuk memikirkan penciptaan bumi, laut, gunung­gunung, lembah, keajaiban-keajaiban yang terdapat di dalam perut bumi, pergantian malam dan siang dan musim. Ia mengajak untuk memikirkan keajaiban penciptaan tumbuh-tumbuhan, binatang­binatang, sistem perkembangannya dan keadaan-keadaan ling­kungannya. Ia mengajak untuk memikirkan penciptaan manusia sendiri, rahasia-rahasia yang terdapat di dalam dirinya, untuk memikirkan alam batinnya dan hubungannya dengan Allah. Al­Quran juga mengajak untuk mengadakan perjalanan di dunia, memikirkan peninggalan orang-orang terdahulu serta meneliti keadaan bangsa-bangsa, kelompok-kelompok manusia, kisah-kisah, sejarah dan pelajaran-pelajaran yang bisa diambil dari mereka.[2]

Secara khusus, Al-Quran mengajak untuk mempelajari ilmu­-ilmu kealaman, matematika, filsafat, sastra dan semua ilmu pengetahuan yang dapat dicapai oleh pemikiran manusia. Al-Quran menganjurkan mempelajari ilmu-ilmu itu untuk kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia. Memang, Al-Quran menyeru untuk mempelajari ilmu-ilmu ini sebagai jalan untuk mengetahui Al-Haq dan realitas, dan sebagai cermin untuk mengetahui alam, yang di dalamnya pengetahuan tentang Allah mempunyai kedudukan paling utama.

Lebih lanjut, maka dalam pembahasan berikutnya akan dijelaskan sebagaian dari pengetahuan-pengetahuan modern yang diungkapkan oleh al-Qur’an dalam berbagai aspek ilmu pengetahuan sebagai bukti kebenaran ilmiah al-Qur’an dalam integrasinya terhadap Pengetahuan Modern.

B. ISYARAT-ISYARAT ILMIAH AL-QUR’AN DAN INTEGRASINYA TERHADAP ILMU PENGETAHUAN MODERN

  1. 1. Pembicaraan Al-Qur’an Mengenai Penciptaan alam raya.

Perhatikan uraian Al-Qur’an berikut mengenai proses kejadian alam, dalam Firman-Nya :

“Dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya.” (QS. Al-Anbiya’ (21) : 30)

Bila dipahami dari inti penjelasan dari ayat tersebut diatas maka diketahui bahwa alam raya ini, dalam arti kata langit dan bumi pada dulunya merupakan suatu keterpaduan yang menggambarkan bahwa alam semsta ini adalah bersatu padu. selanjutnya pernyataan kemudian kami pisahkan  antara keduanya menjelaskan terjadilah pemisahan dari kesatuan tersebut dan isyarat ini telah dibenarkan oleh observasi yang dilakukan oleh para ilmuwan. Dan pernyataan tersebut sekaligus juga membuktikan suatu fakta yang berhasil terungkap dewasa ini.

Selanjutnya, mari kita simak pembuktian sains akan pernyataan ini. Ialah observasi yang dilakukan oleh Edwin P. Hubble (1889-1953) melalui teropong bintang raksasa pada tahun 1929 menunjukkan adanya pemuaian alam semesta, selanjutnya menurut fisikawan Rusia George Gawow (1904-1968), ekspansi itu[3] melahirkan ratusan miliar bintang, Tetapi bila ditarik kebelakang maka ini semua merukan sebuah gumpalan –inilah yang dimaksud dengan kesatuan itu- yang terdiri dari neutron. Gumpalan itulah yang meledak dan dikenal dengan istilah Big Bang.[4]

Lebih lanjut, tulis Harun Yahya dalam Bukunya “Pesona Al-Qur’an” menambahkan pernyataan ini dengan menyatakan bahwa langit dan bumi merupakan sesuatu yang tunggal berisi seluruh materi di alam semesta. Keduanya lalu terpisah satu sama lain. Dengan kata lain, segala sesuatu, termasuk “langit dan bumi” yang saat itu belumlah diciptakan,pada akhirnya Titik tunggal ini meledak sangat dahsyat, sehingga menyebabkan materi-materi yang dikandungnya terpisah, dan dalam rangkaian peristiwa tersebut, bangunan dan tatanan keseluruhan alam semesta terbentuk. [5] dan inilah yang mendasari ribuan galaksi itu terbentuk.

Ketika kita bandingkan penjelasan ayat tersebut dengan berbagai penemuan ilmiah, akan kita pahami bahwa keduanya benar-benar bersesuaian satu sama lain. Yang sungguh menarik lagi, penemuan-penemuan ini belumlah terjadi sebelum abad ke-20.

  1. 2. Proses penciptaan manusia

Berbicara mengenai proses penciptaan manusia maka akan didapati sekian banyak pernyataan-pernyataan al-Qur’an yang secara tegas memberikan penjelasan mengenai hal ini, yang saling menguatkan pernyataan satu dengan yang lainnya[6]. Maka disini penulis akan mengangkat salah satu dari pernyataan tersebut yakni yang dijelaskan dalam Al Qur’an Surat Al-Mu’minuun ayat 12-14, berikut ini :

“Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik” (QS. Al-Mu’minuun :12-14)

Sedikit beranjak pada masa lalu pada saat ayat al-Qur’an diturunkannya . tidak bisa di pungkiri bahwa pengetahuan manusia pada masa diturunkannya ayat ini pada dasarnya telah meyakini bahwa dasar kelahiran dari manusia ialah dari proses persetubuhan seksual. Akan tetapi sedikit pernyataan diatas akan proses kejadian manusia pastinya berada jauh diluar pengertian orang-orang terdahulu yang hanya berpersepsi dari fakta bahwa bayi lahir sesudah jangka waktu sembilan bulan. Pernyataan pada ayat diatas, secara jelas menggambarkan tentang proses kejadian manusia. Disini dikemukakan tujuh tahap proses kejadian manusia sehingga ia lahir di pentas bumi ini.  Fakta logisnya adalah pernyataan ini baru saja dishahihkan pada abad ke-20 ini. Dan pada bagian ini akan dijelaskan tentang tujuh tahap yang dimaksudan tersebut yakni :

Pertama, pernyataan diatas memulai proses penciptaan manusia dari sari pati tanah. Manusia yang dimasudkan disini adalah manusia pada umumnya yang merupakan dari anak keturunan manusia pertama (Adam as.), berdasarkan pada kenyataannya ternyata unsur-unsur didalam jasad kita sama dengan unsur-unsur tanah.

Kedua, setelah memulai pencitaan manusia pertama dari unsur-unsr yang terdapat dalam tanah, maka selanjutnya dilanjutkan dengan proses kejadian air mani dari sari pati tanah tersebut, dan inilah yang dimaksud dengan dimulainya penciptaan anak manusia dari setetes mani dalam bahasa al-Qur’an disebut dengan nutfah. Setetes air mani disini dipahami dalam arti pancaran sperma yang yang mengandung dua ratus juta benih manusia bertemu dengan ovum dalam proses reproduksi manusia. Dan yang berhasil bertemu dengan sel telur manusia hanya satu saja.[7] Sel sperma yang berhasil bertemu dengan sel telur tersebut kemudian menempel di dindin rahim untuk menjalani proses selanjutnya dalam reproduksi.

Ketiga, fase selanjutnya yang dijelaskan dalam ayat ini ialah penciptaan alaqah, para embriolog memahami alaqah sebagai sesuatu yang menempel atau berdempat dirahim. setelah terjadi pembuahan (nutfah yang berada dalam rahim itu), maka selanjutnya mengalami proses pembuahan yang menghasilkan zat baru, yang kemudian terbelah menjadi dua, lalu dua menjadi empat dan seterusnya dalam kelipatan dua (pembelahan diri), ia bergerak kedinding rahim dan menempet disana. Nah, inilah yang dinamai dengan alaqah.[8]

Keempat, setelah proses alaqah tadi, maka dilanjutkan dengan pernyataan mengenai penciptaan Mudghah. Mudghah ialah sesuatu yang kecil yang dapat di kunyah. Dan inilah yang dimaksud dengan bungkusan daging yang ukurannya kecil.

Kelima, setelah terciptanya daging maka dilanjutkan dengan penciptaan tulang yang terbungkus dalam daging tersebut. Dan inilah yang dimaksudkan dengan pernyataan “lalu kami ciptakan mudghah itu tulang belulang, lalu kami bungkus tulang belulang itu dengan daging.”

Berdasarkan pernyataan tentang proses reproduksi manusia yang telah dijelaskan diatas maka jelaslah, bila kita integrasikan dengan pengetahuan yang telah terbukti saat ini pastinya pernyataan al-Qur’an tidaklah bertentangan dengan pengetahuan modern. Dan tetap sejalan dengannya.

3. Ihwal Pemisah dua Laut

Salah satu di antara sekian sifat lautan yang baru-baru ini ditemukan adalah berkaitan dengan ayat Al Qur’an sebagai berikut:

ylttB Ç`÷ƒtóst7ø9$# Èb$u‹É)tGù=tƒ ÇÊÒÈ   $yJåks]÷t/ ӈy—öt/ žw Èb$u‹Éóö7tƒ ÇËÉÈ

“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.” (QS. Ar-Rahman :19-20)

Pada ayat di atas ditekankan bahwa dua badan air bertemu, tetapi tidak saling bercampur akibat adanya batas. Bagaimana ini dapat terjadi? Biasanya, bila air dari dua lautan bertemu, diduga airnya akan saling bercampur. Namun, kenyataan yang terjadi berbeda dengan yang diperkirakan. Misalnya, meskipun Laut Tengah dan Samudra Atlantik, serta Laut Merah dan Samudra Hindia secara fisik saling bertemu, airnya tidak saling bercampur.[9]

Prof. William W Hay, ahli geologi Universitas Colorado, Boulder, Colorado, Amerika Serikat sebagai mana dikutip dalam buku “Bukti Kebenaran Al-Qur’an” Karya Abdullah M. al-Rehaili menjelaskan pernyataan ini. dia menjelaskan bahwa dalam kumpulan air ini bukanlah laut yang homogen sebagai­mana yang terlihat. Laut-laut itu agak berbeda, yang membedakan adalah kadar garam yang bermacam-macam, suhu, dan berat jenis. Jika dilihat dengan mikroskop akan terlihat garis putih yang merupakan percampuran antara dua air laut yang berbeda. Masing-masing percampuran ini membagi dua laut yang berbeda dalam suhu, kadar garam, berat jenis, biologi laut, dan kadar oksigen yang larut. Ilmuwan pertama melihat gambar, sebagaimana yang Anda lihat, pada tahun 1942, setelah beratus-ratus tahun tempat penelitian laut itu didirikan. Di sinilah kita lihat perbedaan antara Laut Tengah dan Samudera Atlantik begitu juga dengan Laut Merah dan Samudra Hindia.[10]

Sisi menarik dari hal ini adalah bahwa pada masa ketika manusia tidak memiliki pengetahuan apapun mengenai fisika, tegangan permukaan, ataupun ilmu kelautan, hal ini dinyatakan dalam Al Qur’an.

  1. 4. Ihwal Awan

Ayat berikut ini akan berbicara tentang kekuasaan Allah mengatur hujan, yang airnya bermula dari laut dai didarat, kemudian menguap lalu turun kembali kedarat, ialah tentang awan dan proses turunnya hujan.

Didalam QS. An-Nur (24) :43.

tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, Maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, Maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu Hampir-hampir menghilangkan penglihatan.” (QS. AN-Nur (24) :43.

Proses terbentuknya hujan masih merupakan misteri besar bagi orang-orang dalam waktu yang lama. Baru setelah radar cuaca ditemukan, bisa didapatkan tahap-tahap pembentukan hujan.Secara gamblang ayat tersebut telah menginformasikan tentang tentang awan dan proses terjadinya hujan. Untuk membuktikan kebenaran informasi tersebut maka perlu diselidiki langkah-langkah yang dijelaskan oleh ayat tersebut berikut ini.

Kini, mari kita amati tiga tahap yang disebutkan dalam ayat ini.

TAHAP KE-1: “…Allah menggerakkan awan-awan, kemudian mengumpulkan (bagian-bagian)-nya….”

Awan yang menurunkan hujan dimulai dengan awan yang berbentuk onggokan yang disebut kumulus, yaitu awan yang timbulnya keatas. Puncak kumulus bisa mencapai 15 sampai 20 kilometer, hingga tampak seperti gunung yang tinggi.[11] Sebagian kecil awan kumulus yang bergerak karena dorongan angin kemudian berkumpul kesebuah area sehingga terbentuklah awan komulonimbus[12]

TAHAP KE-2: “..kemudian menjadikannya bertindih-tindih…”

Awan-awan kecil yang telah bergabung tadi kemuian menjadi bertindih-tindih sehingga  membentuk awan yang besar.

TAHAP KE-3: “…maka engkau lihat hujan yang keluar dari celah-celahnya dan Allah menurunkan es dari langit, dari gunung-gunung…”

Ketika awan-awan kecil bergabung, udara yang bergerak ke atas di dalam awan yang besar meningkat. Udara yang bergerak ke atas dekat dengan pusat awan lebih kuat dibanding dengan yang dekat dengan tepi. Udara yang bergerak ke atas ini menyebabkan badan awan tumbuh secara vertikal, sehingga awan menunggu di udara. Pertumbuhan vertikal ini menyebabkan badan awan menjadi bagian yang lebih dingin di atmos­fer di mana tetesan air dan hujan es merumuskan dan mulai berkembang melebar. Ketika tetesan air dan hujan es ini menjadi sangat ringan sehingga udara yang bergerak ke atas menyokong mereka, dengan demikian mereka mulai turun dari awan menjadi hujan, hujan es, dan lain-lain[13]

Sambil memahami penjelasan diatas perlu diingat bahwa meteorologi baru berkembang mejadi ilmu pada abad ke-19. sebelumnya meteorologi dikaitkan dengan agama atau kepercayaan. Masyarakat dan ilmuwan mesir 3500 SM, berkeyakinan bahwa fenomena udara yang bermacam-macam semuanya tunduk kepada dewa-dewa.[14]

Sebenarnya banyak sekai pembahasan tentang isyarat-isyarat ilmiah al-Qur’an tentang hal-ihwal awan ini , namun tidak mudah mengungkapkannya dalam karya tulis yang sederhana ini. Uraian yangsedikit rinci telah dipaparkan diatas. Yang terpenting ialah dari sekian banyak isyarat-isyarat tersebut pastilah semuanya telah membenarkan keotentikan al-Quran ditinjau dari sudut ilmiahnya.

  1. 5. Rahasia besi

Wacana mengenai penurunan Air, Besi dan garam dari langit mungkin dapat mudah dipahami namun, mereka mungkin belum bisa mencerna wacana penurunan besi dari langit meskipun sudah diisyaratkan dengan jelas didalm al-Qur’an, ialah yang dijelaskan dalam surat Al Hadiid (57):25. berikut ini :

$uZø9t“Rr&ur y‰ƒÏ‰ptø:$# ÏmŠÏù Ó¨ù’t/ ӉƒÏ‰x© ßìÏÿ»oYtBur Ĩ$¨Z=Ï9 …

“…Dan Kami turunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia ….” (QS. Al-Hadiid (57) :25)

Kata “anzalnaa” yang berarti “kami turunkan” khusus digunakan untuk besi dalam ayat ini, dapat diartikan secara kiasan untuk menjelaskan bahwa besi diciptakan untuk memberi manfaat bagi manusia. Tapi ketika kita mempertimbangkan makna harfiah kata ini, yakni “secara bendawi diturunkan dari langit”, kita akan menyadari bahwa ayat ini memiliki keajaiban ilmiah yang sangat penting.

Ini dikarenakan penemuan astronomi modern telah mengungkap bahwa logam besi yang ditemukan di bumi kita berasal dari bintang-bintang raksasa di angkasa luar.

Logam berat di alam semesta dibuat dan dihasilkan dalam inti bintang-bintang raksasa. Akan tetapi sistem tata surya kita tidak memiliki struktur yang cocok untuk menghasilkan besi secara mandiri. Besi hanya dapat dibuat dan dihasilkan dalam bintang-bintang yang jauh lebih besar dari matahari, yang suhunya mencapai beberapa ratus juta derajat. Ketika jumlah besi telah melampaui batas tertentu dalam sebuah bintang, bintang tersebut tidak mampu lagi menanggungnya, dan akhirnya meledak melalui peristiwa yang disebut “nova” atau “supernova”. Akibat dari ledakan ini, meteor-meteor yang mengandung besi bertaburan di seluruh penjuru alam semesta dan mereka bergerak melalui ruang hampa hingga mengalami tarikan oleh gaya gravitasi benda angkasa.[15]

Semua ini menunjukkan bahwa logam besi tidak terbentuk di bumi melainkan kiriman dari bintang-bintang yang meledak di ruang angkasa melalui meteor-meteor dan “diturunkan ke bumi”, persis seperti dinyatakan dalam ayat tersebut: Jelaslah bahwa fakta ini tidak dapat diketahui secara ilmiah pada abad ke-7 ketika Al Qur’an diturunkan. Dan terbukti pada abad ke-20 inilah pembuktian itu membenarkan pernyataan al-Qur’an yang turun 1400 tahun yang lalu.

  1. 6. Ihwal Pohon Hijau

Satu lagi rahasia ilmiah Qur’an yang akan diungkap pada bagian ini, ialah ihwa pohon hijau yang seperi difirmankan Allah berikut :

“ Yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, Maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu”.” (Qs. Yasiin (36) :80)

Pertanyaannya. Apakah pembuktian ilmiah telah membenarkan pernyataan al-Qur’an bahwa dari kayu yang hijau tersebut dapat menyimpan tenaga yang bisa digunakan untuk bahan baker? Berikut penjelasannya.

Ternyata, pernyataan ilmiah tentang clorophyil (dibaca; klorofil) atau zat Hijau daun yang hanya terdapat pada bagian daun saja sudah terbantah menurut pernyataan ayat ini, penelitian membuktikan bahwa klorofil juga terdapat pada bagian ranting-ranting pohon yang hijau yang masih muda. Tegasnya pada semua bagian pohon hijau tegasnya yang muda. Dari sini sudah terbukti kebenaran ilmiah al-Qur’an yang tepat menyatakan asy-syajar al-akhdar yang terjemahannya berarti pohon hijau.
Klorofil mengubah tenaga radiasi matahari menjadi kimiawi melalui proses Fotosintesis.[16] Sebagai akibat peristiwa ini maka akan terjadi  interaksi antara karbon dioksida dan air yang diserap oleh tumbuh-tumbuhan dari dalam tanah, yang menghasilkan zat karbohidrat berkat bantuan sinar matahari atau dalam kata lain menyimpan tenaga matahari dalam tumbuh-tumbuhan berupa makanan dan bahan bakar yang nantinya akan muncul sebagai api pada saat pembakaran.[17]

Dari sinilah kemudian, akan keluar daya yang tersimpan tadi pada saat pembakaran yang mengakibatkan kayu tersebut bisa terbakar atau menjadi bahan bakar. Contoh lainnya ialah pada batu bara dari pohon besar yang digunakan sebagai bahan bakar yang terlebih dahulu juga mengalami proses-proses asimilasi sinar tadi.
Ternyata pembuktian akan hal ini baru terkuak oleh sajana belanda J. Ingenhousz pada akhir abad ke XVIII yang lalu. Sekaligus mengantarkan kita pada argument logis kebenaran ilmiah al-Qur’an.

  1. 7. Penciptaan yang berpasang-pasangan[18]

Allah berfirman dalam QS. Yasiin(36):36 berikut ini :

Maha suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahu” (QS. Yasiin (36) :36)

Meskipun gagasan tentang “pasangan” umumnya bermakna laki-laki dan perempuan, atau jantan dan betina, ungkapan “maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” dalam ayat di atas memiliki cakupan yang lebih luas. Kini, cakupan makna lain dari ayat tersebut telah terungkap. Ilmuwan Inggris, Paul Dirac, yang menyatakan bahwa materi diciptakan secara berpasangan, dianugerahi Hadiah Nobel di bidang fisika pada tahun 1933. Penemuan ini, yang disebut “parité”, menyatakan bahwa materi berpasangan dengan lawan jenisnya: anti-materi. Anti-materi memiliki sifat-sifat yang berlawanan dengan materi. Misalnya, berbeda dengan materi, elektron anti-materi bermuatan positif, dan protonnya bermuatan negatif. Fakta ini dinyatakan dalam sebuah sumber ilmiah sebagaimana berikut:

“…setiap partikel memiliki anti-partikel dengan muatan yang berlawanan … … dan hubungan ketidakpastian mengatakan kepada kita bahwa penciptaan berpasangan dan pemusnahan berpasangan terjadi di dalam vakum di setiap saat, di setiap tempat.”


[1] Abdullah M. al-Rehaili, Bukti Kebenaran Al-Qur’an, Terj. Purna Sofia Istianati, (Yogyakarta:Padma, 2003) Edisi E-Book http://www.pakdenono.com

[2] Allamah M.H. Thabataba’I, Mengungkap Rahasia Al-Qur’an , terj. A. Malik Madaniy dan Hamim Iiyas, (Bandung:Mizan) http://www.pakdenono.com

[3] Ekspansi merupakan istilah akan adanya pemuaian alam semesta atau dalam kata lain ialah mengembangnya alam semesta ini, bila kita telusuri lebih jauh maka peristiwa ekspansi ini sejalan dengan  pernyatan yang terdapat dalam Surah az-Zariyat (51) :47 yang intinya ialah pada dasarnya alam semesta ini mengalami pengembangan dan isyarat ini pun juga telah dibenarkan dengan kenyataan dari hasil observasi para ilmuwan dewasa ini yang menyatakan bahwa galaksi pada kenyataannya senantisa bergerak mengembang kesegala arah yang dikenal dengan istilah Expanding universe, yang berhasil terkuak dewasa ini.

[4] M. Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an : ditinjau dari aspek kebahasan, isyarat ilmiah, dan pemberitaan gaib. (Mizan, 1997) hal. 171-172

[5] Harun Yahya, Pesona Al-Qur’an. Edisi E-Book. Http:// http://www.harun yahya.com

[6] Lihat diantaranya yang terdapt dalam QS. Surat  Al-Waqiah :57-59, QS. Al-Insan :2, As-Sajdah :7-8, Al-Alaq :1-3,  QS. Al-Qiyamah :36-39, QS. Al-Mursaalat :20-21, dan QS. Al-Mu’minuun : 12-14

[7] Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah,vol. 9 (Jakarta:Lentera Hati,2002). Hal. 166

[8] Ibid, hal. 167

[9] Harun Yahya, Menyingkap Rahasia alam semsesta, Edisi E-Book, http://www.harunyahya.com,

[10]Abdullah M. al-Rehaili, op cit. http://www.pakdenono.com

[11] M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, (Jakarta:lentera Hati, 2002) hal. 367

[12] Awan comulonimbus merupakan salah satu jenis awan hujan yang juga dapat mengahasilkan hujan es, halilintar dan kilat. Awan ini mempunyai benjolan-benjoan pada sisi bawahnya. Awan ini kadang-kadang menyebabkan tornado

[13] Abdullah M. al-Rehaili, op cit. http://www.pakdenono.com

[14] M. Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an : ditinjau dari aspek kebahasan, isyarat ilmiah, dan pemberitaan gaib. (Mizan, 1997) hal. 186

[15] Harun Yahya, Pesona Al-Qur’an. Edisi E-Book. Http:// http://www.harun yahya.com

[16]Pada saat terjadi proses fotosintesis maka seltumbuhan yang mengandung zat hijau (klorofil) akan menghisap zat karbon dioksida dari udara.

[17] M. Quraish Shihab, op cit, hal. 189

[18] [18] Harun Yahya, Pesona Al-Qur’an. Edisi E-Book. Http:// http://www.harun yahya.com


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: