Mufdil’s Weblog


Menyikapi Fenomena Gempa Bumi Di Indonesia
Oktober 13, 2013, 5:27 am
Filed under: Karya Ilmiah

Menyikapi Fenomena Gempa Bumi Di Indonesia
(Pendekatan Sains dan Alquran)
Oleh: Mufdil Tuhri

 

Pendahuluan

Peristiwa gempa bumi yang menimpa Padang pada 30 September 2009 telah merenggut ribuan korban jiwa. Peristiwa tersebut kembali mengingatkan kita pada fenomena yang sama yang menimpa Aceh dan Sumatera Utara 5 tahun sebelumnya, tepatnya 26 Desember 2004 yaitu gempa bumi dahsyat disertai dengan tsunami yang mengakibatkan ratusan ribu orang tewas dan menimbulkan dampak yang amat besar, bukan saja dari segi fisik dan material, bahkan juga psikis-spiritual. Dua peristiwa tersebut merupakan sedikit contoh dari fenomena gempa bumi yang kerap melanda Indonesia dalam beberapa dekade terakhir.

Berdasarkan ilmu kebumian, seluruh wilayah Indonesia memiliki potensi gempa kecuali Kalimantan, yang merupakan satu-satunya daerah bebas gempa dangkal. Para ahli kebumia telah mengetahui bahwa bumi ini terbagi menjadi lempeng-lempeng (plate) tektonik, yang saling bergerak denga kecepatan 5-10 cm/tahun. Di Indonesia terdapat 3 lempeng besar yang saling berinteraksi, yaitu lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik. Interaksi ini menghasilkan serangkaian gunung api aktif yang dikenal dengan “Ring of Fire” (cincin api). Pergesekan atau tubrukan antar lempeng tersebutlah yang menghasilkan gempa. Jalur gempa bumi di Indonesia pun selaras dengan cincin api ini. Jalur gempa melingkari sebelah selatan Indonesia sejajar dengan Kepulauan Mentawai dan Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, kemudian berbelok di Laut Banda hingga Halmahera.

Berbagai pendekatan dilakukan dalam upaya menemukan pemahaman yang tepat dalam menyikapi fenomena gempa bumi di negeri kita ini. Berbagai macam pendapat yang menjelaskan fenomena gempa bumi ini dapat kita temukan dalam beberapa teori yang dikemukan oleh para pakar khususnya dalam ilmu geografi yang secara khusus membahas tentang ilmu bumi terkait erat dengan gempa bumi ini sebagaimana penulis telah jelaskan sebelumnya. Sementara itu, apabila kita kaitkan dengan pemahaman Islam tentang fenomena gempa bumi ini, maka kita tidak boleh hanya menyikapi fenomena ini pada sisi religius dengan mengatakan bahwa fenomena alam termasuk gempa bumi adalah takdir yang telah ditetapkan oleh Allah swt semata. Namun, apabila kita mengkaji secara mendalam maka, akan ditemukan sekian banyak penjelasan didalam Alquran tentang bumi dan fenomena-fenomena yang terkait dengannya, tidak terkecuali dengan teori tentang gempa bumi ini.

Alquran telah menyebutkan fenomena gempa yang termasuk dalam bencana dalam banyak ayat. Kita harus memadukan pemahaman sains dan Alquran agar menghasilkan pemahaman terbaik tentang fenomena gempa bumi di Indonesia ini. Makalah ini akan menggali perspektif Alquran dalam upaya menangkap pesan Alquran dibalik fenomena gempa bumi. Penelitian ini tidak akan menjelaskan secara detail tentang proses terjadinya gempa bumi berdasarkan tinjauan Alquran karena hal tersebut akan lebih tepat apabila kita merujuk langsung kepada berbagai teori tentang terjadinya gempa bumi dalam disiplin ilmu terkait. Oleh karena itu, makalah ini akan menjelaskan secara sekilas tentang isyarat ilmiah Alquran tentang gempa bumi dan upaya menyikapi fenomena gempa bumi dalam perspektif Alquran. Baca lebih lanjut



KESADARAN TENTANG PRINSIP PEMBELANJAAN HARTA DALAM AL-QURAN SEBAGAI TINDAKAN PREVENTIF DALAM UPAYA MEMBERANTAS BUDAYA KORUPSI
Oktober 3, 2013, 5:04 am
Filed under: Karya Ilmiah

 KESADARAN TENTANG PRINSIP PEMBELANJAAN HARTA DALAM AL-QURAN SEBAGAI TINDAKAN PREVENTIF DALAM UPAYA MEMBERANTAS BUDAYA KORUPSI

Oleh: Mufdil Tuhri

A.    Pendahuluan

      Persoalan korupsi beberapa tahun terakhir ini amat santer dan hangat dibicarakan dalam masyarakat, bahkan sangat banyak dimuat dalam berbagai media cetak dan elektronik di tanah air yang tercinta ini. Dalam kasus Indonesia, Korupsi melibatkan tidak lagi hanya elit pemerintahan atau pejabat publik, tetapi juga kalangan partai, pengusaha, tokoh-tokoh kampus, organisasi non pemerintah, bahkan para pemuka agama dan adat. Akibatnya, korupsi telah merusak tatanan dan sistem kerja lembaga pemerintahan, mental masyarakat, hancurnya fondasi perekonomian negara yang berakibat merosotnya daya saing dan semakin terpuruknya masyarakat miskin. Oleh karenanya tepatlah istilah yang diperguankan oleh Bung Hatta puluhan tahun silam, yakni korupsi di Indonesia telah menjadi suatu budaya (budaya korupsi).

Korupsi Sebagai budaya, tidak terlepas dari hakikat manusia sebagai makhluk konsumtif. Konsumsi sendiri diartikan sebagai pemakaian barang untuk mncukupi suatu kebutuhan secara langsung. Manusia yang melakukan korupsi berarti telah melakukan tindakan diluar aturan syara’. Perilaku korupsi telah melanggar aturan tentang pola konsumsi yang dibenarkan didalam Islam. Jika Korupsi digolongkan sebagai perilaku zalim dan melampaui batas,  maka orang yang melakukan korupsi berarti telah menyalahi pola konsumsi yang dibenarkan didalam Islam yaitu pemakaian barang yang tidak terdapat unsur ketidakadilan (perbuatan zalim), tabzir (boros, mubazir), dan israf (berlebih-lebihan dan melampaui batas)[1]. Disinilah letak urgensi tentang kesadaran pola konsumsi menurut al-Quran dalam menekan budaya korupsi yang merebak dalam masyarakat.

Berdasarkan fenomena diatas dan keterkaitan yang kuat antara budaya korupsi dan perilaku konsumtif manusia, maka dalam makalah ini penulis akan menjelaskan tentang bagaimana bentuk perilaku korupsi dalam pandangan al-Quran, apa kaitan antara tindakan korupsi dan perilaku konsumsi yang salah menurut Islam, dan apa saja upaya memberantas budaya korupsi melalui pola konsumsi dalam Islam perspektif al-Quran.

Baca lebih lanjut



Konsepsi Pendidikan Karakter dalam Membentuk Insan Muslim yang berkualitas (Tinjauan Surah al-Isra’ ayat 23)
Oktober 3, 2013, 5:00 am
Filed under: Karya Ilmiah

Konsepsi Pendidikan Karakter dalam Membentuk Insan Muslim yang berkualitas (Tinjauan Surah al-Isra’ ayat 23)
Oleh: Mufdil Tuhri

  • Pendahuluan

Dewasa ini, Pembicaraan tentang aspek moralitas menjadi hangat dibicarakan khususnya dalam dunia pendidikan. Banyak yang mengatakan bahwa masalah terbesar yang dihadapi bangsa Indonesia terletak pada aspek moral. Terbukti dengan banyaknya berita tentang tawuran pelajar, kasus-kasus narkoba, pembunuhan, pemerkosaan,  hingga kasus korupsi yang merajalela dari tingkat elite hingga level yang paling bawah sekalipun.

Kenyataan yang demikian menunjukkan bahwa dunia pendidikan harus memberi peran penting dalam menangkal dekadensi moral bangsa dalam upaya menyiapkan generasi muda masa depan yang lebih baik. Terkait hal ini, disadari bahwa tujuan pendidikan pada dasarnya adalah memperbaiki moral dalam istilah lain dikenal dengan memanusiakan manusia.

Belakangan, muncul gagasan akan pentingnya pendidikan karakter sebagai solusi menjawab permasalahan moral dalam dunia pendidikan di Indonesia. Pendidikan karakter merupakan bagian dari pendidikan nilai (values education) melalui sekolah. Kedepan, sekolah tidak hanya bertanggung jawab dalam mencetak peserta didik yang unggul dalam ilmu penggetahuan dan teknologi tetapi juga dalam diri, karakter dan kepribadian. Kerenanya, mencari konsep pendidikan karakter menjadi sangat urgen dalam upaya menyiapkan anak didik yang unggul, beriman, profesional dan berkepribadian sebagaimana dituntut dalam tujuan pendidikan.

Seorang anak dalam mencari nilai-nilai hidup, harus mendapat bimbingan sepenuhnya dari pendidik, karena menurut ajaran Islam, saat anak dilahirkan dalam keadaan lemah dan suci/fitrah, dan alam disekitarnyalah yang akan memberi corak warna terhadap nilai hidup atas pendidikan seorang anak, khususnya pendidikan karakter.Karena itu Islam sangat memperhatikan masalah pendidikan terhadap anak dan memberikan konsep secara kongkrit yang terdapat dalam al-Quran dan penjelasan Rasulullah SAW yang ada dalam hadits.

Didalam al-Quran terdapat ayat didalam Surah al-Isra ayat 23 yang spesifik menjelaskan tentang pendidikan karakter bagi anak. Dari sini penulis akan mencoba menguraikan perspektif al-Quran tentang pendidikan karakter dalam upaya membentuk insan muslim yang berkualitas.

Baca lebih lanjut



LAPORAN PENELITIAN TAKHRIJ AL-HADITS Oleh: MUFDIL TUHRI
Januari 1, 2013, 5:49 am
Filed under: Makalah

 

HADITS YANG DITELITI

 

قَالَ رسول الله صلى الله عليه وسلم :لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

  1. 1.     Penelusuran Hadits

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari kitab al-Mu’jam al-Mufahras li Alfâzh al-Hadîts al-Nabawî[1], dengan menggunakan kata امن  maka ditemukan bahwa hadits ini terdapat dalam kitab Shahîh al-Bukhâri, Shahih al-Muslîm, Sunan al-Turmudzi, Sunan an-Nasâ`i, Sunan Ibnu Mâjah dan Musnad Ahmad Ibnu Hanbal. Dengan keterangan lengkap sebagai berikut:

لا يؤمن أحدكم حتي يحب.. م إيمان 71، 73،،خ إيمان 7،، ت قيامة 59،، ن إيمان 5519، 44،، جه مقدمة 9،، دى رقاق 29،،حم 3. 176، 177، 29، 27، 35، 373، 375، 378، 389. 4. 243، 446.

  1. 2.     Inventarisasi Hadits

      Inventarisasi Hadits yang akan dipaparkan berikut ini adalah hadits-hadits yang diperoleh dari kitab asli berdasarkan informasi yang diperoleh dari al-Mu’jam al-Mufahras li Alfâzh al-Hadîts al-Nabawî, berdasarkan pada matan hadits yang memiliki kesamaan dengan hadits yang diteliti atau paling mendekati karena setelah ditelaah dengan mengikuti penggalan matan  لا يؤمن أحدكم حتي يحب  ternyata terdapat berbagai hadits yang berbeda dengan hadits yang diteliti. Khusus Hadits yang terdapat dalam Musnad Imam Ahmad ditemukan dua hadits yaitu satu hadits memiliki redaksi matan yang persis sama dengan hadits yang diteliti dan satu hadits paling mendekati. Sehingga jumlah hadits yang ditemukan semuanya berjumlah delapan hadits.

     

  1. Imam Bukhari menyebutkan dalam Shahîh al-Bukhâri (Kitab al-Iman, Bab min al-Iman an yuhibba liakhihi ma yuhibbu linafsihi, Nomor Hadits 13 halaman 16)

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ شُعْبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَنْ حُسَيْنٍ الْمُعَلِّمِ قَالَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ  عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ[2]

 

  1. Muslim menyebutkan dalam Shahîh Muslim (Kitab al-Iman, Bab al-Dalil ‘ala an min Khishal al-Iman an yuhibba liakhihi al muslim ma yuhibbu li nafsihi min al-Khair, Nomor Hadits 71 halaman 25)

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ قَتَادَةَ يُحَدِّثُ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ أَوْ قَالَ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ[3]

  1. Al-Turmudzi menyebutkan dalam Sunan al-Turmudzi (Bab sifat al-Qiyamah wa al-Raqaiq wa al-Wara’, Nomor Hadits 2515 halaman 594)

حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ[4]

  1. Al-Nasa’iy menyebutkan dalam Sunan al-Nasa’iy (Kitab al-Iman wa al-Syara’ihi, Bab ‘Alamat al-Iman, Nomor Hadits 5062 halaman 803)

أَخْبَرَنَا مُوسَى بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ حُسَيْنٍ وَهُوَ الْمُعَلِّمُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ مِنْ الْخَيْرِ[5]

  1. Ibn Majah menyebutkan dalam Sunan Ibn Mâjah (Dalam al-Muqaddimah, Bab fi al-Iman, Nomor hadits 66 halaman 25)

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ قَتَادَةَ يُحَدِّثُ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ  أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ أَوْ قَالَ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ[6]

  1. Imam Ahmad menyebutkan dalam Al-Musnad (Juz 3, Nomor Hadits 176)

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ وَحَجَّاجٌ قَالَ حَدَّثَنِي شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ قَتَادَةَ يُحَدِّثُ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ أَوْ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ[7]

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

  1. Ad-Darimi menyebutkan dalam Sunan al-Dârimi (fi al-Raqa`iq, Bab la yu`min ahadukum hatta yuhubba li akhihi ma yuhibbu linafsihi, Nomor Hadits 2736 Halaman 211)

أَخْبَرَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ[8]

     Setelah memaparkan inventarisasi hadits dari kitab asli maka dapat disimpulkan bahwa dari segi matan hadits, ditemukan tiga macam variasi matan hadits yang paling mendekati dengan hadits yang diteliti yaitu penambahan kalimat لِأَخِيهِ أَوْ قَالَ لِجَارِهِ  setelah حَتَّى يُحِبَّ sebagaimana ditemukan pada Redaksi Matan dari Muslim dan Ibn Majah, penambahan kalimat لِأَخِيهِ أَوْ لِجَارِهِ setelah حَتَّى يُحِبَّ sebagaimana ditemukan pada Redaksi Matan Hadits I dari Imam Ahmad, dan penambahan kalimat مِنْ الْخَيْرِ setelah لِنَفْسِهِ sebagaimana ditemukan pada Redaksi Matan dari al-Nasa’iy. Sedangkan radaksi matan hadits dari Imam Bukhari, Hadits ke 2 Imam Ahmad dan al-Darimi persis sama dengan Hadits yang diteliti.

  1. 3.     Ranji Sanad
    1. a.      Ranji Sanad Imam Bukhari

 

 

 

  1. b.      Ranji Sanad Muslim


 

  1. c.      Ranji sanad al-Turmudzi

 


 

  1. d.     Ranji Sanad al-Nasa`iy

 


 

 

  1. e.      Ranji Sanad Ibnu Majah


 

 

  1. f.        Ranji Sanad Imam Ahmad

1. Hadits I


            2. Hadits II


 

  1. g.      Ranji Sanad ad-Darimi

 


 


  1. h.     Ranji Gabungan


 


Dilihat dari skema Ranji Gabungan diatas berdasarkan pada pengamatan terhadap rawi-rawi di setiap thabaqah maka dapat diidentifikasi bahwa sanad tersebut adalah sangat variatif sekali sehingga apabila ditinjau dari sisi kuantitas perawi maka hadits ini digolongkan pada Hadits Fard,  Hadits Aziz, sekaligus juga Hadits Masyhur yaitu Fard pada awal thabaqah, Aziz pada pertengahan thabaqah dan Masyhur pada akhir thabaqah.

Suatu Hadits dikategorikan sebagai Fard Mutlak apabila penyendirian rawi ditemukan pada Ashlu al-Sanad  yaitu Tabi’in saja atau seluruh sanad[9] maka hadits ini apabila dilihat dari tingkat tabi’in (thabaqah kedua) maka terdapat penyendirian Qatadah sehingga hadits ini adalah Hadits Fard Mutlak. Sementara itu suatu hadits dikategorikan sebagai Aziz apabila terdapat satu thabaqah saja didapati dua orang perawi[10], maka pada apabila dilihat pada thabaqah ketiga terdapat dua orang perawi saja yaitu Syu’bah dan Husain al-Mu’allim sehingga hadits ini adalah Hadits Aziz. Sedangkan suatu hadits dikategorikan sebagai Masyhur apabila terdapat banyak orang perawi dalam satu thabaqah saja yaitu tiga orang atau lebih[11] sehingga apabila dilihat pada thabaqah keempat terdapat banyak perawi yaitu para perawi setelah Syu’bah dan Husain al-Mu’allim yang berjumlah tujuh orang perawi, dan seterusnya pada thabaqah kelima terdapat enam orang perawi.

  1. 4.     DATA PARA PERIWAYAT

Analisis sanad dalam pemaparan data periwayat berikut ini meliputi penyajian biografi masing-masing periwayat, analisis kebersamaan sanad, kualitas pribadi atau kapasitas intelektual periwayat. Khusus untuk tingkatan Ta’dil dan Jarh, penulis berpegang pada rumusan Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib dalam bukunya Ushûl al-Hadîts.[12]

  1. a.      Al-Dârimiy

Nama lengkapnya adalah ‘Abdullah ibn Abd al-Rahman ibn al-Fadl ibn Bahrâm ibn Abd al-shamad al-Dârimiy at-Tamîmîy Abu Muhammad As-Samarqandiy al-Hâfidz[13]. Ia Lahir pada tahun 181 H dan wafat pada tahun 250 H.

Diantara Guru-gurunya adalah Marwan ibn Muhammad al-Thathiriy, Yazîd ibn Harûn, Yahya ibn Hammad, Yahya ibn Yahya al-Naisâburiy. Sedangkan diantara murid-muridnya adalah al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Tirmidzi

Komentar ulama terhadapnya dapat dilihat dari informasi yang dikemukakan oleh al-Mizzi didalam Tahdzîb al-Kamâl[14]  yang menyatakan bahwa Abu Hatim ibn Hibban mengatakan كان من الحفاظ المتقنين , Al-Hafidz Abu Bakar al-Khatib mengatakan الإتقان له مع الثقة والصدق. Sementara itu Ibn Hajar didalam Tahdzîb al-Tahdzîb[15] juga mengemukakan diantara pendapat para ulama tentangnya yaitu Ibn Abi Hatim dari Bapaknya yang mengatakan ثقة صدوق, Al-Khatib meriwayatkan dari Ahmad bin Hanbal mengatakan كان ثقة, dan tidak ditemukan ulama yang memberikan penilaian jarh terhadapnya.

Analisis:

            Dilihat dari aspek ketersambungan sanad, data diatas memperlihatkan bahwa ad-Darimy (seorang mukharrij) tercatat sebagai murid langsung dari gurunya Yazidibn Harun. Dengan melihat pada tahun hidup al-Darimi yaitu 181-250 M dan Yazid ibn Harun yaitu 117-206 H maka mereka adalah mu’asharah (semasa) sementara itu al-Darimi meriwayatkan hadits dengan lafadz akhbarana mengindikasikan adanya Liqa (pertemuan langsung) yaitu menerima langsung hadits dari gurunya Yazin ibn Harun secara Sama’. sehingga dapat dinilai sebagai sanad yang Muttasil. Sementara itu dari aspek ke-tsiqahan, data diatas memperlihatkan bahwa ad-Darimiy adalah seorang yang Tsiqah serta dari sisi tingkatan Ta’dil, ia berada pada tingkatan ketiga.

  1. b.     Yazid ibn Harun

Nama lengkapnya Yazid ibn Harun ibn Zadiy, Pendapat lain mengatakan: Ibn Zazani ibn Tsabit al-Sulamiy  Abu Khalid al-Wasithiy. Lahir pada tahun 117 H dan wafat pada tahun 206 H.

Diantara Guru-gurunya adalah Syraik ibn Abdullah, Syu’bah ibn al-Hajjaj, Syaiban ibn Abd ar-Rahman al-Khawiy. Sedangkan diantara para Muridnya adalah Abdullah ibn al-Shibah al-‘Athar, Abdullah ibn Muhammad al-Dhaif, Abdullah ibn Munir al-Marwaziy

Komentar ulama terhadapnya dapat dilihat dari informasi yang dikemukakan oleh al-Mizzi didalam Tahdzîb al-Kamâl[16]yang menyatakan bahwa

Abu Thalib mengatakan dari ahmad ibn Hanbal كان حافظا متقنا للحديث  , Ishaq ibn Mansur dari Yahya ibn Ma’in ثقة, Ali ibn Madiniy mengatakan هو من ثقة, dan Al-Ajliy mengatakan ثقة ثبت في الحديث.

Analisis:

            Dilihat dari aspek ketersambungan sanad, data diatas memperlihatkan bahwa Yazidibn Harun tercatat sebagai murid langsung dari gurunya Syu’bah ibn al-Hajjaj. Sementara itu tidak ditemukan catatan tentang al-Darimi sebagai muridnya akan tetapi ditemukan istilah wa akharun yang mengindikasikan ia bukanlah murid yang masyhur baginya akan tetapi pembuktian terbalik telah membuktikan ketersambungan sanad keduanya sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya pada analisis terhadap al-Darimi. Sementara itu dengan melihat pada tahun hidup Yazidibn Harun yaitu 117-206 M sedangkan Syu’bah ibn al Hajjaj yaitu 82-160 H maka mereka adalah mu’asharah (semasa) dan juga Yazidibn Harun meriwayatkan hadits dengan lafadz akhbarana mengindikasikan adanya Liqa (pertemuan langsung) yaitu menerima langsung hadits dari gurunya Yazin ibn Harun secara Sama’ Maka dapat dinilai sebagai sanad yang Muttasil. Sementara itu dari aspek ke-Tsiqahan, data diatas memperlihatkan bahwa Yazidibn Harun adalah seorang yang Tsiqah serta jika dilihat dari tingkatan Ta’dil maka maka ia dapat digolongkan berada pada tingkatan ketiga.

 

 

  1. c.      Syu’bah ibn al-Hajjaj

Nama lengkapanya Syu’bah ibn al-Ward al-‘Atkiy al-Azdiy, lahir pada tahun 82 H dan wafat pada tahun 160 H.

Diantara Guru-gurunya adalah al-Qasim ibn Mahran, Qatadah ibn Da’amah, Qurrah ibn Khalid as-Sudusy, dan diantara Murid-muridnya adalah Yazid ibn Zari’, Yazid ibn Harun, Ya’qub ibn Ishaq al-Hadramiy.

Komentar ulama terhadapnya dapat dilihat dari informasi yang dikemukakan oleh al-Mizzi didalam Tahdzîb al-Kamâl[17]yang mengemukakan bahwa Muhammad ibn Sa’ad mengatakan كان ثقة مأمون ثبتا حجة صاحب الحديث, sementara itu dikutip dari Tahdzîb al-Tahdzîb[18]karya Ibn Hajar bahwa Yazid ibn Zari’ mengatakan كان من أصدق الناس في الحديث, Al-‘Ajliy mengatakan ثقة ثبت في الحديث وكان يخطاء في أسماء الرجال قليلا.

Analisis:

Dilihat dari aspek ketersambungan sanad, data diatas memperlihatkan bahwa Syu’bah ibn al Hajjaj adalah murid langsung dari gurunya Qatadah ibn Da’amah, dan Yazid ibn Harun tercatat sebagai muridnya, dan juga dilihat pada tahun hidup Syu’bah ibn al Hajjaj yaitu 82-160 M dan Qatadah ibn Da’amah yaitu 60-100 H maka mereka adalah mu’asharah (semasa) sementara itu Syu’bah ibn al Hajjaj meriwayatkan hadits dengan lafadz akhbarana mengindikasikan adanya Liqa (pertemuan langsung) yaitu menerima langsung hadits dari gurunya Qatadah ibn Da’amah secara Sama’ Maka dapat dinilai sebagai sanad yang Muttasil. Sementara itu dari aspek ke-Tsiqahan, data diatas memperlihatkan bahwa Syu’bah ibn al Hajjaj adalah seorang yang Tsiqah serta jika dilihat dari tingkatan Ta’dil maka ia dapat digolongkan berada pada tingkatan ketiga.

 

  1. d.     Qatadah ibn Da’amah

Nama lengkapnya adalah Qatadah ibn Da’amah ibn Qatadah ibn ‘Aziz ibn ‘Amru ibn Rabi’ah ibn ‘Amru ibnu al-Harits ibn Sudûs. Ia lahir pada tahun 60 H ada yang mengatakan 61 H dan wafat pada tahun 117 H ada yang mengatakan 118H.

Tercatat diantara guru-gurunya adalah Anas ibn Malik, Badil ibn Maisarah al-‘Aqili, Basyar ibn ‘Aiz al-Manqiri, dan Murid-muridnya adalah Salam ibn Abi Mati’, Syu’bah ibn al-Hajjaj, Syaiban ibn Abd al-Rahman al-Nahwi, Shalih al-Mari.

Al-Mizzi didalam Tahdzîb al-Kamâl[19]mengemukakan komentar ulama terhadapnya diantaranya adalah Yahya ibn Ma’in yang mengatakan ثقة,

و قال ابن سعد : كان ثقة مأمونا ، حجة فى الحديث ، و كان يقول بشىء من القدر .

و قال همام : لم يكن قتادة يلحن .

و قال ابن حبان فى ” الثقات ” : كان من علماء الناس بالقرآن و الفقه ، و من

حفاظ أهل زمانه ، مات بواسط سنة سبع عشرة ، و كان مدلسا ، على قدر فيه .

 

 

 

 

 


            [1] A.J. Wensinck, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfâzh al-Hadits al-Nabawi, Leiden:Drill, 1965. Hal. 108

            [2] Al-Imam Abi Abdillah Muhammad ibn Ismail ibn al-Mughirah ibn Bardizbah al-Bukhari al-Ja’fi, Shahih al-Bukhari, Cetakan Lengkap, Beirut:Dar al-fikr, 2004. Hal.16

                [3] Al-Imam ibn al-Husain Muslim al-Hajjaj, Shahih Muslim, Jilid 1, Beirut:Dar ibnu al-Hatsim, 2001. Hal. 25

                [4] Abu ‘Isa Muhammad ibn ‘Isa ibn Surah al-Turmudzi, Sunan al-Turmidzi wa huwa al-Jâmi’ al-Shahîh, Cetakan Lengkap, Beirut:Dar al-Kutub, 2006. hal. 594

                [5] Al-Imam al-Hafizh Abi Abd al-Rahman Ahmad Syu’aib ibn ‘Ali al-Khurasani al-Nasa’iy, Sunan al-Nasa’iy, Cetakan Lengkap,  Beirut: Dar al-Kutub, 2005. Hal. 803.

                [6]

[7] Al-Imam Ahmad ibn Hanbal, al-Musnad, Beirut:Dar al-Fikr, tt, Juz 3. Hal.

                [8] Al-Imam Abi Muhammad Abdillah ibn Bahran al-Darimi, Sunan al-Dârimi, Jilid 2, Beirut:Dar al-Fikr,2005. Hal. 211.

                [9] Fatchur Rahman, Ikhtisar Mushthalahul Hadits,  Bandung: PT. AlMa’arif, 1974. Hal. 98

                [10] Ibid, hal. 94

                [11] Ibid, hal. 86

                [12] Lihat laqab-laqab ta’dil dan jarh serta tingkatannya dalam Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib, Ushûl al-Hadîts, Beirut:Dar al-Fikr, 2006, hal. 178-179

                [13] Yusuf ibn Zaki Abd al-Rahman Abu al-Hajjaj al-Mizzi, Tahdzîbul Kamâl, Juz 5, hal. 446 (selanjutnya disebut al-Mizzi, Tahdzîb al-Kamâl).

                [14] Ibid, hal. 446.

                [15] Ahmad ibn ‘Ali ibn Hajar Abu al-Fadhal al-‘Asqalani al-Syafi’I, Tahdzîb al-Tahdzîb, Juz 5, Beirut:Dar al-Fikr, 1984, hal. 261. (selanjutnya disebut Ibn Hajar, Tahdzîb al-Tahdzîb)

                [16] Tahdzîbul Kamal, Juz 11, hal. 80

            [17] Tahdzîbul Kamal, Juz 4, hal. 583

                [18] Tahdzib al-Tahdzib, Juz 5, hal. 308-314

                [19] Tahdzîbul Kamal, Juz 8, hal. 326-333



JAMINAN KEKERABATAN DALAM AL-QURAN SEBAGAI SOLUSI MASALAH KEMISKINAN
Desember 19, 2012, 12:50 pm
Filed under: Makalah | Tag: , , ,

Jaminan Kekerabatan Dalam Al-Quran
Sebagai Solusi Masalah Kemiskinan
Oleh: Mufdil Tuhri[1]

A.    Pendahuluan

DSC02322

              Problem Kemiskinan yang mendera umat dewasa ini, dalam kenyataannya lebih banyak dianggap sebagai suatu masalah yang penyebab utamanya selalu dikaitkan dengan lemahnya individu dan sumber daya manusia itu sendiri. karenanya, penangulangan problem kemiskinan semata-mata kepada sumbangan sukarela dan keinsafan pribadi, tidak dapat diandalkan. Teori ini telah dipraktekkan berabad abad lamanya, namun hasilnya tidak pernah memuaskan.[2]

      Sementara itu, masyarakat sering kali tidak merasa bahwa mereka mempunyai tanggung jawab sosial, walaupun ia telah memiliki kelebihan harta kekayaan. Karena itu diperlukan adanya penetapan hak dan kewajiban agar tanggung jawab sosial dapat terlaksana dengan baik. Salah satu prinsip yang telah ditetapkan oleh al-Quran terkait dengan hal ini adalah adanya hubungan kekerabatan dan kekeluargaan yang terbangun dalam sikap tolong menolong dan saling melengkapi.

Kenyataannya, tidak jarang ditemukan masih adanya masyarakat yang tidak menyadari akan prinsip kekerabatan didalam Islam ini. Orang-orang kaya biasa menginfakkan hartanya ke mesjid, lembaga-lembaga sosial, panti asuhan, kegiatan-kegiatan amal dan lain sebagainya. Hal ini tidak dilarang didalam Islam tetapi bahkan dianjurkan akan tetapi sementara mereka menunjukkan kepedulian kepada lingkungan sosialnya kebanyakan lupa akan lingkungan keluarga dan karib kerabat mereka yang masih layak untuk dibantu, bahkan harus segera ditanggulangi. Alangkah lebih adil jika kesulitan kerabat ini diselesaikan oleh keluarga terdekatnya pula. Baca lebih lanjut



SOLUSI AL-QURAN DALAM UPAYA PENGENTASAN KEMISKINAN
Oktober 22, 2012, 12:49 pm
Filed under: Makalah | Tag: ,

Oleh: Mufdil Tuhri[1]

A.    Pendahuluan

Sebuah hasil survey yang dipublikasikan oleh Sam Mountford (Direktur Riset GlobeScan) melalui BBC pada 17 Januari 2012 menempatkan kemiskinan sebagai masalah paling serius yang dihadapi masyarakat dunia disbanding masalah perubahan iklim, terorisme, dan perang. Prosentasi survey adalah sebagai berikut; kemiskinan ekstrim 71%, lingkungan 64%, meningkatnya harga pangan dan energy 63%, terorisme dan HAM serta penyebaran penyakit 59%, malah ekonomi dunia 58%, perang 57%. Penelitian ini dilakukan terhadap 25 ribu orang lebih dari 23 negara.[2]

Dalam Konteks Indonesia, Salah satu problematika mendasar yang saat ini tengah dihadapi problematika kemiskinan. Menurut data Bank Dunia 1978, dari seluruh penduduk Indonesia yang waktu itu berjumlah 132 juta, 72 juta jiwa dalam keadaan miskin dan 55% dibawah garis kemiskinan. Menurut data statistika dari tahun 1976 hingga 2000, angka kemiskinan di Indonesia berubah-ubah, namun masih tetap tergolong besar. Jumlah penduduk miskin pada tahun 1998 adalah 49,5 juta orang atau 24,2 % dari total penduduk Indonesia yang dirinci dengan 31,9 juta orang berada di pedesaan atau 25,7% dan 17,6 juta orang diperkotaan atau 21,9%. Data yang dibuat terakhir oleh BPS menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin mendekati 50 juta jiwa. Dari jumlah tersebut 32,7 juta jiwa atau 64,4 tinggal dipedesaan[3]. Kenyataan ini turut berimbas pada angka pengangguran yang juga sangat tinggi, yaitu sekitar 28 juta jiwa, atau 12,7 persen dari total penduduk.[4]

Fakta tentang hasil survei diatas menunjukkan kenyataan sosial masyarakat bahwa kemiskinan merupakan masalah sosial yang patut menjadi fokus perhatian banyak kalangan mulai dari ekonom, sosiolog, dan budayawan, tidak terkecuali pendekataan al-Quran yang berupaya untuk memberikan solusi terhadap problem sosial ini. Pembicaraan tentang masalah ini banyak diangkat dalam berbagai kesempatan seminar, diskusi, media masa dan lain sebagainya dengan berupaya mengetengahkan tolak ukur atau indicator kemiskinan, sebab-sebab terjadinya kemiskinan serta cara-cara mengatasinya.

Bagi Umat Islam yang meyakini al-Quran sebagai pedoman hidupnya, dalam sebuah pretensi mengungkapkan salah satu ayatnya:”Sesungguhnya al-Quran ini menunjukkan kepada system yang paling lurus”[5]. Tentu untuk membuktikan klaim ayat ini perlu dilakukan kajian komprehensip mengenai topik kemiskinan dalam al-Quran.  Berdasarkan dengan itu, tulisan ini akan mencoba menjelaskan tentang wawasan al-Quran tentang kemiskinan melalui pendekatan tematik[6] hingga diharapkan akan dapat diperoleh suatu gambaran yang utuh dan objektif mengenai kemiskinan dari sudut pandang al-Quran. Pembicaraan ini akan berangkat dari perspektif al-Quran tentang miskin, sebab-sebab terjadinya kemiskinan hingga solusi yang ditawarkan al-Quran dalam upaya pengentasan kemiskinan tersebut.

Baca lebih lanjut



insyaallah
Maret 5, 2010, 4:03 am
Filed under: Uncategorized

insyaallah minggu depan saya akan mulai menulis lagi dan saya akan selalu posting tulisan saya setiap minggu.